Obsesi Dibelenggu Perbedaan Kepercayaan Iman

Obsesi Dibelenggu Perbedaan Kepercayaan Iman

Penulis: Delfi Ana Harahap

Gagasanonline.com – Sejak saat itu, sampai tiga pekan kemudian, si durjana sering menganiayaku habis-habisan. Demi Tuhan, kuseru nama-Mu. Di manakah Engkau saat ini, Ya Robb? Walau dalam kelam kehidupan, kuyakinkan senantiasa, kutanamkan dalam jiwaku, nun di sana, Dia sang pengubah tetaplah hadir.

Begitulah bunyi sebagaian sinopsis yang ada pada buku ini. Novel Tuhan, Jangan Tinggalkan Aku merupakan kisah nyata perjalanan hidup Ennie Van Moorsel Arief, yang merupakan adik kandung dari Pipiet Senja si penulis.

Ennie Van Moorsel Arief merupakan anak ke dua dari tujuh bersaudara. Sejak kecil Ennie telah merasakan kegoyahan dalam hal keimanan pada Tuhan dan agama Islam. Ia kerap kali melarikan diri ketika sang kakak (Pipiet Senja) mengajaknya mengaji. Ennie lebih memilih bersembunyi di atas pohon yang paling tinggi. Ennie semakin meragukan keimanannya ketika ia lebih sering berada di rumah salah seorang tetangga yang beragama Nasrani. Di sana ia disuguhi kue-kue enak, diajarkan bermain piano dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Kemudian tanpa sepengetahuan orang tuanya, Ennie berpacaran dengan Sinaga, anak seorang pendeta Protestan, itu semua sebagai ungkapan kekecewaan dirinya atas keadaan keluarganya yang semakin semberaut. Gaji ayahnya sebagai tentara kala itu tak cukup untuk membiayai keluarga, Pipiet Senja yang sedari kecil menderita penyakit kelainan darah mengharuskan keluarga ini mengeluarkan banyak dana untuk kesehatan Pipiet. Puncak dari rasa depresi Ennie membuatnya melakukan diet ekstrim, hingga berat badannya menyusut sampai 35 kilogram.

Baca: 152 Tembang untuk Ragam Kehidupan

Ennie semakin jauh dari Tuhan, ia tak pernah lagi melakukan salat dan hal lainnnya yang berbau dengan keagamaan.

Setelah menganggur selama setahun, Ennie kembali melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Yogyakarta. Namanya seketika melejit karena tergabung dalam geng perempuan elit kampus, di mana hampir semua temannya beragama Kristen. Kalung salib sering menghiasi leher Ennie, serta patung bunda Maria diletakkannya tepat di atas meja bersama dengan buku-buku pelajaran. Ennie senang berteman dengan mereka, ia bisa banyak mengetahui apa saja yang dilakukan orang-orang kaya. Hal yang membuatnya semakin ingin menjadi orang kaya, bagaimanapun caranya.

Suatu ketika Ennie berpacaran dengan salah seorang pria beristri yang dikenalnya di club malam, hal yang membuat reputasinya hancur, terusir dari kos-kosan dan memutuskan berhenti melanjutkan pendidikan. Lalu mulailah ia bekerja di salah satu travel perjalanan, di mana karirnya dimulai. Ennie dekat dengan pemilik perusahaan, seorang pria tua yang telah beristri tapi tak memiliki anak. Ennie yang sedari kecil memiliki obsesi untuk menjadi orang kaya, dengan senang hati menerima lamaran si bos. Si bos akhirnya berpindah keyakinan  menjadi Islam untuk menikahi Ennie. Di awal pernikahan semuanya berjalan baik, Ennie dan keluarga dilimpahi kekayaan. Namun hal itu tak berlangsung lama, Ennie sering diperlakukan kasar. Si suami kerap merendahkan Ennie, ia juga berselingkuh dengan banyak gadis muda, serta kembali berpindah ke agama sebelumnya.

Baca: Sepasang Kaos Kaki Hitam (SK2H)

Setalah bercerai dengan si suami, Ennie pergi ke Belanda, menemui kekasih barunya yang dikenal melalui dunia maya. Namun ekspetasi tak sesuai dengan realita, sesampainya di Belanda Ennie dan Peter anak lelakinya yang masih kecil diperlakukan bak binatang oleh Gez, lelaki Belanda tulen yang angkuh dan psikopat. Ennie dan anaknya kerap tak diberi makan, bahkan Peter dikurung di kamar mandi sampai hampir mati. Gez juga memiliki kelainan seksual, ia menyiksa dan memasukkan benda apa saja ke kemaluan Ennie. Hal yang membuat Ennie tak lagi bisa menikmati persenggamaan, vaginanya rusak permanen.

Ketika Ennie merasa hidupnya tak lagi ada pilihan, dan Tuhan yang ia harapkan tak kunjung datang. Ia bersaksi demi Tuhan manapun, ia pasrah ia meminta pertolongan. Hingga sebuah keajaiban berhasil mengantarkannya dan Peter pada Paul, pria Belanda gendut yang baik hati. Ia menerima Ennie dan Peter dengan baik. Hingga Ennie resmi dibaptis menjadi penganut Katholik Roma pada 5 Maret 1987, dipermandikan di gereja Sint Vitus-Belanda oleh Pastor Cornelieus Simoneus. Ennie berpindah agama bukan karena untuk menikah dengan Paul, melainkan dia menyakini agama Katholik kala itu sebagai penyandar diri.

Namun waktu berkata lain, setelah beberapa tahun menganut Kristen Roma Ennie masih ditimpa beberapa musibah, bahkan ia hampir mati. Hingga sebuah mimpi berhasil menghantarkannya kembali pada Islam. Ia pulang ke Indonesia seorang diri, dengan segala beban dan perasaan penuh dosa ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan sang ibu, tanda ia telah kembali pada Allah SWT.

Baca: Penderitaan Wanita yang Tertindas Budaya Patriarki

Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dalam novel ini, tentang ketabahan, obsesi, dan keimanan. Pipiet Senja si perempuan pintar yang selalu juara kelas terpaksa berhenti bersekolah akibat penyakit kelainan darah yang terus menggerogoti tubuhnya, membuatnya lebih murung dan suka duduk sendirian di kuburan. Namun semangat, ketabahan dan keimanannya pada Allah menghantarkannya menjadi penulis senior Indonesia.

Ketabahan Ayah Ennie juga menjadi sorotan dalam novel ini, seorang tentara dengan gaji pas-pasan yang harus menghidupi tujuh anak, dan satu istri. Ketika istirnya terkena penyakit depresi, dan kedua anaknya menderita kelainan darah ia tetap tabah dan terus mengusahakan ketiga orang itu agar sembuh.

Memoar yang dituangkan dalam buku ini ditulis dengan sangat baik, lugas tanpa diksi. Konfliknya tajam dan terus menanjak, sehingga tidak membosankan saat membacanya. Membaca memoar ini membuat pembaca seolah merasakan kepedihan yang sama dengan tokoh di dalam cerita. Empati akan mengalir, kemudian berwujud menjadi simpati.

 Judul : Tuhan, Jangan Tinggalkan Aku

Penulis : Pipiet Senja

ISBN : 978-979-26-2337-6

Halaman : vi + 202

Tahun Terbit : Cetakan II, 2008

Penerbit : Zikrul Hakim

Penulis: Delfi Ana Harahap
Editor: Bagus Pribadi
Foto: Delfi Ana Harahap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.