Puisi

Sumpah Pemuda

Penulis: Kakak Indra Purnama Gagasanonline- Sejarah kelam akhir ceritaMembalut luka di negeri tercintaMata lekang para pemudaMelihat penjajah membabi buta Tahun 1928 pemuda bertekad abdi negaraMengikrarkan sumpah serapahJanji suci bela negara melawan penjajah di negeri tercinta Sumpah PemudaYa…Sumpah pemudaKesetian luhur janji yang berwibawaBakti negara tiada dustaDilantangkan pemuda-pemuda Nusantara dengan cita yang mulia Sumpah PemudaTitik tumpu semangat pejuangMencapai cita-cita kemerdekaanAngkat senjata pergi berperangMelawan penjajahan di negeri kesatuan Sumpah pemudaSerayu berhembus waktu berguliSemangat

Nasib Bangsa

Penulis: Abdul Hafidz Gagasanonline- Merdeka kini hanya kiasanNyata namun ilusiPenjajah memang sudah tak lagi adaMirisnya penguasa sebagai pengganti Atas nama rakyat mereka menjabatNamun nyatanya pura-pura tuli dan tak peduliSuara rakyat seolah tak terdengarMeski ribuan pengeras suara diperdengarkan Mereka tidak buta maupun tuliHanya saja hati nurani tak lagi ada artiHarapan bangsa telah sirna sudahGugur pahlawan  tak lagi dihargaiKemerdekaan kini dikhianati penguasa bangsa sendiri Editor: Delfi Ana Harahap Foto: Internet

Puisi: Kulihat Dinda

Penulis: Ahmad Mulya Jaelani Dinda berjalan Kaki tanpa alasMenyusuri trotoar yang panasTerik jadi teman Rumah diambil empunya tanahDinda seorang diriAyah sudah dililit hutangIbu dinda lupa jalan pulangRumah sudah hilang Ditepi trotoarDinda terus berjalanBelepotanDalam hati ia menangis IbuBisakah doa kita keraskan lagiDinda terus saja berjalanDia harus pulang Teringatkan pesan ibuSebelum waktu ayah akan dibawa orang berbadan beruangIbu dan ayah sudah tidak bisa lagi lanjutkan tanggungan hutang Ijazahmu sudah lebih dari rumahIlmu

Rintik Sendu

Penulis: Sefrizel Rahayu** Kita terlalu asing untuk saling menyapaBagaikan langit yang jauh dari bumiBegitu pula keadaan kitaEntah sampai kapan kita seperti iniSuaramu tidak terdengar lagiCandamu sudah hilang bagaikan ditelan bumiKini aku hanya bisa terdiam sepi Bagaimana aku bisa lupa ?Kamu selalu aku lihat di mana-manaPagiku senyummu menyapaSiangku candamu membuatku ingin tertawaMalamku rindu selalu datang secara tiba-tibaBayanganmu tak bisa hilang dari pikiranku Hatiku memaksa untuk bertemu denganmuSedangkan keadaan tidak berkata begituMungkin

Negeri Komedi

Penulis: Muhammad Al Hafis* Gagasanonline.com-Hari ini kutuliskan cerita Sebuah negri komedi Lewat alunan musik Dengan segelas kopi Kusampaikan cerita ini Bersama mata yang memberontak Raksasa cakrawala Membuat opini konyol Anjing meraung kesakitan Seakan hidup hanya sekadar cuan Tikus hilang ditelan bumi pertiwi Bermain Tamiya ditengah banjir Pancasila khayalan belaka Aktivis sosmed menyebar Seperti virus corona yang berlari Rakyat jelata hanya bisa merangkak Para koruptor hanya bisa bersembunyi Mahasiswa hanya bisa

Teruntukmu

Penulis: Kakak Indra Purnama** Gagasanonline.com Bulan meredup Hari berlalu Aku hidup Di bumi yang layu Senyum bebas seakan menjadi nafsu Tak khayal pancarannya penuh pencitraan Layak dibumi Terkubur dimimpi Akan menjadi sebuah angan-angan rakyat jelata Meminta janji-janji yang teramat suci Teruntukmu sang pemimpin  Perangaimu telah kau mainkan  Menikam hak rakyat Dengan kuasamu Bermodal janji manismu Yang tak kunjung kau penuhi Hari kemenangan telah berakhir Tugasmu nanti mengalir Akan kah kau

Aku Ingin Jadi Hape Saja!

Penulis: Siti Nurlaila Lubis Bentuknya kecil dan mudah dibawa ke mana-mana Ringan dan bermanfaat, katanya Selalu diperhatikan ketika ada pesan masuk Takkan dilupa sedetik pun bila sedang berjalan ke luar Kita duduk berlima di rumah, justru menjauhkan untuk berbagi cerita Kita berjauhan jarak pun tak berusaha untuk terlihat dekat seiya sekata Sering aku memanggil mereka, nyatanya tak diacuhkan Yang ada hanyalah keseringan mata dan tangan bermain layar Satu menit, satu

Apa Kabar Pendidikanku?

Penulis: Hesti Wulan Pratamy Gagasanonline.com– Terurai hati nan jemuk meratap kearahmuMengukir harapan jauh nan jauhBerjalan menuju usaian semuMelihat, Memandang jua kau tak kunjung tatap Awalku, itu semua hanyalah rekapNamun seiring alur tak tahu arah, remuk raga ini nyataOh! Inikah alur dari penjajahan?Raganya, jiwanya, rasanya di bungkam Hai kaum pemudaBukankah kau tak ingin cerita lama?Bukankah kau tak ingin mengulangnya?Ingatlah!Semangat pejuang bangsa untuk mencapai titik kata merdeka,Mereka rela bertumpah darah Kini, kau

[Sastra Puisi] Sandiwara Zaman

Penulis: Kiki Mardianti Sebuah narasi dari negeri ini telah tercipta Terdapat antagonis di dalamnya Panggung sandiwara pun dimulai Dengan beberapa episode yang menusuk jiwa   Terciptanya kenistaan, lahirlah kehancuran kejamnya maling berdasi membuat dadaku sesak Cukup! Aku muak dengan semua ini Akhiri saja episode itu, sandiwara yang kau buat tak berarti bagiku   Kini zaman pun kelam Hilang sudah cahaya kedamaian Hancur juga persatuan Narasi tak beralur pun membutakan mimpi

[Sastra Puisi] Bertahan Walau Tak Diperlukan

Penulis: Saprian Mahendra** Gagasanonline.com – Di tengah malam sepi yang sunyiBayangmu selalu datang menghantuiMembuatku terjaga dan terkurung dalam sunyiBersamamu adalah impian terbesarku Namun kini harapan itu hanya sebatas mimpikuTapi biarlah mimpi itu selalu menemani tidurkuAgar aku bisa merasakan indahnya bersamamuAku senang senyum indahmu kini berseri lagiBagaikan bunga bermekaran di musim semi Tapi kini baru ku sadariSenyum itu bukan untukku lagiAda beribu kata yang tak terucapAda berjuta rasa yang tersampaikan Walapun