Puisi

Apa Kabar Pendidikanku?

Penulis: Hesti Wulan Pratamy Gagasanonline.com– Terurai hati nan jemuk meratap kearahmuMengukir harapan jauh nan jauhBerjalan menuju usaian semuMelihat, Memandang jua kau tak kunjung tatap Awalku, itu semua hanyalah rekapNamun seiring alur tak tahu arah, remuk raga ini nyataOh! Inikah alur dari penjajahan?Raganya, jiwanya, rasanya di bungkam Hai kaum pemudaBukankah kau tak ingin cerita lama?Bukankah kau tak ingin mengulangnya?Ingatlah!Semangat pejuang bangsa untuk mencapai titik kata merdeka,Mereka rela bertumpah darah Kini, kau

[Sastra Puisi] Sandiwara Zaman

Penulis: Kiki Mardianti Sebuah narasi dari negeri ini telah tercipta Terdapat antagonis di dalamnya Panggung sandiwara pun dimulai Dengan beberapa episode yang menusuk jiwa   Terciptanya kenistaan, lahirlah kehancuran kejamnya maling berdasi membuat dadaku sesak Cukup! Aku muak dengan semua ini Akhiri saja episode itu, sandiwara yang kau buat tak berarti bagiku   Kini zaman pun kelam Hilang sudah cahaya kedamaian Hancur juga persatuan Narasi tak beralur pun membutakan mimpi

[Sastra Puisi] Bertahan Walau Tak Diperlukan

Penulis: Saprian Mahendra** Gagasanonline.com – Di tengah malam sepi yang sunyiBayangmu selalu datang menghantuiMembuatku terjaga dan terkurung dalam sunyiBersamamu adalah impian terbesarku Namun kini harapan itu hanya sebatas mimpikuTapi biarlah mimpi itu selalu menemani tidurkuAgar aku bisa merasakan indahnya bersamamuAku senang senyum indahmu kini berseri lagiBagaikan bunga bermekaran di musim semi Tapi kini baru ku sadariSenyum itu bukan untukku lagiAda beribu kata yang tak terucapAda berjuta rasa yang tersampaikan Walapun

[Sastra Puisi] Barang Kali

Akulah pemuda penuh cita-cita Laksana jendral yang bergema bawa senjata Sumpah leluhur adalah segenap jiwa Kupersembahkan cinta abadi bagi nusantara Barang kali pemuda sudah lupa Ada ikrar yang harus dibawa nyata Barang kali pemuda sudah binasa Kelupaan pada jiwa yang memberikan asa Aku terluka, aku pemuda cacat Tak mampu memberi negeri selamat Barang kali jiwa pemudaku mulai menua Barang kali aku pemuda yang gila Akulah pemuda penuh cita-cita Yang tak

[Sastra Puisi] Teruntuk Keluarga

Kadang kala dalam angan ini terlintas Terlintas rasa rindu yang begitu dalam Sedalam inti bumi bersemayam Rasa ini tak kan bisa kupungkiri lagi Mereka lah yang selalu ada dan memberi semangat Mereka yang selalu dalam satu atap bersamaku Mereka yang peduli terhadapku Mereka yang sangat sayang padaku Mereka yang mengajarkan ku hidup mandiri Mereka adalah segalanya bagiku Yaa… Mereka lah keluargaku Disana ada ayah, ada bunda, ada adik, dan kakak…

Kasak-Kusuk Kepemimpinan

Mereka bergelut dengan keadaan Bersandar penuh ambisi Dikatakan kalah malah mengemohkan Dikatakan menang tahta tak di tangan   Para pujangga semu Bermain di dalam labirinnya sendiri Para kaum intelektual Menunggu perut lapar terisi Kapan ini usai?   Wajah pewakil diangkat Bandit-bandit kubu dicampakkan Keadilan pemimpin kembali bernyawa! Siapa yang benar?   Sekeliling hanya mengorek keegoisan Menyuarakkan pemimpin sejati Nyatanya masih ingin makan kuasa sendiri Ingatlah! Kami mahasiswa tak ingin di

Puisi Orang

Kata orang, mereka ingin kedamaian. Damai  muncul dari pertumpahan darah. Kata orang, mereka ingin kemakmuran, kemakmuran mereka membuat nestapa. Kata orang mereka ingin hidup tenang, telinga pekak karena keributan huru hara. Kata orang mereka ingin kaya, kaya mereka menimbulkan kemiskinan  Kata orang, mereka ingin bangkit. Bangkit dengan menginjak satu sama lain. Kata orang mereka ingin berkuasa, ambisi memberangus beragam asa Kata orang mereka manusia, kata Tuhan mereka kalifah, kata malaikat