Cerpen

Move On, Sahabat dan Traveling

Penulis: Winda Julianti Handayani** Gagasanonline.com– 21 Februari 2019, tepat seminggu aku mengurung diri di kamar, menangis seharian hingga mata membengkak. Hari Velentine, di mana para pasangan berbahagia saling berbagi coklat dan hadiah, tetapi ketika itu aku diputuskan. Hubungan kami berjalan selama tiga tahun dengan baik tanpa ada masalah yang berarti, dia memutuskan hubungan dengan alasan ingin fokus kuliah, dalam jangka waktu dua hari aku mendengar kabar, dia menjalin hubungan dengan

Surup

Penulis : Hendrik Khoirul Gagasanonline.com– Matahari belum juga tenggelam, tapi rembang petang telah tak sabar mengungkung Desa Lembah Lembayung. Senja menyepuh kedua belah ufuk dengan jingga yang tak biasa, memang suasana agak berbeda kala itu, malam terasa terlalu cepat menjalar. Ternak-ternak lekas-lekas masuk kandang, sedikit ribut seakan ada yang mengintai-intai mereka dari balik semak. Jangkrik-jangkrik yang biasanya sibuk membangun lubang pun bagai terkubur dalam lubangnya, sepi yang terlalu senyap. Sore

Mengingat Ibu

Penulis: Puspita Sari** Gagasanonline.com – Aku Zia, usia 15 tahun, anak dari hasil perceraian. Kedua orangtuaku bercerai sedari aku kecil, ayahku meninggalkan kami untuk hidup dengan keluarga barunya. Lalu ibuku juga ikut meninggalkanku pergi bekerja untuk mencari nafkah di negeri orang sejak sembilan tahun lalu. Aku sempat berpikir, apakah aku menjadi beban bagi ibuku? Kenapa ia juga meninggalkanku. Hal ini pun tidak luput menjadi pertanyaanku kepada nenekku. Ya, sekarang aku

Daripada Tidak, Mencumbu Arwahmu Pun Jadilah

Penulis: Hendrik Khoirul Gagasanonline.com – Anastasia terbangun dari tidur ketika suara ketukan di pintu kamar kosnya mengusiknya, jam berapa sekarang? Batin Anastasia kesal. Ia melirik sebentar jam beker di meja nakas dan mendengus sebal, siapa pula yang berkunjung di jam dua pagi, sangat tidak sopan. Tertatih ia sembari mengumpulkan nyawa menuju pintu kamar kos. Anastasia terkejut saat melihat Jose, pacarnya, ada di depan pintu kamar kosnya, dini hari. Bukankah baru

Pelarian (Stigma NKRI 2)

Penulis: Muhammad Al-Hafis** Gagasanonline.com – Matahari mulai terbenam di bawah rintik hujan yang mulai turun ke alam semesta. Dalam pelarian ini aku panjatkan puji syukur kepadamu Tuhan. Sekilas terngiang wajah orang tua yang selalu menyayangi dan menjagaku. “Mudahan mereka baik-baik saja,” gumamku. Motor yang aku tumpangi tiba-tiba berhenti. Akhirnya aku sampai ketempat tujuan, sebuah gubuk kecil beratapkan jerami. Kupandang sekeliling, hanya hutan belantara yang kujumpai. Mungkin inilah tempat terbaik untuk

Overdosis

Penulis: Hendrik Khoirul Gagasanonline.com – Sekarang aku sudah lebih dari setengah semester di SMA ini, SMA yang tak sebanding dengan SMA-SMA yang dulu pernah jadi sekolahku. Sekolahan bobrok ini, baik infrastruktur maupun moralnya, adalah tempat yang tepat untukku. Aku memang terlalu sering pindah sekolah dan di SMA inilah aku bisa bertahan cukup lama, secara sadar aku merasa di sinilah tempatku. Banyak alibi yang mereka gunakan untuk mendepakku dari SMA yang

Stigma NKRI

Penulis: Muhammad Al-Hafis** Gagasanonline.com – Pagi ini aku terbangun oleh kericuhan massa yang mengamuk. Aku mencoba menggapai tirai jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar. Aku hanya bisa terdiam kaku melihat apa yang terjadi. Orang-orang bersorak, merampas dan membakar ruko abah yang berada di persimpangan jalan. “Dasar monyeet!” teriak seorang pemuda yang memegang sebongkah kayu. Asap mulai menutupi pekarangan rumah, semua orang menjadi gila. Suara mobil polisi mendekati

Gamang

Penulis: Delfi Ana Harahap* Gagasanonline.com – Hujan reda, kubangan air di mana-mana, jalanan basah, licin juga. Wilda, temanku, tumben membawa motor hari itu, aku mengikutinya dari belakang. Pelan, ia lebih pelan dariku membawa kendaraan. Selepas azan magrib kami pisah haluan, “Hati-hati,” ucapku padanya. “Kau juga hati-hati,” balasnya. Aku berjalan lurus ketika langit sudah gelap, kilat dan petir kembali datang. Tak lama gemiris, lalu kembali hujan lebat datang. Aku berhenti sejenak,

Kuli(ah)

Penulis: Hendrik Khoirul Gagasanonline.com- Mereka itu, kata Mang Atang, bukan orang biasa seperti rakyat pada umumnya. Mereka itu, yang ada embel-embel nama mahasiswa, jelas-jelas tidak sekelas dengan kuli macam aku. Mereka lebih tinggi kelas sosialnya. Aku sendiri tak tahu apa itu kelas sosial, jangankan kelas sosial, kelas 5 SD saja aku tidak tamat. Tak bisa dikira dengan jari tangan, belasan tahun lalu mungkin. Pasti, bukan mungkin, aku putus sekolah. Beruntung

Time Will Tell How Much I Love You

Penulis: Saprian Mahendra** Gagasanonline.com – Semuanya bermula sejak aku mengenal seorang gadis manis berambut panjang, dia adalah sosok yang aku sukai saat SMA, namun aku tak pernah punya keberanian untuk memulai mengenalnya karena aku merasa tidak percaya diri untuk mendekatinya. Setelah lulus SMA aku menempuh pendidikan di perguruan tinggi, bagai sebuah keajaiban tanpa sengaja aku bertemu dengannya lagi. Kami berada di jurusan dan kelas yang sama. Saat itulah aku tahu