152 Tembang untuk Ragam Kehidupan

152 Tembang untuk Ragam Kehidupan

Penulis: Bagus Pribadi

Judul: Centhini
Penulis: Elizabeth D.Inandiak
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: Kedua, Juni 2018
Tebal: v + 407 halaman
ISBN: 9789799109095

gagasanonline.com – Centhini ialah karya sastra yang berasal dari kumpulan-kumpulan tembang berbahasa jawa setebal 4.200 halaman. Elizabeth D.Inandiak membiarkan dirinya terbenam mendalami dan mengumpulkan tembang-tembang berbahasa jawa ini. Sebelumnya, tembang-tembang ini terkumpul di dalam Serat Centhini. Elizabeth menampilkan dan mengenalkan kembali Serat Centhini dalam Bahasa Prancis, yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Buku Centhini ini ialah hasil dari pengembaraan Elizabeth mendalami Serat Centhini yang berbahasa jawa, lalu wawancara dengan tokoh-tokoh di Jawa seperti, Gus Dur, dan menambahkan cerita sesuai dengan penafsirannya sendiri.

Buku ini mengisahkan pengembaraan Amongraga, anak dari Kerajaan Giri. Ia melarikan diri dari kerajaannya setelah kalah perang melawan Kerajaan Sultan Agung. Ayahnya, Sunan Giri tewas di tangan Sultan Agung. Semula namanya adalah Jayengresmi, lalu diganti menjadi Amongraga yang berarti memikul raganya sendiri. Nama ini sesuai dengan keadaan Amongraga, dalam pengembaraannya ia memikul raganya sendiri.

Selain karena Kerajaan Giri telah kalah, Amongraga mengembara juga disebabkan mencari kedua adiknya. Dalam pengembaraannya itu, ia bersama dua pengawalnya bernama Jamal dan Jamil. Di perjalanan, Amongraga banyak berjumpa dengan hal yang baru di kehidupannya. Ia bertemu banyak orang dengan profesi berbeda-beda seperti pelacur, sastrawan sufi, dukun, banci, petapa Buddha-Siwa, dan lainnya. Hal itu yang membuat Amongraga menjadi orang yang berilmu. Ia menimba ilmu di perjalanan. Orang-orang yang ada di sekitarnya menganggap hormat terhadapnya, tentu kehormatan itu karena ilmu pengetahuannya. Orang di sekelilingnya menganggapnya sebagai filosof seperti Al-Ghazali, Jalaluddin Rumi, dan Syekh Siti Djenar.

Di Pondok Wanamarta, ada satu keluarga yang memiliki tiga anak, satu di antaranya perempuan. Perempuan ini sangat cantik. Banyak pemuda hingga kakek-kakek datang untuk melamarnya, tapi ia tak mau. Ia hanya mau menikah dengan orang yang lebih berilmu dari ayahnya. Perempuan itu bernama Tambangraras.

Dalam pengembaraan, Amongraga sampai di Pondok Wanamarta. Tambangraras langsung menyukai Amongraga dengan ilmu-ilmu yang disampaikannya di Pondok Wanamarta. Tambangraras ingin menikahi Amongraga. Atas perantara ayahnya, Amongraga mengaminkan kemauan Tambangraras untuk menikah. Tetapi, Amongraga menyampaikan tujuannya yakni pengembaraan mencari kedua adiknya. Ia berkata, setelah menikah akan melanjutkan perjalanan mencari kedua adiknya. Tambangraras bahagia akhirnya menikah dengan orang yang lebih berilmu dengan ayahnya, namun di sisi lain ia sangat sedih akan ditinggalkan calon suaminya itu.

Ada hal yang unik setelah mereka menikah. Selama 40 malam mereka membahas filsafat islam, dimulai dari malam pertama hingga malam ke 40. Tambangraras kerap bertanya kepada Amongraga perihal Islam. Ketika mereka diskusi membahas filsafat, Amongraga dan Tambangraras dengan keadaan telanjang di atas kasur. Tentu niat awal mereka dengan bertelanjang tak pernah kesampaian karena terlalu asik membahas filsafat hingga matahari memancarkan cahayanya. Di malam ke 40, hujan turun dan akhirnya mereka bersenggama untuk pertama kalinya. Selama 40 malam, pembantu Tambangraras, Centhini mengintip dari bilik untuk mengabarkan kapan Tambangraras pecah perawan. Dan judul buku ini diambil dari nama pembantu itu, pembantu yang sangat tulus mengabdikan diri pada Tambangraras.

Setelahnya, Amongraga kembali mengembara tanpa memberitahu kepada istrinya, Tambangraras. Dalam perjalanannya, Amongraga menemui lelaki dengan lelaki bersenggama di kubangan sawah. Kadang ia melihat seorang remaja mengisap kemaluan lelaki paruh baya di teras rumah. Tiap-tiap daerah yang seperti itu, Amongraga selalu menetap untuk beberapa waktu. Tujuannya untuk menyebarkan ilmu keislaman kepada warga setempat yang memang sudah beragam islam.

Akan tetapi, kerap kali ajaran Amongraga dianggap sesat oleh warga setempat. Warga setempat Islam yang benar itu bukan seperti yang diajarkan Amongraga. Warga setempat beranggapan Islam itu lebih baik dari yang diajarkan Amongraga, namun berbanding terbalik dengan kelakuan warga setempat itu. Mereka sama sekali tak menjalankan ajaran Islam yang mereka anggap lebih baik dari ajaran Amongraga. Hal ini sangat relevan dengan keadaan sekarang, di mana populisme agama menjadi hal yang sangat serius di Indonesia.
Buku ini sangat menarik, karena ceritanya seperti makanan gado-gado. Bagaimana tidak, dalam beberapa bagian kita disuguhkan kisah yang suci seperti salat tiap waktu, mengaji di gazebo, dan kenduri. Namun tak jauh dari cerita itu kita mendapati pesta pernikahan yang menewaskan jiwa, mabuk-mabukan, melakukan seks di tempat umum.

Buku ini menggambarkan orang yang mengenal agama sekali pun, tetap melakukan kegiatan-kegiatan ‘gila’ di luar batas penalaran kita sebagai orang awam. Sepanjang isi buku ini menceritakan kisah yang suci dan kisah kegiatan seks yang beriringan. Namun atas segala cerita yang seperti itu, terdapat nilai-nilai sosial yang masih sangat relevan untuk saat ini. baik dalam bentuk filsafat dan agama. Sangat dianjurkan untuk yang ingin mendalami filsafat islam, karena buku ini membahas filsafat secara ringan.

Editor: Adrial Ridwan
Foto: Bagus Pribadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.