Mengingat Ibu

Mengingat Ibu

Penulis: Puspita Sari**

Gagasanonline.com – Aku Zia, usia 15 tahun, anak dari hasil perceraian. Kedua orangtuaku bercerai sedari aku kecil, ayahku meninggalkan kami untuk hidup dengan keluarga barunya. Lalu ibuku juga ikut meninggalkanku pergi bekerja untuk mencari nafkah di negeri orang sejak sembilan tahun lalu.

Aku sempat berpikir, apakah aku menjadi beban bagi ibuku? Kenapa ia juga meninggalkanku. Hal ini pun tidak luput menjadi pertanyaanku kepada nenekku. Ya, sekarang aku tinggal dengan nenekku yang usianya kian hari kian tua ini.

“Kenapa ibu meninggalkanku, Nek?” tanyaku kepada nenek. Pasalnya ibuku jarang sekali pulang ke rumah selama ia merantau.

“Dia sedang bekerja, Zia. Dia tidak meninggalkanmu. Semua ini dia lakukan demi kebahagian dan cita-citamu,” jawab nenek yang sedikit terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba.

“Tapi aku meresa tidak bahagia, ibu meninggalkanku nek.”

“Ibumu bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu,” kata nenek mencoba untuk meyakinkanku.

“Tapi kebutuhanku bukan hanya sekadar materi, aku juga butuh orang tua yang selalu di sampingku dan selalu mendukung cita-citaku.” Lanjutku, “Aku butuh mereka, Nek. Aku butuh ayah dan ibu seperti temanku yang lain,” lanjutku dan berlalu meninggalkan nenek untuk masuk  ke dalam kamarku dan menangis sejadi-jadinya.

Aku tahu ini bukan salah nenek, bukan nenek yang membuatku begini. Malah aku berterima kasih padanya karena sudah mau merawatku sedari aku kecil. Tapi apalah dayaku, aku seorang anak egois yang menginjak usia remaja yang belum mengerti tentang pengorbanan.

Esoknya  kucoba menelpon ibuku, berharap panggilanku kali ini ia angkat. Pasalnya sudah beberapa hari ini ia terlalu sibuk sampai tidak menjawab telponku. Akhirnya seteleh menunggu lama panggilanku dibalas oleh ibu.

“Halo bu, Assalamualaikum,” ucapku.

“Waalaikumussalam, iya Zia. Kenapa kamu menelpon, apakah kamu butuh uang. Sabar sedikit Zia, lusa ibu gajian dan akan langsung ibu kirimkan kepadamu,” kata ibuku di seberang telpon.

Aku menangis dalam hati sambil mengucapkan, “Aku tidak butuh uang, yang aku butuhkan sekarang adalah ibu disini bersama ku, bisakah ibu pulang!.”

“Baiklah, bagaimana kabar ibu? Apakah ibu sehat?,” kataku mencoba untuk tidak menangis.

“Ibu baik, lalu bagaimana denganmu dan nenek?” tanya ibu.

“Kami baik, Bu. Kapan ibu akan pulang? Sudah dua tahun semenjak terakhir kali ibu pulang ke rumah,” kataku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Ibu belum bisa pulang, Nak, ibu harus mengumpulkan banyak uang agar kamu bisa melanjutkan sekolahmu. Tentu banyak biaya yang dibutuhkan untuk itu Zia. Ibu harus bekerja keras untuk itu, bersabarlah sedikit saying,” jawab ibuku meyakinkan.

“Tapi Zia sudah sangat merindukan ibu. Tidak bisakah ibu pulang walau hanya sehari?” tanyaku dengan air mata yang sudah mengalir. Pasalnya mendengar jawaban ibu tadi aku merasa seakan-akan aku ini adalah beban baginya.

“Cobalah untuk mengerti sayang, ibu melakukan ini untukmu, untuk masa depanmu,” jawab ibuku lagi.

Ibu bekerja keras membiayai hidup dan sekolahku untuk membantuku menggapai cita-citaku. Tapi aku juga perlu kehadiran ibu. Egois? ya aku egois, karena menginginkan keduanya padahal aku sadar dengan adanya keterbatasan kami. Tapi mau bagimana lagi aku juga ingin seperti teman-temanku, memiliki orang tua yang lengkap dan hidup bahagia.

“Ibu akan pulang saat ibu sudah berhasil mengumpulkan uang yang banyak, Zia,” lanjut  ibu setelah lebih semenit kami saling terdiam.

“Sekarang saat di mana ibu harus bekerja keras untuk hidupmu dan cita-citamu, dan kau harus belajar keras untuk mencapai cita-citamu. Walaupun ibu tidak bersamamu tapi percayalah ibu selalu mendoakanmu supaya kau berhasil, Zia. Kebahagiaan dan kesuksesanmu di masa yang akan datang adalah semangat bagi ibu untuk terus bekerja keras. Ibu sangat menyayangimu Zia, ibu ingin yang terbaik untukmu, ibu tidak ingin kamu seperti ibu yang tidak berpendidikan dan selalu dihina. Tolong bersabarlah sayang, demi kebahagiaan kita semua, biarlah sekarang kita menderita,” ucap ibu panjang lebar dengan suara yang bergemetar.

Aku tahu ibu sedang mencoba menahan tangisannya. Tapi tidak denganku, mataku sudah tidak sanggup lagi, aku menangis lagi.

“Maafkan Zia yang selalu menuntut kepada ibu. Zia yang bodoh tidak menyadari memiliki ibu yang begitu kuat seperti ibu. Zia janji akan belajar yang giat untuk mendapatkan cita-cita dan nantinya akan membuat ibu bahagia sekaligus bangga. Zia akan membuat ibu berdiri tegak dan tidak akan membiarkan ibu dihina orang lagi. Maafkan Zia, Bu,” kataku.

Aku sadar bahwa aku salah sempat mengikuti egoku. Aku salah sempat merengek kepadanya agar ia cepat pulang ke rumah. Padahal ibu lebih menderita daripadaku, selalu dihina orang-orang kampung karena perceraiannya. Ibu juga selalu bekerja keras untuk hidupku. Sungguh berdosa rasanya aku melakukan hal itu. Padahal seharusnya aku memberinya semangat ketika bekerja di sana.

“Tidak perlu meminta maaf, Zia, kamu tidak bersalah. Ini semua salah ibu yang tidak bisa memberikanmu kebahagiaan seperti yang kamu inginkan,” kata ibu dengan suara yang masih bergetar.

“Tidak. Zia yang terlalu egois dan tidak bersyukur dengan kasih sayang dan pengorbanan yang ibu dan nenek telah berikan kepada Zia. Maafkan Zia, bu. Zia akan bersabar dan menunggu ibu, juga akan terus belajar, bu,” kataku sembari menyesali perbuatan.

“Iya sayang, belajar yang rajin ya. Tunggu dan lihat, ibu akan mengumpulkan banyak uang supaya Zia bisa sekolah yang tinggi kalau perlu sampai keluar negeri biar Zia bisa sukses,” ucap ibu dengan sedikit tawa yang membawa ketenangan bagiku.

“Iya. Ibu jaga kesehatan ya, dan semangat kerjanya, doakan Zia agar cepat sukses, bu. Zia sayang ibu, Zia bangga punya ibu yang kuat seperti ibu,” kataku sambil mengusap sisa air mata di pipiku.

“Pasti sayang, doa ibu selalu untukmu. Ibu juga sayang padamu dan bangga kepadamu,” ucap ibu. “Ibu harus melanjutkan pekerjaan. Zia, sampai bertemu kembali. Jaga nenekmu Zia. Assalamualaikum,” lanjut ibu.

“Baiklah ibu, Waalaikumusslam” tutupku

Aku yang awalnya menangis kini hanya bisa tersenyum. Betapa bodohnya aku selama ini yang terus merengek dan marah agar ibuku pulang. Padahal ia di sana tengah bekerja keras untukku juga. Bodohnya aku yang tidak menyadari bahwa bukan hanya uang yang ia berikan, tapi juga doa di setiap salatnya yang membantuku berhasil. Kami memang jarang bertemu, tapi cinta dan kasih sayang ibuku selalu datang padaku lewat doanya. Tapi tidak bisa dibohongi bahwa aku juga rindu untuk sekadar memeluk ibuku. Aku pun yakin ibu juga merindukanku, tapi demi kesuksesanku di masa depan, ia rela mengorbankan itu.

Ku lihat nenek duduk di sebelahku, aku menatapnya yang sedikit mengeluarkan air mata. Aku sadar bahwa ada satu lagi wanita yang berkorban demi kebahagianku, nenekku yang dalam usia tuanya bukan malah bersantai, tapi malah dengan bahagia mengurusku yang egois ini. Aku memeluk nenekku dan berharap ia merasakan bahwa aku sangat bersyukur memiliki dua wanita hebat dalam hidupku yang sanggup memberikan segalanya kepadaku.

“Aku sayang kalian!” itulah yang kuucapkan dalam hatiku sambil terus memeluk nenek  dan mencoba mengingat kenangan di memoriku bersama ibuku.

Editor: Bagus Pribadi
Foto: Internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.