Hidup Itu Sederhana, yang Rumit Itu Kamu

Hidup Itu Sederhana, yang Rumit Itu Kamu

Penulis: Teguh Arif Ramadhan

Gagasanonline.com – Semua bermula dari teman saya yang tiba-tiba bertanya, “Apa sih tujuan hidupmu, Cuk?” Saya kaget mendengar pertanyaannya, kenapa dia tiba-tiba ngomongin hidup, memang hidup pernah ngomongin kita?. Karena dia serius dengan pertanyaannya, jadi saya jawab saja dengan segenap jiwa dan raga, “Tujuan hidup ya untuk hidup.”

Saya jadi ingat kata-kata Bung Pram kalau hidup itu sungguh sederhana hanya yang hebat-hebat penafsirannya. Jadi menurut saya, jawaban yang begitu santuy itu tidak ada salahnya, tapi teman saya itu malah tertawa. Padahal saya cukup serius menanggapinya.

Apa mungkin maksud teman saya itu hidup yang seperti apa dan yang bagaimana. Duh, hal-hal seperti ini hanya membuat kepala jadi cepat botak, tetapi botak juga tidak selamanya hal buruk. Kalau dipikir-pikir banyak orang sukses karena dia botak, jadi artis, aktor dan motivator. Ya gak guys?

Menurut saya hidup ya sekadar hidup aja. Seperti kata Multatuli, tugas manusia ya menjadi manusia. Cukup sederhana seperti jawaban saya tentang tujuan hidup tadi. Tapi kebanyakan orang pasti ingin hidup yang bahagia, apa seperti itu maksud teman yang menertawai saya tadi? Bagaimana kalau pertanyaanya diganti jadi, “Bagaimana sih caranya hidup bahagia?” Nah ini saya juga sulit untuk menjawabnya, karena hidup saya juga belum bahagia-bahagia amat, hehe.

Tapi sebentar, saya ingat dengan beberapa teman saya yang melakukan hal-hal yang menurut saya biasa saja, tapi membuat mereka bahagia atau setidaknya bisa melupakan kepedihan dan kegalauannya. Hiks, agar gak ambyar gitu.

Dalam suatu pertongkrongan duniawi, saya iseng-iseng bertanya kepada teman saya ini, “Kalau lagi sedih atau ga mood gitu, biasanya ngapain sih kalian?” jawabannya wuakehh, Cuk. Ada yang menjawab dengan pergi memancing ikan di sungai, ingat ikan ya, bukan keributan. “Kalau aku sih main gitar, genjrengan sampai ambyar sekalian,” kata temanku yang ingin jadi anak band tapi gak kesampaian. Yah, itulah jawaban dari teman-teman nongkrong saya. Biasa bukan? Tapi itu jawaban yang jujur.

Lalu, teman kampus saya pernah bilang saat pergi ke toko buku, ia akan sangat bahagia sekali jika bisa memiliki buku-buku yang ia sukai. Teman saya yang satu ini bisa dibilang sebagai maniak buku. Kerjaannya membaca sampai-sampai ketika di Whatsapp ya pesan orang lain hanya dibaca saja, tidak dibalas. Untuk mencapai bahagia bisa dengan cara bermacam-macam, jadi agak sulit untuk menjawab bagaimana cara hidup bahagia?

Saya akan memberikan contoh kecil, saat membeli barang, kebanyakan dari kita membeli barang bukan untuk menyenangkan diri sendiri, tetapi agar dilihat oleh orang lain, mengikuti tren dan mendapatkan pengakuan akan hal tersebut. Nah hal tersebut cenderung membuat kita tidak bahagia. Orang seperti ini bisa dikatakan sebagai orang bermental miskin, karena selalu berpikir kalau dirinya belum memiliki atau selalu merasa kurang. Membeli banyak barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh dirinya, ia membeli ya karena ingin membeli saja. Apalagi saat ada diskon besar-besaran. Sederhananya, untuk apa membeli tiga pasang sepatu jika kita hanya memiliki sepasang kaki. Ada baiknya kita menggunakan uang untuk menunjang produktivitas atau menambah pengalaman baru yang berguna daripada terus berperilaku konsumtif yang tidak ada habisnya. Sedikit bisa dimengerti, Cuk? ~Beri aku sedikit waktu, semesta mengirim diriku untukmu~.

Saya  coba beri jawaban lain. Saya pernah menonton sebuah video dari BukaTalks, di situ Henry Manampiring penulis buku Filosofi Teras, berbicara selama 15 menit di depan orang-orang seperti seminar. Di akhir video ia bilang, kita tidak bisa mengontrol hal yang ada di luar diri kita tapi kita mengontrol apa yang ada di dalam diri kita. Terus apa hubungannya dengan cara agar hidup bahagia, Cuk? Sabar dong guys, jangan terburu-buru, alon-alon asal kelakon. Jadi, kita bisa bahagia dimulai dari pikiran kita sendiri, bukan dari hal-hal dari luar. Begini-begini, hal-hal dari luar itu seperti harta, jabatan, pekerjaan, mantan, orang tua dan lain-lain. Nah, hal-hal seperti itu tidak bisa kita kendalikan, tetapi pikiran dan rasa dalam diri kita bisa diatur. Untuk bahagia, biasanya orang-orang bilang, “Saya akan bahagia jika ini dan jika itu.” Hal-hal seperti itulah yang membuat hidup jadi tertekan karena kita menaruh kebahagiaan kita di luar kendali diri kita.

Misalnya, saat diputuskan oleh pacar. Lalu kita menangis berhari-hari seakan dunia telah berakhir. Padahal  putus hubungan berarti tidak punya hubungan apa-apa lagi, dan itu hal yang simple dan biasa. Tapi kebanyakan dari kita melebih-lebihkannya dengan menyalahkan diri sendiri, beranggapan tidak bakal ada yang mencintai kita lagi dan akhirnya perasaan-perasaan seperti itu yang membuat kita jadi rendah diri. Semua kesedihan itu datang dari pikiran kita sendiri, bukan dari kepergian kekasih tersebut. Jadi, yang membuat kita sedih itu bukan peristiwanya tapi opini atau pikiran dari dalam diri kita.

Dalam hidup ini ada dua hal yang perlu kita tahu, ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak. Nah, bagaimana jika kita mulai dengan mengatur pikiran kita sendiri dan mengendalikan emosi pada diri, dengan tidak menaruh kebahagian pada hal-hal luar, dan berpikir positif pada apa-apa yang kita alami di kehidupan ini.

Mungkin ini penjelasan saya soal pertanyaan teman saya soal bagaimana hidup bahagia. Sekali lagi saya katakan tujuan saya hidup ya untuk hidup, sesederhana tugas manusia yang menjadi manusia. Untuk menjadi bahagia ya bisa dibangun dari cara kita menikmati hidup. Mungkin ini tidak sepenuhnya menjawab atau bahkan malah bikin kepala pembaca makin pusing.

Untuk menjadi bahagia menurut saya, kita harus menaruh bahagia pada diri kita sendiri, pada hal yang dalam kendali kita. Mengapa begitu? Karena kalau kita menaruh kebahagiaan di luar kendali kita seperti harta, mantan, orang tua, kapan kita bahagianya ? Hidup itu sederhana,Nduk. Yang rumit itu kamu. Jian Ambyar!!!

Editor: Tika Ayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.