Membandingkan Agama: Keperawanan Maria dan Muhammad yang Ummi

Membandingkan Agama: Keperawanan Maria dan Muhammad yang Ummi

Penulis: Hendrik Khoirul

Perjanjian antara manusia dengan Tuhan, mengharuskan bagi manusia untuk bersikap amanah sebagai makhluk berakal dan bebas, dengan segala keuntungan dan bahaya yang terkandung di dalamnya. Tuhan menyatakan kepada manusia tentang kedudukan-Nya: “Bukankah aku Tuhanmu?” (Al-Quran 7;172), dan manusia menjawab: “Ya, kami membenarkan.” Dan dengan itu manusia menerima beban untuk menjadi hamba-Nya. Dalam jawaban ini terkandung rahasia dan keunikan eksistensi manusia, yang menjadi khalifah (pengganti) Tuhan di bumi, Tuhan tidak membiarkan bumi begitu saja dikelola manusia tanpa buku panduan, melalui Muhammad buku petunjuk itu diberikan untuk umatnya.

Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia agar ia mampu memenuhi janjinya kepada Tuhan. Karenanya Al-Quran menjadi pusat kehidupan Islam. Al-Quran adalah dunia di mana seorang Muslim hidup. Ketika ia dilahirkan, ditelinganya dibisikkan syahadat yang terdapat dalam Al-Quran. Ia mempelajari Al-Quran sejak ia mulai bisa berbicara. Ia mengulangnya setiap hari di dalam salat. Ia dinikahkan melalui pembacaan Al-Quran dan ketika ia mati pun, dibacakan Al-Quran kepadanya, Al-Quran adalah serat yang membentuk tenunan kehidupannya; ayat-ayat Al-Quran adalah benang yang menjadi rajutan jiwanya.

Bagi Muslim Al-Quran adalah petunjuk Tuhan yang disampaikan kepada Rasul-Nya melalui malaikat Jibril. Rasul adalah orang yang terpilih untuk menyampaikan kata-kata-Nya kepada umat manusia. Bukan hanya arti dan makna Al-Quran yang datang dari Tuhan, tetapi juga bentuk, sehingga Al-Quran adalah aspek yang integral dari petunjuk-Nya.

Al-Quran diturunkan kepada Muhammad di Gua Hira dekat Mekah, ketika ia sedang bertapa. Tiba-tiba datang Malaikat Jibril,  yang fungsinya serupa dengan roh kudus di dalam Kristen, dan berkata: “Iqra,” “Bacalah!” Sejak peristiwa yang agung itu Al-Quran mulai diturunkan. Kata “iqra” menunjukkan bahwa di dalam Islam, seperti juga di dalam agama-agama lain, petunjuk Tuhan dilambangkan dengan sebuah buku, dan sesungguhnya Islam memandang penganut agama-agama tersebut sebagai ahli Alkitab.

Muhammad menjawab kepada Jibril, bahwa ia tidak dapat membaca. Tetapi petunjuk Tuhan telah dengan sendirinya memberikan kekuatan kepada Muhammad untuk membaca kitab-Nya, dan sejak itu ia menjadi penerima petunjuk Tuhan dan menyebarkannya kepada manusia. Hal ini memang sulit untuk dimengerti. Bagaimana seorang yang buta huruf dapat membaca Al-Quran yang merupakan karya yang agung. Banyak pengarang Barat yang membahas hal ini dengan asumsi yang biasanya disembunyikan dibalik semboyan “obyektivitas” dan “pendekatan ilmiah”, bahwa Al-Quran adalah ciptaan Muhammad, yang tentunya seorang penyair besar dan tidak mungkin buta huruf. Ia tentu telah mempelajari banyak hal di sana-sini, dari kelompok Yahudi di Madinah atau dari pendeta Kristen di Syiria, dan menggabungkan hal-hal yang dipelajarinya dalam sebuah kitab, yang menurut anggapan mereka merupakan tiruan murah dari kitab-kitab suci lain, seperti Torah dan Gospel.

Adalah hal yang wajar bila pandangan yang serupa itu datang dari mereka yang menolak semua agama, tetapi aneh apabila datang dari mereka yang mengakui agama-agama Yahudi dan Kristen sebagai petunjuk Tuhan. Membandingkan Islam dan Kristen dengan membandingkan Muhammad dan Kristus, Al-Quran dan Injil, Jibril dan Roh Kudus, dan seterusnya, mungkin dapat menjelaskan struktur dari kedua agama tersebut. Tetapi untuk memahami arti Al-Quran bagi Muslim dan mengapa mereka yakin bahwa Muhammad buta huruf, kita harus melakukan perbandingan dari segi lain.

Di dalam Islam, Al-Quran adalah kata-kata Tuhan; di dalam Kristen, Kristuslah yang menjadi kata-kata-Nya. Di dalam Kristen: Maria adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan petunjuk-Nya; di dalam Islam alat itu adalah Muhammad. Muhammad haruslah buta huruf seperti juga Maria haruslah perawan. Petunjuk Tuhan disampaikan melalui sesuatu yang murni. Apabila petunjuk itu berupa manusia, maka kemurniannya dilambangkan dengan keperawanan; apabila petunjuk itu berupa sesuatu yang verbal, maka kemurniannya dilambangkan dengan sifat penerimanya yang buta huruf. Secara logis, orang tidak dapat menolak keadaan Muhammad yang buta huruf dan pada saat yang sama menerima keperawanan Maria. Kedua hal ini melambangkan aspek yang terdalam dari misteri petunjuk Tuhan, dan apabila hal ini telah disadari, orang tidak dapat menerima yang satu tetapi menolak yang lain.

Keadaan Muhammad yang buta huruf menunjukkan bahwa manusia sama sekali pasif di hadapan Tuhan. Muhammad sama sekali pasif ketika berhadapan muka dengan Tuhan. Ia tidak mampu menambahkan apa-apa ke dalam petunjuk-Nya. Ia tidak mengarang sebuah buku, melainkan hanya menyampaikan kitab-Nya kepada umat manusia.

Lebih jauh lagi analogi ini menunjukkan bahwa Al-Quran, sebagai kalam Tuhan, mempunyai kedudukan serupa dengan Kristus di dalam Kristen, dan bentuk lahir Al-Quran berkedudukan sama dengan tubuh Kristus. Bentuk lahir Al-Quran yaitu bahasa Arab, tak terpisahkan dari Al-Quran itu sendiri. Bahas Arab dimuliakan di dalam Islam bukan sebagai bahasa kultural dan ilmiah, sebab dalam hal ini bahasa Persia memainkan peranan yang lebih penting, terutama di bagian Timur dunia Islam, dari Persia sampai Cina. Bahasa Arab dianggap suci karena ia menjadi bagian integral Al-Quran, yang bunyi dan pengucapannya memegang peranan penting dalam ritus Islam.

Ini tidak berarti bahwa Islam diturunkan untuk orang Arab saja, dan untuk menjadi Muslim yang baik, orang tidak perlu menguasai bahasa Arab secara sempurna. Banyak orang suci Muslim yang hampir tidak dapat membaca dan menulis huruf Arab. Tetapi ayat Al-Quran yang dibaca dalam berbagai ritus harus diucapkan dalam bahasa Arab agar kita dapat menghayati hubungan dengan yang Agung dan mendapatkan barakah dari kitab-Nya.

Oleh karena itu seorang muslim, setidak-tidaknya harus menguasai ayat Al-Quran yang penting dalam ritus Islam, dan itu pulalah yang menyebabkan Al-Quran tidak boleh diterjemahkan untuk tujuan peribadatan. Muslim di seluruh dunia baik Arab maupun bukan mempelajari bahasa Arab-Quran, yang menjadi bagian dari pendidikan agama, agar ia dapat memahami kitab-Nya dengan lebih baik.

Sulit bagi orang Barat untuk memahami peranan bahasa suci di dalam agama, sebab di dalam Kristen hal yang serupa ini tidak dikenal. Hal ini terjadi pula pada Muslim modern, baik non arab yang berusaha menggantikan pemakaian bahasa Arab dalam ritus Islam, dengan alasan bahwa Tuhan tidak menurunkan Islam untuk orang Arab saja, maupun Muslim Arab yang ingin melakukan sekularisasi atas bahasa Al-Quran. Dibalik alasan-alasan ini sering tersembunyi alasan nasionalisme, etik dan linguistik.

Agar dapat memahami peranan bahasa Arab di dalam Islam, kita harus membandingkan berbagai tradisi keagamaan. Ada dua jenis tradisi keagamaan: yang didasarkan pada pribadi penyebarnya yang dianggap inkarnasi Tuhan yang di dalam Hinduisme disebut “avatara”, sehingga penyebar agama tersebut dipandang sebagai kalam-Nya. Dalam tradisi ini tubuh sang penyebar agama disamakan dengan bentuk lahir dari kalam tersebut. Misalnya di dalam Kristen, Kristus adalah kalam-Nya sehingga tidak menjadi soal apakah ritus dilakukan dalam bahasa Latin, Yunani, Arab, atau Persia agar pelakunya dapat ikut serta dalam “darah dan tubuh Kristus”. Di dalam Katolik bahasa Latin, adalah bahasa liturgi, bukan bahasa suci.

Di luar tradisi Ibrahim, misalkan saja Buddhisme, Budha adalah avatara atau inkarnasi. Teks Buddha awal tertulis dalam bahasa Sanskrit, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Pali, Tamil, Cina, Jepang dan sebagainya. Seseorang bisa menjadi Buddhis yang baik tanpa perlu menguasai bahasa Sanskrit. Di sini terlihat sekali lagi bahwa bentuk lahir dari kata-kata-Nya bukanlah sebuah bahasa, sebab kata-kata-Nya adalah aspek lahiriah sang Budha, yang kita tahu bahwa keindahan Buddhisme terletak pada imaji tentang Budha sendiri.

Selain tradisi keagamaan di atas, ada pula tradisi yang memandang penyebarnya bukan sebagai firman Tuhan melainkan sebagai pembawa firman tersebut. Sebenarnya dalam aspek inilah Islam memandang semua agama, sehingga semua pembawa petunjuk Tuhan disebut Rasul, yang berarti pembawa “risalah-Nya”. Sang penyebar agama bukanlah firman Tuhan, dan tubuhnya bukan bentuk lahir dari kalam-Nya, sehingga harus ada bahasa suci yang berhubungan erat dengan isi petunjuk-Nya dan menjadi alat ekspresinya dari firman-Nya. Bunyi dan pengucapan dari bahasa suci itu adalah bagian dari petunjuk-Nya, yang memegang peranan yang serupa dengan tubuh Kristus di dalam Kristen.

Sebagai contoh dapat disebut agama Yahudi, Islam dan di dalam iklim yang berbeda Hinduisme. Musa adalah Nabi yang menyebarkan petunjuk Tuhan dalam bahasa Ibrani. Seorang Yahudi ortodoks dapat menulis tentang filsafat dan teologi Yahudi dalam bahasa Arab seperti Maimonides, tetapi ia tidak dapat melakukan ritus dalam bahasa lain kecuali dalam bahasa Ibrani. Ia dapat melakukan analisa filologis dan filosofis atas Torah dalam bahasa Yunani seperti Philo, tetapi ia tidak dapat menghayati kehadiran-Nya di dalam Torah kecuali dengan membacanya dalam bahasa Ibrani. Di dalam Hinduisme, seseorang dapat membaca Veda dalam bahasa Bengali ratusan kali, tetapi dalam ritus, seorang Brahma harus membaca Veda dalam bahasa Sanskrit. Hal ini juga terjadi di atas bahasa Ibrani dan Aramea di dalam Kristen.

 

Sumber: Buku Islam dalam Cita dan Fakta Syed Hossein NasrIslam 
Editor: Wulan
Foto: Internet

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.