Mengenal Inseminasi Buatan, Teknologi Reproduksi untuk Meningkatkan Mutu Ternak

Mengenal Inseminasi Buatan, Teknologi Reproduksi untuk Meningkatkan Mutu Ternak

Penulis: Muhammad Fauzi*

Gagasanonline.com – Protein hewani baik yang berasal dari daging maupun susu memiliki manfaat yang cukup besar dalam membangun ketahanan pangan maupun menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat dan cerdas. Untuk memenuhi kebutuhan masyrakat terhadap daging sapi, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan swasambeda daging sapi nasional. Program ini pada awalnya diharapkan tercapai pada tahun 2010, kemudian direvisi menjadi tahun 2014. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan protein tersebut adalah dengan meningkatkan populasi dan produktivitas ternak sapi.

Peningkatan populasi dan produktvitas ternak dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi yang rutin dipakai dalam upaya meningkatkan produksi ternak baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya adalah inseminasi buatan.

Aplikasi teknologi Inseminasi Buatan  IB) merupakan salah satu teknologi unggulan untuk meningkatkan mutu produktivitas dan populasi ternak. Tujuan dari IB adalah untuk memperbaiki mutu genetik dan fenotipe hewan,menghemat waktu dan biaya karena penjantan tidak diharuskan dibawa ketempat yang diperlukan, meningkatkan kelahiran dalam waktu yang dibutuhkan.

Yang dimaksud IB atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan sperma (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut inseminastion gun.

Keuntungan IB adalah menghemat biaya produksi, mencegah inbreeding (perkawinan sekerabat: red), sperma dapat disimpan dalam jangka lama dan tidak harus mencari penjatan. Sedangkan kekurangan dari sistem IB adalah dapat terjadinya infeksi disaluran kelamin apabila terjadi pendarahan saat inseminasi buatan, kebuntingan tidak akan terjadi apabila indentifikasi birahi tidak dilakukan dengan benar dan kesulitan melahirkan apabila induknya kecil sedangkan bibit yang dimasukkan berukuran besar.

Prosedur inseminasi buatan tersebut meliputi:

  1. Seleksi Pejantan

Penjantan-pejantan unggul diseleksi dari program breeding terencana dipakai dalam penyediaan semen beku. Seekor penjantan unggul dapat menghasilkan 25.000 ekor anak per tahun melalui penggunaan semen beku, sehingga selama hidup dari seekor pejantan dapat diperoleh 150.000 ekor anak ( Sumbung, 2002).

  1. Penampungan Semen/sperma

Penampungan semen dapat dilakukan dengan cara menggunakan alat kelamin betina buatan, elektroejakulator, dan pengurutan. Penampungan semen yang umum dan rutin dilakukan dalam kegiatan IB biasanya menggunakan alat kelamin betina buatan. alat buatan tersebut berupa selonsong karet yang keras dan kuat kemudian dilapisi dengan karet yang lembut dan diberi pelicin (vaselin), salah satu ujungnya dilengkapi dengan tabung untuk menampung semen.

  1. Evaluasi Semen

Sesudah penampungan semen, dilakukan evaluasi semen berupa penilaian keadaan umum (volume, warna, dan konsistensi), mortalitas (gerakan massa dan gerakan individual), konsentrasi dan penilaian morfologik (kelainan primer dan sukender).

  1. Pengeceran Semen

Pengenceran semen dapat dilakukan dengan menggunakan bahan seperti buffer isotonik yang berisi karbohidrat sebagi sumber energi, protein pelindung, antibiotik, dan semen yang akan dibekukan ditambah dengan crioprotectan (glycerol atau dimethylsulphoxide).

Semen sapi dapat diencerkan 10 -75 kali, semen domba 5 -10 kali, dan semen kambing 10 -25 kali, tetapi semen babi dan kuda hanya 2 – 4 kali saja. Satu kali inseminasi diperlukan 10 – 15 juta spermatozoa motil pada sapi, 200 juta padadomba dan kambing, 500 juta pada babi, 1.500 juta pada kuda. Dengan dosis iseminasi buatan ini dapat dihitung berapa banyak betina dapat diinseminasi dari seekor penjantan.

  1. Penyimpanan/Pembekuan Semen

Semen yang telah diencerkan yang tidak dapat lansgung digunakan, dapat disimpan atau dibekukan. Semen dimasukkan ke dalam straw plastik volume 0,5 cc atau 0,25 cc (mini straw) kemudian dibekukan dalam nitrogen cair pada suhu – 196 derajat celcius di dalam kontainer.

  1. Thawing/ Pencairan Semen

Semen yang telah dibekukan dapat dicairkan kembali (Thawing) pada temperatur tertentu, kemudian langsung diinseminasikan ke dalam cerviks atau corpus uteri. Semen yang sudah dicairkan tidak boleh dikembalikkan lagi/dibekukan tetapi harus segera dideposisikan pada saluran reproduksi betina.

  1. Pelaksanaan Inseminasi Buatan

Pelaksanaan inseminasi buatan meliputi: deteksi berahi, waktu optimun untuk inseminasi, tempat deposisi semen, dan metode inseminasi buatan.

a. Deteksi berahi, dapat dilakukan oeh peternak dengan melakukan pengawasan secaraintensif kepada ternak. Singkronisasi berahi dapat dilakukan untuk mendapatkan kelahirann anak dalam waktu yang bersamaan, terutama untuk memperhitungkan musim saat kelahiran.

b. Waktu optimum untuk inseminasi, perlu diketahui agar diperoleh angka konsepsiyang tinggi. Lama berahi pada masing-masing jenis ternak berbeda, sehingga waktuoptimum untuk inseminasi berbeda – beda.

c. Tempat deposisi semen, yang paling baik untuk memperoleh angka konsepsi palingtinggi dilakukan pada posisi 4 yaitu pada pangkal carpus uteri di belakang cerviks.

d. Cara pelaksanaan IB, ada dua metode yaitu metode rektovaginal dan metode Metode rektovaginal digunakan pada ternak besar sedang metode spekulum padaternak kecil (domba dan kambing).

*Penulis adalah mahasiswa semester IV Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau

Sumber foto: Republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.