Sukses Tidak Akan Didapat Bila Tidak Mencoba

Sukses Tidak Akan Didapat Bila Tidak Mencoba

Gagasanonline.com- Perjuangan tak selalu berujung keberhasilan, tetapi juga harus siap dengan kegagalan. Berani mencoba, memiliki target, dan menerapkan kedisiplinan, mengantarkan pria 39 tahun ini pada konferensi internasional beberapa waktu lalu.

Oleh: Lia Resti Andani

Namanya Ade Jamarudin, ia adalah dosen Tafsir dan Ulumul Qur’an, Fakultas Ushuluddin, UIN Suska Riau. Pria kelahiran Sumedang, 12 Maret 1980 ini merupakan satu-satunya peserta dari Riau yang lolos dalam jurnal internasional Asian and African Muslim Schoolar (AAMS). Konferensi internasional ini diadakan di Bandung selama 3 hari terhitung sejak 27-29 Maret 2019.

Pada konferensi tersebut, pria yang akrab di sapa Jamal ini mempresentasikan jurnalnya berjudul Qur’anic – Based Natio Character Education yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Namun itu bukanlah pertama kalinya ia lolos dalam jurnal Internasional. “Kalau konferensinya sudah empat kali,,sama yang kemarin jadi lima. Sudah terbiasa,” ungkapnya ketika ditemui di kantor Lembaga Penjamin Mutu  (LPM), Islamic Center. Senin (01/04/2019).

Meskipun sudah lima kali lolos dalam seleksi jurnal Internasional tetapi ayah dari tiga anak ini mengaku mengalami kesulitan dalam menulis jurnal, apalagi ada beberapa persyaratan menulis yang telah ditetapkan oleh panitia Internasional. Bahkan sebelum lolos seleksi, jurnal kelimanya sempat beberapa kali mendapat penolakan dari panitia karena tidak sesuai dengan persyaratan. Namun berkat kerja keras yang ia lakukan, ia pun diterima di Konferensi Internasional.

“Alhamdulillah, dengan kerja keras ini saya bisa lolos perwakilan dari Riau untuk bisa mempresentasikan konferensi ini,” ucapnya penuh syukur.

Baca: Tamara Pratiwi, Duta Muslimah Preneur 2019

Jurnal internasional pertamanya lolos pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2017, tentang penafsiran ayat-ayat yang mengandung pluralisme, kemudian hasil penafsiran tersebut dimasukkan dalam jurnal Ushuluddin dan jurnal yang terindeks oleh Kementrian Agama.

Tak ada gading yang tak retak, Jamal juga pernah gagal ketika mengirimkan jurnalnya pada konferensi oleh Kementrian Agama.“ Lima judul dikirim, Alhamdulillah satupun tidak diterima.” Ucapnya sambil tertawa. Tapi ia tidak berputus asa, lima judul yang ia tulis itu satu persatu dikirim ke jurnal lain , moto dalam hidupnya adalah “if you never trying, you never success”.

Semua keberhasilan itu tentunya tidak didapat dengan mudah, untuk mengikuti konferensi internasional tersebut ia mesti mempersiapkan Scopus enam bulan sebelum pengumpulan. Bahkan saat ini ia sedang mempersiapkan jurnal AICIS 2019 di Jakarta, September mendatang.

Setiap informasi konferensi didapat, langsung ia simpan dan dikumpulkan. Kemudian dicetak dan ditempelkan di paku dinding rumahnya, agar informasi itu tidak hilang. Ia tak lupa membuat target dalam hidupnya, sebab terinspirasi dari Marwah Daud Ibrahim Tokoh wanita asal Sulawesi Selatan. Ketika hendak membuat jurnal 60 halaman, ia menargetkan selama sebulan dengan menulis satu hari dua halaman. Begitu pula ketika membaca sebuah buku.

“Umpamanya buku tersebut ada tujuh bab, maka harus dibaca satu per hari. Mengerti atau tidak itu urusan nanti, yang penting dibaca dulu,” tambahnya.

Ia juga mengatakan, dalam waktu 24 jam banyak hal yang bisa dilakukan. Hanya saja, katanya, waktu itu sering terbuang percuma. Ia berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin, Setiap harinya ia hanya menghabiskan waktu tidur malam selama dua sampai tiga jam saja, waktunya banyak digunakan untuk menulis dan membaca terutama di malam hari.

Pernah mengenyam pendidikan di pesantren,  ajaran yang ia dapat diterapkan hingga saat ini, yaitu ilmu didapatkan di malam hari ketika kebanyakan orang sedang menikmati waktu tidur. Sambil membaca Sayyidul Istighfar, ia percaya ilmu Allah datang pada waktu itu.

Ketika mulai merasa lelah, biasanya ia beristirahat sejenak dengan menyulut rokok sembari meminum kopi atau keluar sebentar untuk  menghirup udara malam. Bahkan ia juga pernah berolahraga pada pukul 03.00 WIB dini hari untuk menyegarkan badan dan otaknya.

Jamal mulai menulis karya tulisnya sejak kuliah S2. Selain menulis jurnal, ia  juga aktif dalam menulis buku seputar ilmu-ilmu agama dan pendidikan. Ia berharap ilmu-ilmu dikumpulkan dalam bentuk tulisan tersebut dapat dibaca banyak orang, setidaknya ada hal yang ia tinggalkan di dunia, ia tidak mau ilmu itu hilang begitu saja.

Kesuksesan yang ia raih tentunya tidak lepas dari dukungan keluarga terutama sang istri Rd Fatimatuzzahro SPd, yang selalu mendukung suaminya ini untuk ikut konferensi internasional. Ia juga mendapatkan dukungan dari pihak kampus dan lembaga LPM.

Reporter: Lia Resti Andani**
Editor: Kiki Mardianti
Foto: Lia**

1 Komentar


  1. Mantap pak..smoga kesuksesannya bisa dibagi dengan saya khususnya dan seluruh masyarakat pada umumnya..
    #memohon untuk dapat memberikan motivasi bimbingan dalam menuju kesuksesan🙏

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.