Larangan Mahasiswi Bercadar di UIN Suka Yogyakarta

Larangan Mahasiswi Bercadar di UIN Suka Yogyakarta

Gagasanonline.com- Sekarang ini sangat jelas kita saksikan hal-hal konyol yang terjadi di dunia pendidikan, khususnya di negeri yang kita cintai ini. Seperti yang terjadi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terkait larangan mahasiswi bercadar.

Ya, itu Universitas Islam Negeri. Di mana kita mengetahui bahwa di UIN atau IAIN itu memang tidak sedikit mahasiswi yang menggunakan cadar. Bahkan di kampus yang tidak ada merek Islamnya masih ada mahasiswi yang menggunakan cadar.

Bukan baru-baru ini saja mahasiswi memakai cadar atau dua tahun belakangan ini. Dari zaman dahulu ada juga orang yang memakai cadar, baik di lingkungan masyarakat maupun pendidikan.

Lalu ketika larangan seperti ini muncul, menurut saya terlihat lucu dan terasa miris. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh si petinggi kampus itu? Sebelum ia melarang hal konyol ini pasti dia pernah melihat orang menggunakan cadar.

Kalau tidak ada masalah dengan cadar, lantas mengapa sekarang di larang? jika ada masalah silahkan tunjukkan ke mahasiswi yang anda larang untuk menggunakan cadar tersebut. Tunjukkan ke publik apa masalahnya orang memakai cadar.

Kalaulah sekedar dugaan saja, anak SD juga bisa menduga. Misalnya hari ini guru tidak masuk kelas dan akan pulang cepat. Lalu si petinggi kampus itu menduga kalau mahasiswinya menggunakan cadar akan mengakibatkan terbentuknya sifat-sifat radikalisme atau mahasiswi tersebut menutup diri dengan lingkungan sekitar. Saya rasa itu cuma pledoi saja.

Saya bukan merasa paling berpengalaman sejagat raya, tapi dari apa yang sudah saya alami selama hidup 18 tahun, pernah ada waktunya saya hidup di lingkup orang-orang yang bercadar dan saya merasa tidak masalah. Saya punya teman seperti mereka yang menggunakan cadar dan mereka orangnya baik tidak menutup diri sama sekali untuk bersosial. Tetangga saya juga ada beberapa yang menggunakan cadar dan mereka sama seperti Ibu saya yang tidak menggunakan cadar, berhubungan dengan tetangga lain, lancar-lancar saja berhubungan sosial.

Untuk para petinggi kampus yang tidak saya hormati, karena saya lebih menghormati Allah SWT yang telah menciptakan saya. Itu radikal bukan? Tergantung individu memandangnya, bisa saja saya bertanya ke si A itu salah satu sifat radikalisme, lalu saya bertanya ke si B itu sama sekali tidak radikal. Dan pandangan si A dan si B berbeda, mereka saling menghargai perbedaan seperti apa yang dianjurkan oleh Negeri ini.

Sebaiknya di lingkungan pendidikan, haruslah saling menghargai. sesama manusia, tidak ada salahnya untuk saling menghargai. Pahamilah mahasiswi yang menggunakan cadar itu, toh juga selama ini saya rasa mahasiswa selalu menghargai dosen-dosen dan para atasannya.

Bagaimana jika para petinggi kampus berada di posisi para mahasiswi itu. Misalnya, mahasiswi memberikan aturan kalau dosen sangat dilarang untuk tidak masuk pada jam mengajarnya atau dilarang keras terlambat masuk kelas. Saya rasa itu sangat tidak menyenangkan dan menjadi beban di hidup kita masing-masing.

Maka dari itu, hargailah setiap individu memandang sesuatu. Mahasiswi yang menggunakan cadar itu punya pandangan masing-masing tentang cadarnya, dan kalian para petinggi kampus tidak berhak menduga itu akan menimbulkan radikalisme. Pandangan mereka seperti itu juga atas karunianya Sang Pencipta, dan coba dibalik jika kalian para petinggi kampus yang memiliki pandangan seperti mereka tentang cadarnya.

Sama seperti halnya, ketika seseorang menyebut orang Kafir itu jauh dari kata baik. Ya apa mereka tahu-menahu akan dilahirkan menjadi seorang kafir. Apa mereka bisa memilih dan menolak untuk tidak dilahirkan menjadi manusia kafir. Ya menurut mereka kafir adalah yang terbaik. Sama seperti saya, menurut saya Islam lah yang terbaik. Dan coba kalau keadaan ini dibalik.

Setiap manusia punya hak mengekspresikan dirinya masing-masing. Setiap manusia memiliki hak asasi manusia. Bukan berarti saya berkata secara tidak langsung istilah dilarang melarang. Melarang tidak ada salahnya jika apa yang dilarang itu bermanfaat untuk keseluruhan.

Jangan manfaatnya untuk golongan tertentu saja. Melarang boleh jika hal yang dilarang itu menyebabkan kerugian pada diri sendiri atau orang banyak. Tetapi jika sama sekali tidak merugikan siapa-siapa apa gunanya dilarang.

Seharusnya kita yang hidup di negeri yang penuh dengan keanekaragaman budaya ini bisa mengatasi perbedaan. Karena tidak seharusnya kita memandang perbedaan dengan hal buruk, menanyakan perbedaan itu dari mana. Tapi yang harus kita lakukan adalah menyatukan perbedaan itu tanpa harus menekan golongan lain. Karena Negeri ini membutuhkan hal-hal yang menghadang terjadinya perpecahan. Dan untuk mengantisipasi tidak adanya sifat-sifat radikalisme itu dengan cara saling menghargai perbedaan.

 

Penulis: Bagus Pribadi**

Editor: Kiki Mardianti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.