Air Terjun Lubuak Bulan, Selendang Bidadari yang Menjuntai ke Bumi

Air Terjun Lubuak Bulan, Selendang Bidadari yang Menjuntai ke Bumi

Gagasanonline.com: Surga, Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan betapa indahnya sebuah ciptaan Tuhan yang terletak di atas Bukit Kenagarian Mungka, Kota Payakumbuh Sumatera Barat (Sumbar). Di atas bukit itu terdapat sebuah Air Terjun dengan ketinggian 50 Meter yang diberi nama Lubuak Bulan oleh masyarakat setempat.

Penamaan Air Terjun Lubuak Bulan karena air yang jatuh ke lubuk (kolam) berupa cekungan batu yang berbentuk seperti bulan. “Dicaliak dari ateh baru nampak bantuak bulan tu (Red, Dilihat dari atas baru kelihatan bentuk bulan itu)” kata Hanif, anak penduduk Kenagarian Mungka dengan bahasa minangnya yang kental, Senin (8/1/2018).

Aliran Lubuak bulan yang jatuh ke kolam ini tidak memiliki aliran sungai seperti air terjun pada umumnya. Aliranya menghilang memasuki celah-celah batu menyerupai goa yang panjang sekitar satu kilometer ke hilir dan berakhir ke sawah-sawah penduduk.

Untuk mencapai Lubuak Bulan, dari Kota Payakumbuh pengunjung bisa mengikuti petunjuk arah ke daerah Kanagarian Mungka, membutuhkan waktu setidaknya dua jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. Sepanjang perjalanan pengunjung akan disuguhi pemandangan hamparan sawah, kolam ikan yang di atasnya terdapat ayam-ayam petelur yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Kenagarian Mungka.

Setelah melewati hamparan sawah, nantinya pengunjung akan menjumpai ruas jalan aspal yang luasnya cukup untuk satu kendaraan roda dua menapaki punggung bukit berliku dan terjal sepanjang 17 Kilometer. Menapaki punggung bukit ini pengunjung mendapati suara-suara monyet hutan yang kerap menyapa. Dari atas bukit ini pengunjung juga bisa menikmati pemandangan Kenagarian Mungka, namun tidak untuk waktu yang lama, sebab dari atas bukit banyak warga yang turun melalui bukit ini, dan jika berpapasan harus mencari ruas jalan yang luas supaya bisa berbagi jalan.

Hampir dua jam menapaki punggung bukit sampailah di pemukiman warga sekitar air terjun ini. Perjalanan dengan kendaraan roda dua harus dilanjutkan dengan berjalan kaki, sebab nantinya akan menuruni bukit lagi dan harus memegang akar pohon disekitarnya.

Selama perjalanan dari pemukiman warga hingga ke air terjun, banyak dijumpai pepohonan yang menjulang tinggi serta ladang gambir warga sekitar. Usai melewati ladang gambir dengan jalan yang berlumpur, pengunjung harus bersiap menuruni bukit dengan tebing yang curam dan berundak-undak menuju kaki lembah, dan mulai terdengar suara gemuruh air terjun.

Sebelum menuruni tebing, pengunjung akan melewati sebuah aliran sungai kecil yang merupakan aliran air yang menjadi Air Terjun Lubuak Bulan. Dari sini terlihat jelas curamnya air tersebut jatuh. Melewati aliran ini pengunjung harus berhati-hati, sebab jika tidak, maka akan terjatuh bersama aliran air sungai yang jernih yang tidak tahu dari mana asalnya. “Daerah sini belum terkenal, maka itu belum ada yang menulusuri lebih jauh,” kata Hanif dengan semangat bercerita walau diterpa hujan kala itu.

Setelah melewati aliran sungai tersebut, pengunjung harus menuruni tebing sambil memegang akar pepohonan disekitarnya hingga sampai di Air Terjun Lubuak Bulan. Menurut Hanif yang juga menjadi pemandu wisata menuju air terjun ini mengatakan air terjun ini berasal dari patahan bumi. “Jadi dulunya ada gempa besar, jadilah seperti ini,” kata Hanif yang terbata-bata berbahasa Indonesia.

Di balik air terjun terdapat gua yang terbentuk dari patahan bumi, dari dalam gua ini pengunjung bisa menyaksikan air terjun layaknya selendang bidadari yang menjuntai ke Bumi. Sesampai di Bumi selendang itu hilang entah kemana seperti halnya aliran air terjun ini yang hilang menuju celah-celah batu yang membentuk goa yang panjangnya sekitar satu kilometer.

Di air terjun ini pengunjung tidak dibenarkan untuk berenang. Sebab derasnya air yang jatuh dan aliran air yang cukup deras memasuki celah bebatuan ini bahaya bagi mereka yang belum tahu secara utuh bagaimana keadaan sekitar. “Biasanya kalau sudah diberitahu seperti itu, pengunjung rata-rata menurut saja, paling pengunjung Cuma foto saja,” kata Hanif.

Fauziah Trianum, pengunjung dari Pekanbaru ini mengaku sangat menikmati suasana air terjun yang masih alami. Menurut Fauziah, air terjun disini mampu menghilangkan rasa bosan, lelah, dan letih dengan suasana yang sejuk. “Kalau boleh, ingin rasanya tinggal disini,” ungkapnya.

Walaupun tidak dibenarkan berenang, bagi Fauziah itu bukan masalah. Sebab menurutnya, melihat dan menikmati air terjun saja sudah sangat puas baginya. “Lagian airnya juga deres banget kan,” katanya.

Tidak ada biaya pemungutan untuk berkunjung di Air Terjun Lubuak Bulan ini. Pengunjung hanya cukup membayar uang parkir kendaraan yang parkir di pekarangan pemukiman warga dengan sukarela. “Air terjun di Sumbar ini rata-rata gratis, kecuali yang sudah dikelola untuk tujuan wisata nasional seperti Air Terjun Lembah Harau dan Air Terjun Lembah Anai,” Sebut Hanif.

Hanif berharap kedepannya, pengunjung air terjun bisa menjaga keasrian dan kesejukan Air Terjun Lubuak Bulan ini. “Jangan dirusakin pohon yang ada, mari bantu menjaga dan memperkenalkan air terjun ini kepada kawan-kawan yang lain,” kata Hanif sambil mengajak untuk kembali pulang sebab suara mengaji sudah terdengar menandakan hari sudah mau Maghrib.

Penulis: Adrial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *