Jadi Mahasiswa, Apa yang Kau Cari?

“Ilmu akan mati saat usahamu (kuliah) hanya sebatas mencari gelar,” itulah petuah salah seorang alumni Gagasan pada kami dalam sebuah diskusi.

Oleh Ferdy One Effendi. Hsb

Kuliah di perguruan tinggi tentunya dambaan semua orang. Apalagi di perguruan tinggi terkemuka. Tiap tahun ribuan orang bersaing untuk lulus di perguruan tinggi idaman. Akan tetapi tak semua orang beruntung, bisa menduduki salah satu kursi di ruang kuliah. Ada yang terkendala ekonomi, tak lulus tes masuk kuliah dan banyak kendala lainnya. Bersyukurlah kita yang berhasil merasakan hangatnya bangku kuliah. Sekali lagi bersyurkurlah, karena Tuhan memberikan kesempatan pada kita untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi–wadahnya kaum intelektual, katanya!–yang   mungkin banyak orang di luar sana berharap bisa kuliah tapi tak kesampaian. Lantas setelah menyandang status mahasiswa, apa yang kau cari?

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif  Kasim Riau atau UIN Suska Riau–salah satu kampus yang menerima ribuan mahasiswa baru tiap tahunnya.  Dan melahirkan ribuan sarjana dari tahun ke tahun. Jebolan UIN Suska berdiaspora mencari kerja di luar sana. Ada yang sukses memperoleh pekerjaan namun tak sedikit yang masih bertebaran mencari kerja kesana-kemari. Berbekal ijazah, mereka bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lainnya di tengah persaingan mencari kerja yang semakin ketat.

Sebuah ironi, dari data yang dirilis berbagai lembaga survei, perguruan tinggi menduduki peringkat pertama penyumbang pengangguran di negeri ini. Sebuah kenyataan pahit yang harus diterima pihak kampus–sebagai lembaga yang diharapkan mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas. Ini terjadi karena, selama kuliah mahasiswa kurang dibekali kemampuan soft skill. Sedangkan di luar sana, perusahaan tempat melamar kerja tak pernah menanyakan seberapa banyak tugas kuliah yang pernah kau kerjakan, tetapi yang mereka tanyakan, kemampuan apa yang kau miliki.

Ketika Ijazah jadi Tujuan
Apa sebetulnya tujuan kita menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku kuliah? Pola pikir sebagian besar mahasiswa hari ini nampaknya sudah jauh berubah ke arah pragmatis. Mahasiswa hari ini sudah terlalu larut dengan kenikmatan-kenikmatan instan, tanpa memikirkan efek sampingnya. Kuliah sekadar mengikuti tren kaum muda kebanyakan. Realitas hari ini menunjukkan bahwa banyak mahasiswa sudah dikendalikan oleh paham hedonisme. Yang ada dalam benak, yang penting bisa kuliah sambil happy-happy dan di akhir masa perkuliahan memperoleh ijazah.

Tujuan akhir kuliah sejatinya mengarah pada rancangan hidup yang akan kita jalani di masa mendatang. Siapa pun pasti menginginkan kehidupan mapan di masa depan. Tapi proses yang kita lewati jualah yang akan menentukan jadi apa kita nanti. Percayalah, usaha biasanya berbanding lurus dengan hasil. Tapi yang perlu kita ingat, tujuan menjadi mahasiswa adalah untuk mengubah pola pikir dan bersikap layaknya orang berpendidikan, cerdas berargumen, bijak dan tegas dalam mengambil keputusan dan berani menyikapi setiap persoalan. Jika masih bertingkah-laku layaknya anak sekolahan apa gunanya kau kuliah. Idealnya, begitulah tujuan kita kuliah. Bukan sekadar demi selembar ijazah dan perayaan momen wisuda.

Memakai toga, make up tebal dan riasan molek serta bertabur hadiah bunga, dan ucapan selamat serta kehadiran keluarga saat prosesi wisuda menjadi dambaan mahasiswa kebanyakan. Ditambah lagi nilai akademik yang bagus dengan legitimasi selembar ijazah–yang sebagian besar mahasiswa, kelak  tak tahu digunakan untuk apa. Itukah tujuan akhir kuliah?

Sarjana oh sarjana, mau kemana? Tak berlebihan rasanya pertanyaan itu ditujukan kepada mahasiswa yang sudah melalui proses perkuliahan di kampus, mengingat gelar sarjana yang diperoleh faktanya tak sesuai ekspektasi kerja yang diharapkan. Hitungan tahun dan semester terpaku pada harapan bisa dapat gelar dengan cepat.

Generasi muda yang cenderung memprioritaskan gelar sebagai target penyelesaian studi, sudah jadi hal lumrah. Tuntutan orangtua dan kampus mendesak mahasiswa mencari akal dan solusi agar bisa menjadi sarjana dalam waktu cepat, bukan waktu yang tepat. Ditambah lagi kebijakan kampus dan pemerintah yang terus mempersempit ruang gerak mahasiswa untuk mengembangkan diri di luar aktivitas kuliah. Tanpa kita sadari, mahasiswa hari ini terus diarahkan pada kesibukan akademik dan masa studi yang terus dipersingkat. Alhasil, saat selesai kuliah tidak tahu harus berbuat apa dan mau kemana dikarenakan tidak adanya kemampuan dan kreatifitas yang dimiliki, yang mestinya dikembangkan saat kuliah.

Dalam sebuah diskusi temu alumni Lembaga Pers Mahasiswa Gagasan akhir tahun lalu, salah satu alumni Gagasan, Hendri Rahman atau biasa dipanggil Hendrik Gembel mengungkapkan keprihatinannya melihat fenomena ini. Hendrik yang pernah menjabat ketua KPU Batam dan Ketua KPID Batam ini, menemukan banyak mahasiswa yang hanya mencari gelar sarjana saat kuliah, ketika selesai, mahasiswa tersebut malah tidak bekerja sesuai bidang kuliahnya. Alih-alih banyak mahasiswa yang terpakasa bekerja ‘rendahan’–daripada tak bekerja sama sekali. “Inti dari menjadi mahasiswa itu menuntut ilmu,” tekan Hendrik. “Jangan pernah berpikir jadi mahasiswa hanya untuk mendapatkan gelar,” ujar mantan aktivis ’98 ini mewejangi kami.

Kampus, notabenenya sebagai tempat menggembleng diri dan menggali semua ilmu dan pengetahuan yang ada. Walaupun ada sebagian mahasiswa beranggapan kuliah itu hanya belajar, hal itu tidak bisa dipungkiri. Datang, belajar, setelah itu pulang ke kos atau kongkow-kongkow enggak jelas.

Mahasiswa semacam itu sudah melewatkan kesempatan untuk menempa diri di berbagai organisasi yang ada. Mahasiswa yang aktif di organisasi umumnya memiliki kemampuan lebih dibanding mahasiswa yang hanya menghabiskan waktunya di ruang bersegi empat itu. Padahal kampus tak pernah menjamin pekerjaan bagi mahasiswanya.

Jika ini berlarut-larut, akan menimbulkan sikap apatisme yang akut di kalangan mahasiswa. Hal ini akan jadi masalah tak hanya saat ini, tapi juga di kemudian hari. Karena ketika mahasiswa tamat kuliah, mereka bingung mau kemana, mau kerja apa, dan tidak ada kemampuan dan kreatifitas yang bisa diandalkan.

“Makanya mahasiswa yang kurang aktif dalam organisasi lebih mengambil kesimpulan bagaimana bekerja di lembaga-lembaga pemerintahan, yang masuknya juga dengan berbagai cara yang tidak benar,” tambah Hendrik.

Alumni Gagasan lainnya, Ilzam Fauzi yang hadir malam itu menyampaikan hal senada. Menurutnya daya kritis, daya juang, dan kemampuan mahasiswa hari ini sangat lemah. Ini terjadi karena kebanyakan mahasiswa menyia-nyiakan waktu dengan hal yang tak bermanfaat. “Buat apa banyak S1, S2 kalau tidak bisa apa-apa, kan malu,” kata Ilzam yang saat ini merupakan pengusaha listrik, yang juga mantan mahasiswa–yang gagal menyelesaikan kuliahnya di kampus ini–tentunya dengan ‘pleidoinya’ yang masuk akal. “Memang mahasiswa bisa apa sih. Hanya bisa kuliah kan. Hasil karyanya mana sih. Palingan cuman skripsi yang paling tinggi,” sindirnya.

Ia berpendapat, cara pikir seperti itu akibat pondasi pendidikan yang tidak kokoh. Sistem pendidikan kita secara rasional melahirkan pemeras-pemeras. “Banyak orang pintar dan hebat di negeri ini. Tapi mereka menjual-belikan orang bodoh dan membodohi orang bodoh.”

Penulis adalah wartawan Gagasan

www.gagasan-online.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *