Sastra

AKU

Penulis: Sefrizel Rahayu Gagasanonline.com- Aku adalah ranting yang rapuhRapuh karna sudah layuTetap tumbuh walau berkali-kali terjatuhTetap bertahanWalau angin menerjang dengan kencang Aku adalah pecahan kacaBerusaha menyatukan kepingan demi kepingan polaBerharap bisa kembali seperti sedia kalaAku adalah sebuah lilin Baca juga: Masa Nanti Dicari tatkala penerang utamamu kelamMenjelma diriku bak pelita di keheningan malamAku adalah benalu rasaHinggap dan ingin selalu dianggap Ingin disanjung bagai bunga mawarTapi, semua terasa hambarRasanya aku amat

Secangkir Kopi Pahit untuk Hati yang Sakit

Penulis: Hendrik Khoirul Gagasanonline.com- Duduk di bangku paling sudut mencari sepi, aku menyesap kopi tanpa gula dengan perasaan hati tidak karuan. Aku tidak bisa membiarkan hatiku yang patah melarikanku pada seduh sedan air mata, di sinilah aku menahan, sebab di sini tidak mungkin aku menangis. Aku tidak tahu apa yang telah membawaku ke tempat ini, tapi di sinilah kini aku melarikan remukan hatiku. Aku terlalu ragu menyesap kopiku, aku tidak

Masa Nanti

Penulis: Abdul Hafizd Gagasanonline.com- Kini usia tak lagi mudaHidup tak lagi samaYang terabaikan kini terpikirkanSaat ini dan nanti jadi perdebatan Saat ini adalah rintanganNanti adalah harapanJangan sampai menjadi penyesalanKarena perjuangan yang terusaikan Tetaplah bertahan walau dalam kesengsaraanTetaplah berusaha walau dalam penderitaanKendati tak ada yang tahu masa depanNamun perjuangan harus tetap dilanjutkanAgar terwujudnya sebuah harapan Editor: Delfi Ana Harahap Foto: Lukas/Pexels.com

Sumpah Pemuda

Penulis: Kakak Indra Purnama Gagasanonline- Sejarah kelam akhir ceritaMembalut luka di negeri tercintaMata lekang para pemudaMelihat penjajah membabi buta Tahun 1928 pemuda bertekad abdi negaraMengikrarkan sumpah serapahJanji suci bela negara melawan penjajah di negeri tercinta Sumpah PemudaYa…Sumpah pemudaKesetian luhur janji yang berwibawaBakti negara tiada dustaDilantangkan pemuda-pemuda Nusantara dengan cita yang mulia Sumpah PemudaTitik tumpu semangat pejuangMencapai cita-cita kemerdekaanAngkat senjata pergi berperangMelawan penjajahan di negeri kesatuan Sumpah pemudaSerayu berhembus waktu berguliSemangat

Nasib Bangsa

Penulis: Abdul Hafidz Gagasanonline- Merdeka kini hanya kiasanNyata namun ilusiPenjajah memang sudah tak lagi adaMirisnya penguasa sebagai pengganti Atas nama rakyat mereka menjabatNamun nyatanya pura-pura tuli dan tak peduliSuara rakyat seolah tak terdengarMeski ribuan pengeras suara diperdengarkan Mereka tidak buta maupun tuliHanya saja hati nurani tak lagi ada artiHarapan bangsa telah sirna sudahGugur pahlawan  tak lagi dihargaiKemerdekaan kini dikhianati penguasa bangsa sendiri Editor: Delfi Ana Harahap Foto: Internet

Puisi: Kulihat Dinda

Penulis: Ahmad Mulya Jaelani Dinda berjalan Kaki tanpa alasMenyusuri trotoar yang panasTerik jadi teman Rumah diambil empunya tanahDinda seorang diriAyah sudah dililit hutangIbu dinda lupa jalan pulangRumah sudah hilang Ditepi trotoarDinda terus berjalanBelepotanDalam hati ia menangis IbuBisakah doa kita keraskan lagiDinda terus saja berjalanDia harus pulang Teringatkan pesan ibuSebelum waktu ayah akan dibawa orang berbadan beruangIbu dan ayah sudah tidak bisa lagi lanjutkan tanggungan hutang Ijazahmu sudah lebih dari rumahIlmu

Rintik Sendu

Penulis: Sefrizel Rahayu** Kita terlalu asing untuk saling menyapaBagaikan langit yang jauh dari bumiBegitu pula keadaan kitaEntah sampai kapan kita seperti iniSuaramu tidak terdengar lagiCandamu sudah hilang bagaikan ditelan bumiKini aku hanya bisa terdiam sepi Bagaimana aku bisa lupa ?Kamu selalu aku lihat di mana-manaPagiku senyummu menyapaSiangku candamu membuatku ingin tertawaMalamku rindu selalu datang secara tiba-tibaBayanganmu tak bisa hilang dari pikiranku Hatiku memaksa untuk bertemu denganmuSedangkan keadaan tidak berkata begituMungkin

Move On, Sahabat dan Traveling

Penulis: Winda Julianti Handayani** Gagasanonline.com– 21 Februari 2019, tepat seminggu aku mengurung diri di kamar, menangis seharian hingga mata membengkak. Hari Velentine, di mana para pasangan berbahagia saling berbagi coklat dan hadiah, tetapi ketika itu aku diputuskan. Hubungan kami berjalan selama tiga tahun dengan baik tanpa ada masalah yang berarti, dia memutuskan hubungan dengan alasan ingin fokus kuliah, dalam jangka waktu dua hari aku mendengar kabar, dia menjalin hubungan dengan

Negeri Komedi

Penulis: Muhammad Al Hafis* Gagasanonline.com-Hari ini kutuliskan cerita Sebuah negri komedi Lewat alunan musik Dengan segelas kopi Kusampaikan cerita ini Bersama mata yang memberontak Raksasa cakrawala Membuat opini konyol Anjing meraung kesakitan Seakan hidup hanya sekadar cuan Tikus hilang ditelan bumi pertiwi Bermain Tamiya ditengah banjir Pancasila khayalan belaka Aktivis sosmed menyebar Seperti virus corona yang berlari Rakyat jelata hanya bisa merangkak Para koruptor hanya bisa bersembunyi Mahasiswa hanya bisa

Mengingat Ibu

Penulis: Puspita Sari** Gagasanonline.com – Aku Zia, usia 15 tahun, anak dari hasil perceraian. Kedua orangtuaku bercerai sedari aku kecil, ayahku meninggalkan kami untuk hidup dengan keluarga barunya. Lalu ibuku juga ikut meninggalkanku pergi bekerja untuk mencari nafkah di negeri orang sejak sembilan tahun lalu. Aku sempat berpikir, apakah aku menjadi beban bagi ibuku? Kenapa ia juga meninggalkanku. Hal ini pun tidak luput menjadi pertanyaanku kepada nenekku. Ya, sekarang aku