Puisi

G30S/PKI

Oleh : Sefrizel Rahayu   Gagasanonline.com – Sebuah kisah yang bersejarah bagi bangsa Indonesia Dimana kita melihat perjuangan pahlawan kita Mereka yang gugur di Jakarta Yang bernamakan lubang buaya   Sejarah yang tak kan pernah terlupa Bagi rakyat Indonesia Dan akan selalu ada Sepanjang sejarah Indonesia   Malam berdarah Malam terburuk untuk direnungi Dimana para pahlawan dibantai dan disiksa Tetesan darah mereka menjadi saksi   G30S/PKI Di mana penyiksaan pahlawan

Untuk Langitku

Oleh : Sefrizel Rahayu Gagasanonline-Langit Dia mencintai banyak nama Saat dia mencintai angin dan awan Dia juga mencintai matahari dan bulan Kadang menangis bersama hujan Dan juga tertawa bersama jutaan bintang   Untuk langitku Aku ingin mencintaimu seperti pagi dan siang Kesetiaan kepada sore menanti malam Ketulusan yang selalu merindukan malam dan bintang Tapi aku tak ingin menjadi alasanmu menetes dikala hujan   Langitku Ingin rasanya aku menjadi bintang saat

Tersesat

Oleh : Sefrizel Rahayu Gagasanonline.com– Begitu gelap, hening dan sepiTak tahu di mana aku saat iniAndai rasa datang tanpa menyakitiMungkin aku tak akan berlari sejauh ini Aku tersesat di malam yang pekatRasa hampa kian melekatAku terdiam dalam sepiMenggapai butiran angan menjadi gumpalan mimpi Aku melangkah perlahan tapi pastiCahaya bulan bintang menyinariSembari air mata yang mengiringiTenggelam dalam gelap dan sunyi Aku terisak dalam kesendirianTerus berlari tanpa tujuanMelepaskan semua kekecewaanUntuk keterpurukan yang

Perkara Rindu

Penulis: Abdul Hafidz Di tengah keheningan malamSuara sepi datang menghampiriBersama rindu yang begitu kalutTak tau kepada siapa sebenarnyaPada orang tua, namun setiap hari kusapaPada kekasih, namun aku tak milikiHati ini rindu, namun tak tau pada siapa Kutatap langit malamHamparan luas bertaburkan bintangSeketika hadirkan sesak di dadaAir mata mulai menetesRindu yang sebelumnya entah milik siapaKini terjawab sudahAku tak sedang merindukan orang tuaApalagi seorang kekasihTapi yang sedang kurindukan adalah tuhanYang ciptakan semesta

AKU

Penulis: Sefrizel Rahayu Gagasanonline.com- Aku adalah ranting yang rapuhRapuh karna sudah layuTetap tumbuh walau berkali-kali terjatuhTetap bertahanWalau angin menerjang dengan kencang Aku adalah pecahan kacaBerusaha menyatukan kepingan demi kepingan polaBerharap bisa kembali seperti sedia kalaAku adalah sebuah lilin Baca juga: Masa Nanti Dicari tatkala penerang utamamu kelamMenjelma diriku bak pelita di keheningan malamAku adalah benalu rasaHinggap dan ingin selalu dianggap Ingin disanjung bagai bunga mawarTapi, semua terasa hambarRasanya aku amat

Masa Nanti

Penulis: Abdul Hafizd Gagasanonline.com- Kini usia tak lagi mudaHidup tak lagi samaYang terabaikan kini terpikirkanSaat ini dan nanti jadi perdebatan Saat ini adalah rintanganNanti adalah harapanJangan sampai menjadi penyesalanKarena perjuangan yang terusaikan Tetaplah bertahan walau dalam kesengsaraanTetaplah berusaha walau dalam penderitaanKendati tak ada yang tahu masa depanNamun perjuangan harus tetap dilanjutkanAgar terwujudnya sebuah harapan Editor: Delfi Ana Harahap Foto: Lukas/Pexels.com

Sumpah Pemuda

Penulis: Kakak Indra Purnama Gagasanonline- Sejarah kelam akhir ceritaMembalut luka di negeri tercintaMata lekang para pemudaMelihat penjajah membabi buta Tahun 1928 pemuda bertekad abdi negaraMengikrarkan sumpah serapahJanji suci bela negara melawan penjajah di negeri tercinta Sumpah PemudaYa…Sumpah pemudaKesetian luhur janji yang berwibawaBakti negara tiada dustaDilantangkan pemuda-pemuda Nusantara dengan cita yang mulia Sumpah PemudaTitik tumpu semangat pejuangMencapai cita-cita kemerdekaanAngkat senjata pergi berperangMelawan penjajahan di negeri kesatuan Sumpah pemudaSerayu berhembus waktu berguliSemangat

Nasib Bangsa

Penulis: Abdul Hafidz Gagasanonline- Merdeka kini hanya kiasanNyata namun ilusiPenjajah memang sudah tak lagi adaMirisnya penguasa sebagai pengganti Atas nama rakyat mereka menjabatNamun nyatanya pura-pura tuli dan tak peduliSuara rakyat seolah tak terdengarMeski ribuan pengeras suara diperdengarkan Mereka tidak buta maupun tuliHanya saja hati nurani tak lagi ada artiHarapan bangsa telah sirna sudahGugur pahlawan  tak lagi dihargaiKemerdekaan kini dikhianati penguasa bangsa sendiri Editor: Delfi Ana Harahap Foto: Internet

Puisi: Kulihat Dinda

Penulis: Ahmad Mulya Jaelani Dinda berjalan Kaki tanpa alasMenyusuri trotoar yang panasTerik jadi teman Rumah diambil empunya tanahDinda seorang diriAyah sudah dililit hutangIbu dinda lupa jalan pulangRumah sudah hilang Ditepi trotoarDinda terus berjalanBelepotanDalam hati ia menangis IbuBisakah doa kita keraskan lagiDinda terus saja berjalanDia harus pulang Teringatkan pesan ibuSebelum waktu ayah akan dibawa orang berbadan beruangIbu dan ayah sudah tidak bisa lagi lanjutkan tanggungan hutang Ijazahmu sudah lebih dari rumahIlmu

Rintik Sendu

Penulis: Sefrizel Rahayu** Kita terlalu asing untuk saling menyapaBagaikan langit yang jauh dari bumiBegitu pula keadaan kitaEntah sampai kapan kita seperti iniSuaramu tidak terdengar lagiCandamu sudah hilang bagaikan ditelan bumiKini aku hanya bisa terdiam sepi Bagaimana aku bisa lupa ?Kamu selalu aku lihat di mana-manaPagiku senyummu menyapaSiangku candamu membuatku ingin tertawaMalamku rindu selalu datang secara tiba-tibaBayanganmu tak bisa hilang dari pikiranku Hatiku memaksa untuk bertemu denganmuSedangkan keadaan tidak berkata begituMungkin