Mencari ‘Harta Karun’ di Pasar Jongkok Tembilahan

Mencari ‘Harta Karun’ di Pasar Jongkok Tembilahan

Penulis: Feri Kurniawan

Gagasanonline.com – Malam itu langit tampak elok dihiasi bintang, namun nafasku terasa sesak dan tubuhku terasa hangat, karena suasana yang ramai. Sejenak saya linglung saat berjalan di tengah pasar jongkok atau biasa disebut PJ.

Pasar jongkok melintang di sepanjang Jalan Sultan Syarif Kasim. Tempat yang strategis, berada di tengah kota membuatnya selalu ramai pengunjung lokal dan luar daerah. Biasanya para pedagang menggelar lapaknya sederhana, beralaskan terpal di pelataran toko membuatnya terkesan merakyat. Suasana riuh dan ramah para pedagang dan pembeli sedang tawar-menawar harga, membuat PJ ini selalu meriah.

PJ merupakan sebuah objek wisata belanja yang wajib dikunjungi di Tembilahan. PJ cukup unik karena transaksi dilakukan dengan cara jongkok. “Kalau capek ya berdiri sebentar sudah itu jongkok lagi,” kata Vivi seorang pengunjung, Rabu (29/1/2020). Namun sekarang sudah ada sebagian pedagang yang berjualan menggunakan tenda atau stan

Sore hari sekitar pukul 16.00 adalah waktu para pedagang untuk mempersiapkan dagangannya. Tak hanya orang dewasa, remaja pun turut berjualan di sini. PJ mulai didatangi masyarakat pukul 18.00 sampai tutup pukul 24.00. Namun, apa bila hujan atau sudah mendung para pedagang selalu bersiap-siap membereskan dagangan untuk pulang.

Iwan, salah satu pedagang sepatu mengatakan PJ ramai pengunjung ketika lebaran, konser, dan event besar seperti festival tahunan daerah karena banyak masyarakat di luar tembilahan yang berdatangan. Awal bulan juga menjadi momen ramai pengunjung karena orang-orang yang bekerja biasanya baru gajian.

“Tak sedikit pula yang kesini cuma untuk sekedar liat-liat,” tambah Iwan sambil tertawa.

Banyak yang bilang PJ merupakan surga belanja outfit second branded mulai dari topi, kemeja, kaus, celana, tas  hingga sepatu pria maupun wanita. Branded yang disuguhkan adalah Branded luar negeri yang sudah tidak asing di telinga seperti Nike, Adidas, Puma, Crocodile, Levis, Catterpillar dan Vans.

Iwan juga mengatakan pasokan barang berasal dari berbagai daerah di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Arab, bahkan Amerika. Sebelum didistribusikan barang second ini akan dimuat ke dalam karung secara acak lalu didistribusikan ke berbagai daerah salah satunya Tembilahan. Tak sedikit di dalam karung tersebut terdapat barang KW.

“Kalau beruntung, dalam karung akan mendapat banyak barang branded terkenal” tambah Iwan

Selama 18 tahun Iwan berdagang sepatu di pasar jongkok, merasakan  perbedaan paling mencolok. Perbedaan zaman dulu dan sekarang adalah harga perkarung yang semakin mahal dan semakin sedikit terdapat barang branded terkenal. “Dulu satu karung Rp 700 ribu dapat 75 pasang, sekarang Rp 1 juta 500 ribu cuma dapat 50 pasang,” keluhnya.

Tak hanya menjajakan outfit, PJ juga menjual atau tukar tambah barang elektronik seperti handpone bekas, laptop bekas bahkan speaker bekas. Salah satu alasan masyarakat lebih memilih berbelanja di PJ karena barang yang dijual dapat ditawar dengan sekeras-kerasnya.

Robi mengatakan ia lebih suka belanja di PJ karena negonya lebih nyaman daripada di toko. “Pernah kemarin dapat sepatu vans limited edition dengan harga cuma Rp 120 ribu setelah dinego, padahal harga awalnya Rp 300 ribu,” pungkasnya.

Reporter: Feri Kurniawan
Editor: Bagus Pribadi
Foto:Internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.