Kritik Sosial Isu Sanitasi dari Film Toilet: Ek Prem Katha

Kritik Sosial Isu Sanitasi dari Film Toilet: Ek Prem Katha

Penulis: Tika Ayu

Judul: Toilet: Ek Prem Katha
Sutradara: Shree Narayan Singh
Pemeran: Akshan Kumar, Bhumi Pednekar, Anupam Kher, Divyendu Sharma
Genre: Drama Komedi
Rilis: 11 Agustus 2017

Gagasanonline.com– Bisakah kamu bayangkan jika di rumahmu tidak terdapat jamban? Mungkin, solusi yang akan di tempuh adalah  menumpang di rumah tetanggamu, tapi bagaimana jika di seluruh rumah di kampungmu tidak memiliki jamban, karena hal itu bertentangan dengan budaya serta hal yang saru untuk dipikirkan apalagi dibuat, bahkan dianggap bersinggungan dengan nilai agama?

Mungkin jika kamu dihadapkan dengan kondisi tersebut, solusi terakhir yang akan kamu tempuh adalah mencari tempat apapun yang penting dapat mengeluarkan sisa makanan kemarin malam,  supaya kulitmu tak merinding dan pikiran pun tenang, namun hal tersebut menjadi  aneh bila baru melakukan aktivas buang hajat di tempat terbuka hanya karena jamban merupakan suatu item langka. .

Seperti itulah yang dirasakan Jaya, salah satu pemeran utama  dalam film Toilet: Ek Prem Katha, yang diperankan oleh Bhumi Pednekar. Film Toilet: Ek Prem Katha sendiri bergenre komedi drama membuat penonton tidak kesulitan dan tidak merasa bosan walaupun berdurasi 155 menit.

Walaupun demikian, film garapan dari Shree Narayan Singh ini tidak kehilangan nilai-nilai moral seperti isu kesehatan, isu kesetaraan gender, dan isu korupsi yang disajikan dari beberapa scene di film ini. Toilet: Ek Prem Katha sendiri telah rilis di tahun 2017 lalu. selain diperankan oleh Jaya sebagai tokoh pemeran utama wanita, hadir pula Akshay Kumar  sebagai Keshav yang tidak lain adalah suami Jaya (Bhumi Pednekar).

Sebagai salah satu lulusan sekolah pertanian Jepang, tokoh Jaya (Bhumi Pednekar) digambarkan sebagai wanita cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Kemudian Keshav yang memiliki usaha sepeda digambarkan sebagai tokoh yang baik juga berpikiran terbuka.

Semua kehidupan Jaya berubah pasca menikah, dengan kebudayaan yang bertolak belakang dengan Keshav cukup membuat Jaya muak dan bosan, salah satunya kebutuhan soal sanitasi, yang membuat Jaya wegah tinggal di kampungnya Keshav. Setiap pagi buta Jaya dengan berat hati mengikuti segerombolan perempuan di kampungnya membawa bejana berisikan air menuju ladang dan mulai membuang hajat di semak belukar, pesta lota, begitu mereka menyebutnya.

Aktivitas buang hajat ini sudah menjadi hal umum bagi masyarakat yang bermukim di sana, namun hal aneh bagi Jaya karena sedari kecil Jaya sudah diajarkan bagaimana sanitasi yang baik oleh keluarganya. 

Merasa tidak nyaman dengan aktivitas buang hajat di semak belukar, ditambah pasca kejadian  terlihatnya Jaya sedang buang hajat di ladang oleh bapak mertua membuatnya kapok mengikuti pesta lota ini, akhirnya Keshav mencoba mencari solusi cepat bagaimana istrinya dapat membuang hajat dengan tenang dan hati senang.

Setiap pagi sepasang suami istri ini segera mendatangi stasiun dekat kampung, dan hanya memiliki waktu tujuh menit supaya mendapatkan fasilitas jamban yang memadai, di sanalah Jaya buang hajat. Setelah scene di sini konflik pada cerita Toilet: Ek Prem Katha semakin mencapai titik klimaks dan membuat yang menonton merasa sedih. 

Nilai moral dalam film ini adalah isu sanitasi, di ceritakan dalam film ini unsur sanitasi seperti penyedia Jamban di rumah atau di sebuah tanah lapang merupakan hal yang melanggar kebudayaan, di tambah lagi pembelaan pemikiran anti sanitasi ini dengan menggunakan dalih keyakinan beragama, mencekat fanatisme pemeluknya meyakini hal tersebut, padahal nyatanya seorang pemuka agama dalam film tersebut  memiliki kedangkalan pemahaman atas dalih-dalih tersebut.

Karena kekeliruan dan keacuhan soal sanitasi beberapa program pemerintahan gagal dilangsungkan. Karena keengganan soal sanitasi, masyarakat melakukan penutupan saluran-saluran limbah yang telah di skemakan oleh pemerintah, kemudian menyangkut isu korupsi, ketidakpedulian masyarakat soal program sanitasi, seperti membuka ‘kran besar’ penjabat negeri korupsi, dengan mengorupsi kuncuran dana yang  digelontorkan untuk pembuatan saluran pembuangan limbah lumpur tinja.

Kritik soal kesamaan hak juga disampaikan oleh Jaya bahwa perempuan selalu diharapkan bersabar dan kehidupan perempuan yang penuh kompromi, soal bagaimana perempuan dapat dengan tenang membuang hajatnya di belakang rumahnya pada siang hari sama seperti yang dilakukan lelaki, adalah dengan membangun jamban.

Melihat dari data World Health Organization diperkirakan 597 juta orang penduduk India buang air di ruang terbuka karena tidak memiliki toilet. dan 300 juta di antaranya adalah perempuan, tentu data ini menunjukkan angka yang tinggi sebab perkosaan yang terjadi di India karena perempuan  merupakan kelompok renta akan pelecehan seksual.

Berkat isu sanitasi yang dibawa oleh  Shree Naraya dalam garapannya ini, di dunia nyata  mendukung gerakan kebersihan nasional  Swachch Bharat Abhiyan, yang artinya Gerakan India Bersih. Walaupun tidak masuk nominasi dalam  film Mega, setidaknya cuitan twitter apresiasi Narendra Modi seorang Perdana Menteri India, cukup menghapus lelah para kru film, yang mengatakan “Upaya bagus untuk lebih lanjut menyampaikan pesan kebersihan. 1,25 juta orang India, harus berkerja sama untuk meciptakan kebersihan,” ujarnya. 

Editor: Siti Nurlaila Lubis
Sumber Foto: encrypted-tbn3.gstatic.com 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.