Weathering with You: Suguhan Paling Realis ala Makoto Shinkai

Weathering with You: Suguhan Paling Realis ala Makoto Shinkai

Penulis: Bagus Pribadi

Judul: Weathering with You
Sutradara: Makoto Shinkai
Durasi: 1 jam 52 menit
Negara: Jepang
Tahun: 2019

Air. Itu yang akan kita temukan ketika menonton Weathering with You. Hampir keseluruhan filmnya ada air, baik itu hujan, gerimis, laut, bahkan sekadar genangan air di jalan raya.

Weathering with You merupakan film garapan Makoto Shinkai, yang sebelumnya sukses dengan Your Name. Mungkin hal itu yang menyebabkan Weathering with You terkesan tak terlalu baik, setelah menyaksikannya. Weathering with You tak bisa menembus zona nyaman yang dimiliki penonton, yang sebelumnya juga menonton Your Name. Penonton masih dihantui betapa hebatnya Your Name yang berujung menganggap Weathering with You biasa saja.

Euforia itu sepertinya juga dialami oleh Makoto Shinkai. Karena dalam Weathering with You, Makoto Shinkai hampir saja membuat badan cerita yang sama dengan Your Name. Beberapa bagian di Weathering with You sama dengan Your Name. Sangat sulit untuk tidak membandingkan Weathering with You dengan Your Name. Jika pun Makoto Shinkai masih dihantui oleh Your Name seperti apa yang saya alami, ada baiknya dia membuat cerita yang berbeda dari Your Name. Sehingga jikalau tak lebih baik dari Your Name, ada alternatif cerita lain yang kelihatan segar.

Dalam karyanya, Makoto Shinkai masih menceritakan kisah cinta remaja di Jepang. Seperti karya-karya sebelumnya, 5 Centimeter Per Second (2007), The Garden of Words (2013), dan Your Name (2016) tentu saja.

Weathering with You bercerita tentang seorang remaja laki-laki bernama Hodaka yang kabur dari rumah saat liburan sekolah. Ia berangkat dari suatu kampung ke ibu kota Jepang, Tokyo. Ia mencari pekerjaan di Tokyo dengan amat susah, mencari lowongan kerja menggunakan gawai. Sesekali layar gawainya terkena tetesan air hujan.

Sampai pada Hodaka mendapatkan kerja sebagai wartawan di sebuah perusahaan majalah kecil. Hal itu ia dapatkan berkat orang yang menyelamatkannya sewaktu di kapal, karena Hodaka hampir saja jatuh dan tergelincir di kapal. Orang itu bernama Suga, memiliki seorang keponakan perempuan dan anak perempuannya yang terkena penyakit asma.

Hari-hari Hodaka di Tokyo sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai wartawan, menentukan narasumber, mewawancarainya, kemudian menuliskannya. Belum lagi saat mengedit tulisannya, ia kerap kali dimarahi oleh Suga sang editor. Akan tetapi, setiap terlihat adegan Suga memarahi tulisannya Hodaka, ia tak lupa mengatakan “tulisan yang bagus.”

Saat Hodaka luntang-lantung mencari pekerjaan, seorang perempuan remaja yang bekerja di sebuah restoran memberikannya burger. Itulah awal perjumpaannya dengan Hina, yang belakangan diketahui sebagai gadis cuaca-cerah. Ada saat-saat heroik di mana Hodaka melihat Hina ingin menjadi pelacur karena butuh uang untuk membiayai hidupnya dan adiknya, Nagi. Hina dipecat dari restoran di mana kali pertama mereka bertemu.

Hodaka menyelamatkan Hina dan berlari di bawah cuaca murung Tokyo diiringi air hujan. Itu awal mereka berjalan bersama-sama. Hina yang statusnya pelajar, juga bekerja paruh waktu kini tak memiliki pekerjaan. Kekuatan yang dimilikinya sebagai gadis cuaca-cerah menjadikan ladang pemasukan. Hina dan Hodaka bersedia memenuhi panggilan orang-orang Tokyo yang menginginkan cuaca cerah. Di Indonesia, mungkin seperti pawang hujan.

Makoto Shinkai memadukan hal-hal mistis yang telah menjadi budaya di Jepang. Jepang yang mayoritas penduduknya menganut kepercayaan Shinto, salah satu jalan Makoto Shinkai untuk membuat cerita ini.

Tokyo kali ini digambarkan muram dan sendu. Dari awal hingga berakhirnya film ini, Tokyo yang gelap hampir seluruhnya disuguhkan kepada penonton. Tak hanya sekadar cuaca gelap di Tokyo, Makoto Shinkai juga menampilkan gelapnya dunia di Tokyo seperti, maraknya tempat pelacuran, orang dewasa yang frustasi di tengah pekerjaan dan melampiaskannya dengan alkohol. Makoto Shinkai mencoba memasukkan pesan-pesan sosial yang bisa terhubung ke semua manusia yang ada di dunia, tak hanya di Jepang.

Tetapi, ada juga hal-hal yang cukup personal ditampilkan di Weathering with You, yang tak semua orang terhubung dengan hal ini. Selain bagian besar ceritanya tentang hujan dan matahari yang memiliki hubungan lebih dengan orang-orang Jepang. Makoto Shinkai juga menampilkan, seperti buku karya JD Salinger berjudul The Catcher In The Rye, yang tidak membaca buku itu jelas tak bisa terhubung. Sedangkan yang membacanya, itu seperti harta karun, setidaknya mampu menduga bahwa Makoto Shinkai ternyata membaca buku itu juga. Bisa jadi itu salah satu yang menginspirasinya membuat Weathering with You. Karena selain bercerita tentang remaja yang masih bersekolah, juga hujan, ada di The Catcher In The Rye dan Weathering with You.

Selain itu jika penonton menyadari, saat Nagi dan Hodaka bernyanyi di kamar yang mereka sewa, mereka berdua menyanyikan lagu berjudul Koi Suru Fortune Cookie. Lagu ini dipopulerkan oleh kelompok idol AKB48 di Jepang, dan di Indonesia ada JKT48. Hal ini pasti menjadi harta karun bagi penggemar grup idol yang ada di beberapa negara asia tersebut.

Untuk soundtrack di Weathering with You, masih menggunakan lagu-lagunya band beraliran musik Math-Rock asal Jepang, Radwimps. Sepertinya Makoto Shinkai bekerjasama cukup baik dengan Radwimps, mengingat sejak Your Name juga sudah diisi oleh Radwimps. Mengingat Radwimps merupakan band emo, tentu saja lirik-liriknya sangat emosional dan sesuai dengan dua film Makoto Shinkai tersebut.

Weathering with You adalah sebuah karya yang cukup ciamik, meski tak kalah ciamik dengan 5 Centimeter Per Second dan Your Name. Dari segala hal-hal yang terlihat seperti ingin mengejar dan menyerupai Your name, Weathering with You lebih terasa dekat dengan kehidupan manusia di zaman sekarang. Itulah kelebihan Weathering with You dari karya-karya Makoto Shinkai sebelumnya.

Editor: Wulan Rahma Fanni
Foto: Kinocheck International

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.