Cerpen

Gamang

Penulis: Delfi Ana Harahap* Gagasanonline.com – Hujan reda, kubangan air di mana-mana, jalanan basah, licin juga. Wilda, temanku, tumben membawa motor hari itu, aku mengikutinya dari belakang. Pelan, ia lebih pelan dariku membawa kendaraan. Selepas azan magrib kami pisah haluan, “Hati-hati,” ucapku padanya. “Kau juga hati-hati,” balasnya. Aku berjalan lurus ketika langit sudah gelap, kilat dan petir kembali datang. Tak lama gemiris, lalu kembali hujan lebat datang. Aku berhenti sejenak,

Kuli(ah)

Penulis: Hendrik Khoirul Gagasanonline.com- Mereka itu, kata Mang Atang, bukan orang biasa seperti rakyat pada umumnya. Mereka itu, yang ada embel-embel nama mahasiswa, jelas-jelas tidak sekelas dengan kuli macam aku. Mereka lebih tinggi kelas sosialnya. Aku sendiri tak tahu apa itu kelas sosial, jangankan kelas sosial, kelas 5 SD saja aku tidak tamat. Tak bisa dikira dengan jari tangan, belasan tahun lalu mungkin. Pasti, bukan mungkin, aku putus sekolah. Beruntung

Time Will Tell How Much I Love You

Penulis: Saprian Mahendra** Gagasanonline.com – Semuanya bermula sejak aku mengenal seorang gadis manis berambut panjang, dia adalah sosok yang aku sukai saat SMA, namun aku tak pernah punya keberanian untuk memulai mengenalnya karena aku merasa tidak percaya diri untuk mendekatinya. Setelah lulus SMA aku menempuh pendidikan di perguruan tinggi, bagai sebuah keajaiban tanpa sengaja aku bertemu dengannya lagi. Kami berada di jurusan dan kelas yang sama. Saat itulah aku tahu

Kenangan Anic

Penulis: Khoirotun Nisa Gagasanonline.com – “Jalan ini ramai, aku tidak suka. Susah kali menyeberang,” gerutu Anic. Di bawah tembok jembatan alun-alun bertuliskan ‘Bumi Pasundan tercipta saat Tuhan sedang tersenyum’ Anic berada. Berjalan sambil menendang batu kecil yang menghalangi kakinya berjalan. Melihat kanan-kiri lalu menyeberang ke arah taman sekitar alun-alun kota Bandung. Duduk di kursi taman sambil menelusuri pemandangan sekitar. Tidak ada yang ia lakukan selain bersenandung, sepertinya ia sedang bahagia,

Mimpi Anna

Penulis: Teguh Arif Ramadhan Gagasanonline.com– Ketika pertama kali Anna buka mata, ia merasa ada yang aneh, ada sesuatu yang berbeda dan tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dunia begitu gelap dan dingin. Semua berubah menjadi es, begitupun kamarnya berubah menjadi musim salju. Anna menampar pipinya, berulang kali ia cubit daging-daging di pahanya dan benar sakit yang ia rasakan. Ini bukan mimpi, ini nyata! Ini seperti musim santa claus berkeliling membagi-bagikan hadiah

Dari  Aku yang Terbuang

Penulis: Teguh Arif Ramadhan** Gagasanonline.com- Aku adalah benih yang entah ditanam oleh siapa dan oleh apa. Banyak sekali yang ingin aku pertanyakan pada pemilik tempat pribadi yang telah menjadi tempat umum ini. Kalau dihitung-hitung beberapa bulan lagi aku akan berubah menjadi seonggok daging yang entah akan menjadi apa ketika  bernyawa nanti. Aku tidak menyesal berada di sini, mengingat di sini adalah tempat paling nyaman dan tentram, setiap manusia berasal dari

Sebuah Pembelajaran yang Pahit

Penulis: Hendrik Khoirul Muhid Gagasanonline.com– Meski di sisi lain aku adalah seorang korban, tetapi dalam kasus ini aku ditetapkan sebagai pelaku. Aku tidak akan pernah memungkiri bahwa aku memang membunuh ayahku. Dan aku tidak menduga bisa melakukan itu. Kutikam ia beberapa kali di perutnya dengan sebilah pisau dapur, kutikam ayah secara sadar. Sepenuhnya sadar. Aku bukan psikopat dan saat itu adalah pertama kalinya aku membunuh orang. Ayahku sendiri. Aku sangat

Senja untuk Alin

Penulis: Siti Nurlaila Lubis “Kalau Bapak masih melarang saya untuk keluar rumah ya sudah kita pisah saja.” Bentak ibu kepada bapak. “Apa pisah? lancang sekali kamu minta hal seperti itu. Tidak ingat kamu punya anak!,” bentak bapak sembari menunjuk ke arah ibu. “Dia sudah besar pak, aku merasa tertekan di rumah ini!,” ungkapnya menangis. Kalimat serapah dari mulut manusia yang paling kusayangi di dunia ini. Orang tua yang membuat kehadiranku di nantikan

Jilbab untuk Gabriel

Penulis: Hendrik Khoirul Gagasanonline.com– Dalam hidupku yang serba nestapa tak berkesudahan ini, kesusahan menyadarkanku untuk tak boleh punya banyak rasa ingin. Pun kalau aku berkeinginan, keinginanku tak muluk-muluk, yang biasa dan mudah-mudah saja. Sejauh ini yang paling kuingini adalah sepotong jilbab, ya sepotong saja sudah cukup. Namun bagiku, sepotong itu bukan hal biasa dan tentu tidak mudah untuk mendapatkannya. Namaku Asri, gelandangan kecil yang dekil dan kumuh, usiaku entah berapa,

Tak Ada Surga di Rumahku

Penulis: Kiki Mardianti Gagasanonline.com- “Aku sempat menghardik Tuhan atas cobaan beruntun di hidupku. Kata mereka, rumah adalah surga, tempat berpusatnya kasih sayang dan perlindungan, tapi tidak bagiku. Aku mengutuk seluruh laki-laki di dunia ini. Termasuk ayah kandungku sendiri,” batinku dalam tangis. *** “Ceraikan aku sekarang juga, laki-laki bangsat! Aku menyesal menikah denganmu! Biar kubawa Rara bersamaku, dia akan lebih aman daripada dia besar di tangan bapak tak bertanggungjawab sepertimu!” teriak