[Opini] UKT UNRI: Uang Kuliah Tinggi Universitas Negeri Republik Indonesia

Penulis: Mohd Azhima

Gagasanonline.com – Sejak zaman dahulu kala, mahasiswa telah dikenal sebagai kaum yang penuh dengan kreativitas dan semangat perjuangan. Namun, di zaman modern ini muncul fenomena baru yang membuat mahasiswa tergelitik dan tercengang. Yaitu, UKT (Uang Kuliah Tinggi) di Universitas Negeri Republik Indonesia. Sebuah keajaiban modern yang menggambarkan paradoks unik dalam sistem pendidikan negeri.

Sebuah pertanyaan muncul: “Apakah UKT ini benar-benar sebuah anugerah bagi para mahasiswa? Ataukah ini merupakan bagian dari sistem pendidikan, yang lebih tepat disebut sebagai ujian tingkat kecerdasan finansial mereka?” Mungkin, kita perlu merenung sejenak.

Fakta yang kita ketahui bersama, uang merupakan isu yang paling menyenangkan untuk dibahas semenjak pertama kali disahkan sebagai alat transaksi pembayaran. Tentu saja, UKT menjadi momok perbincangan yang hangat di kalangan mahasiswa. Ada yang mengeluh tentang ketidakadilan dalam penetapan UKT, sementara yang lain tercengang dengan transparansi yang kabur dalam alokasi dana UKT tersebut. Hal ini membuka ruang untuk spekulasi dan teori konspirasi yang beraneka ragam. Mahalnya UKT di Universitas Negeri Republik Indonesia yang disingkat UNRI, menjadi sorotan tajam dalam setiap percakapan di kantin atau di media sosial.

Para mahasiswa pun bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat UKT ini begitu mahal? Apakah ada emas murni yang ditaburkan di dalam ruang kuliah? Ataukah bangunan universitas mereka dilapisi dengan permata? Sungguh, misteri ini semakin membingungkan. Mungkin, ini adalah bagian dari strategi UNRI untuk memberikan pengalaman pendidikan yang mewah kepada mahasiswanya. Siapa tahu?

Bila kita selami lagi, mungkin ada sisi lain dari UKT yang perlu dipertimbangkan. Mungkin, mahalnya UKT adalah simbol dari kualitas pendidikan yang tinggi. Mungkin, mereka berpikir bahwa semakin mahal UKT, semakin berkualitas pula pendidikan yang mereka tawarkan. Atau mungkin, ini adalah upaya untuk menaikkan kelasnya dalam persaingan global: Menuju world class university, kampus yang gemilang dan terbilang.

Di dunia yang semakin terkoneksi ini, mahalnya UKT mungkin dianggap sebagai investasi dalam masa depan yang cerah.

Namun, dibalik semua teori ini, ada satu hal yang pasti: mahalnya UKT telah menciptakan ketidaksetaraan dalam akses pendidikan. Bagi mahasiswa dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, UKT yang mahal dapat menjadi beban yang sangat berat. Ini adalah ironi yang menyedihkan, bahwa pendidikan, yang seharusnya menjadi jembatan untuk meraih mimpi, justru menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Permasalahan ini sangat serius dan memicu perdebatan tentang peran negara dalam menyediakan pendidikan yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Inilah dampak buruk dari pemberian otonomi yang luas pada kampus, alih-alih meningkatkan kualitasnya.

Jadi, apakah UKT benar-benar mewakili “Uang Kuliah Tinggi” ataukah lebih tepat disebut sebagai “Uang Keajaiban Terbalik, Ujian Kesabaran Terhadap uang”? Pertanyaan ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Mungkin suatu hari nanti, kita akan menemukan jawabannya. Atau mungkin, kita akan terus bergumul dengan paradoks ini, seperti mahasiswa yang terus berjuang mencari ilmu di tengah gelombang biaya pendidikan yang semakin tinggi.

Editor: Natasya

Foto: Majalah Tempo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.