Penanganan Tepat untuk Korban Trauma Pelecehan Seksual Menurut Praktisi Psikolog UIN Suska

Penanganan Tepat untuk Korban Trauma Pelecehan Seksual Menurut Praktisi Psikolog UIN Suska

Penulis: Kakak Indra Purnama

Gagasanonline.com – Maraknya isu kasus pelecehan seksual saat ini menyebabkan efek traumatis bagi para korban. Untuk itu dibutuhkan penanganan yang tepat agar korban kembali pulih. Praktisi psikologi UIN Suska Riau Indah Darmayanti mengatakan penanganan tidak bisa dilakukan secara paksa lantaran korban merasa sensitif. Umumnya korban enggan terbuka dan tak mau lapor atau pun mengakui kejadian yang menimpanya.

“Apalagi kalau sampai tingkatan serius seperti diperkosa. Mungkin kita mulai dari yang kecil dulu. Pelecehan itu kan banyak jenisnya dari mulai dilecehkan dari sisi verbal, dengan disiul atau digoda itu sudah termasuk pelecehan,” katanya saat diwawancarai, Kamis (11/11/2021).

Indah menjelaskan, cara pelaku menatap korban dari atas hingga ke bawah sudah termasuk pelecehan. Apalagi sampai memegang area tubuh tertentu hingga memaksa korban untuk melakukan hubungan seksual. “Kalau cewek, kalau di-catcalling pasti merasa marah, tersinggung tapi kita ga sampai ngerasa harus melawan,” terangnya. Bahkan, kata dia, parahnya tak jarang perlakuan tersebut dapat menimbulkan trauma psikologis bagi korban. Namun, korban tak berani bilang lantaran malu, shock, hingga akhirnya dipendam.

“Tapi kalau korban sudah sampai ngerasa hal yang serius, korban membutuhkan bantuan, biasanya mungkin ia mulai terbuka ke orangtuanya dulu atau dengan orang terdekat. Lalu kemudian biasanya orang tua ke dokter dulu, baru ke psikolog,” tutur Indah.

Indah menyebut, penanganan secara psikolog dilakukan dengan tidak memaksakan korban untuk bercerita secara detail kejadian, melainkan mengenali kondisi psikologis korban terlebih dulu, apakah korban merasa tertekan, bersedih, bahkan merasa buruk terhadap dirinya. Berbeda dengan penyelidikan yang dilakukan oleh polisi yang harus menjelaskan detail kejadian, psikolog tak akan terlalu menggali apa yang terjadi. “Kalau korban mau cerita, ya kita enggak nyari detailnya bagaimana. Jadi kita cuma melihat dan mengenali kondisi psikologisnya seperti apa,” ungkap dia.

Biasanya korban pelecehan seksual merasa hal itu terjadi lantaran kesalahan dirinya, serta merasa dirinya tidak benar. Padahal kata Indah, pelecehan seksual adalah murni salah pelaku dan bukan salah korban. Sebab pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada korban yang menggunakan pakaian terbuka. “Karena apa pun cewek pakai, setertutup apa pun tidak menutup kemungkinan tidak dilecehkan,” katanya. Maka dari itu, Indah menyebut agar penanganan dilakukan dengan cara Cognitive Behavioral Therapy atau memfokuskan terhadap pola pikir korban dan mengembalikan cara pandang korban terhadap dirinya. Sehingga, korban tidak merasa ini semua adalah kesalahannya.

“Diluruskan kalau itu salah dari pelaku. Kita bantu dia untuk kembali lagi melihat atau mencari evaluasi positif atas dirinya. Jadi dia tau siapa yang salah. Karena biasanya dia sangat dikuasai oleh perasaan bahwa ‘saya itu udah ga bener, udah kotor, atau apa’ jadi pikirannya udah negatif atas dirinya sendiri. Itu yang kita kembalikan pikirannya lagi bahwa dia tidak seperti it. Jadi dia mengembalikan cara pandang yang salah-salah tadi. Kita lenyapkan pikiran-pikiran yang salah dan kita luruskan dalam terapi tersebut,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Indah, dibutuhkan juga dukungan dari keluarga terhadap korban untuk tidak menyangkal hal itu terjadi, tapi tidak perlu memberi respons secara berlebihan. Namun biasanya terdapat dua perilaku yang salah, misalnya keluarga berusaha menyangkal hal itu terjadi atau seperti tidak terjadi apa-apa sehingga korban tidak mendapatkan emosional support dari keluarga. “Tapi ada juga respons yang berlebihan “aduh kasian anakku. Bagaimana masa depan anakku,” itu juga respons yang tidak sehat dari keluarga. Jadi keluarga juga perlu kita terapi juga untuk memberikan respons yang tepat. Jadi dapat memberikan respons emosional tapi tidak berlebihan karena harus sama-sama kuat. Jadi selain korban tadi keluarganya juga kita terapi,” imbuhnya.

Hemat Indah, bila pelecehan seksual terjadi di wilayah akademik, pelaku harus segera ditindak, misalnya dipecat. Tak perlu dipertemukan dengan korban dan mahasiswa lain. Sementara, untuk korban dapat kembali ke kampus atau lokasi tempat kejadian yang membuat trauma, harus dilakukan secara perlahan dan bertahap.

“Setelah selesai menyingkirkan pikiran-pikiran yang salah atas dirinya tadi barulah kita bantu dia kembali ke lingkungan sosialnya, kalau dia sudah merasa lebih baik dari pikiran-pikiran negatifnya. Tapi itu memang bertahap. Karena dia kan memikirkan bagaimana ya pandangan orang tentang saya? Apalagi kalau hal tersebut terekspos. Yang namanya trauma pasti butuh waktu untuk pulih dan itu berbeda tiap orang kecepatan untuk pulih,” ujarnya.

Indah menyebut, faktor yang menunjang penyembuhan korban adalah dengan melihat pola pikir dan kepribadian korban. Biasanya korban yang pasif atau introvert cukup lama penanganannya karena kurang terbuka. Sementara, korban tipikal yang terbuka, lebih ceria, lebih banyak teman, lebih mudah mengungkapkan isi hati akan lebih cepat ditangani. Meski rata-rata korban pelecehan seksual adalah tertutup dan pasif, namun menurut Indah bila ditangani dengan tepat ditambah dukungan dari keluarga dan teman-teman akan menjadi faktor mempercepat penyembuhan korban.

“Sebelum kejadian korban orang yang seperti apa. Maksudnya disini ialah pola pikir dan  kepribadiannya seperti apa. Kalau dia memang orang yang pendiam, kurang bisa membela diri itu memang cukup lama penanganannya. Tapi memang kejadian ini banyak menimpa korban yang pasif, karena biasanya pelaku sudah mengamati korbannya. Jadi pelaku melihat karakteristik korbannya karena kemungkinan korban tak berani melawan. Tapi mungkin kalau korbannya ekstrovert akan melawan dan merespons ‘apa ni pegang-pegang?’,” terangnya.

Reporter: Annisa Firdausi
Editor: Hendrik Khoirul Muhid
Foto: Annisa Firdausi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.