Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Penulis: Syarul Barokah**

Gagasanonline.com – Umat Islam memperingati  maulid Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal. Hari di mana Nabi Muhammad lahir bertepatan dengan peristiwa tentara bergajah yang dipimpin oleh raja vasal Ethiopia di Yaman, Abrahah yang bermaksud meratakan bangunan Ka’bah. Namun Allah melindungi Ka’bah dengan mengirimkan pasukan burung ababil yang membawa batu dari neraka, dan menjatuhkannya tepat di atas pasukan yang berbondong-bondong menuju mekah tersebut. Sehingga tahun tersebut disebut juga dengan Tahun Gajah. Cerita tentang tentara gajah ini Allah firmankan dalam Al-Fil ayat 1-5.
 
Mengutip dari buku Sejarah Hidup Nabi Muhammad oleh Abdul Somad, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah pernah ditanya perkara puasa di hari Senin, Rasul pun menjawab bahwa hari Senin adalah hari di mana ia dilahirkan.
 
Berikut bunyi hadisnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaIhi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab, hari Senin adalah hari aku dilahirkan.” 
 
Dalam hadis lain disebutkan:

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Artinya: Dari Qotadah dari Anas berkata, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya”. (HR. Bukhari) [ No. 15 Fathul Bari] Shahih.
 
Selama hidupnya, Nabi Muhammad tidak pernah berjumpa dengan sang ayah karena ayahnya telah meninggal pada saat Raslullah masih di dalam kandungan. Selepas Aminah melahirkan Muhammad, sang kakek Abdul Muthalib amat gembira dan membawa cucunya yang baru lahir itu ke Ka’bah, serta memberinya nama Muhammad.
 
Nama Muhammad bukanlah nama nenek moyang orang Quraisy, sehingga banyak orang-orang Quraisy yang menanyakan alasan pemberian nama tersebut.  Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad, menungkapkan bahwa Abdul Muthalib yang menyaksikan kedahsyatan peristiwa “Perang Gajah” dan bantuan serangan dari “langit” lantas menjawab: “Kuinginkan dia [Muhammad] akan menjadi orang yang terpuji bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi.”
 
Melansir dari Tirto.id, dalam bahasa Arab, kata “Muhammad” diambil dari kata sifat yang berarti “orang yang terus-menerus terpuji.” Harapan Abdul Muthalib terkabul karena Nabi Muhammad SAW menjadi sosok yang demikian berpengaruh, berbudi pekerti luhur hingga dijuluki Al-Amin (orang terpercaya), dan memperoleh tempat khusus di sejarah dunia.

Editor: Hendrik Khoirul
Sumber Foto: all-free-download.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.