Lingkungan Menjadi Pemicu Quarter Life Crisis

Lingkungan Menjadi Pemicu Quarter Life Crisis

Penulis: Ella Yolanda**

Gagasanonline.com– Tak sedikit kalangan milenial mengaku bahwa ia mengalami quarter life crisis (QLC). Seiring bertambahnya usia, mungkin sulit untuk mengingat seperti apa rasanya berada di usia dua puluhan. Bukan seperti yang terlihat di foto Instagram yang kerap menampilkan sesuatu yang riang atau album foto lama, namun berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan saat itu.

Quarter life crisis biasanya mengacu pada krisis transisi tahap kehidupan. Dimana secara perkembangan terkait dengan periode dalam kehidupan atau disebut masa pendewasaan. Hal ini mulai terjadi pada usia 20 tahun. Semakin bertambah usia seseorang, semakin banyak hal yang mereka pikirkan. Seperti masalah keuangan, pekerjaan, relasi bahkan kepercayaan.

Baca: Mengenal Hoarding Disorder, Perilaku Menimbun Barang yang Tak Diperlukan

Kehidupan QLC seperti, kedewasaan paksa misalnya pengalaman traumatis yang menuntut seseorang memikul peran dan tanggung jawab orang dewasa tetapi seseorang tersebut belum mampu untuk melakukannya. Merasa terburu buru agar mandiri secara finansial, misalnya melatih diri untuk menjadi orang dewasa.

Riset menunjukkan postingan pengguna Twitter kerap kali merujuk pada QLC seperti ungkapan perasaan campur aduk, perasaan terjebak, menginginkan perubahan, karier, penyakit, sekolah, dan keluarga. Hal ini cenderung berfokus pada masa depan.

Quarter life crisis dapat terjadi karena kepanikan dan tekanan, baik di bidang pekerjaan maupun keuangan sehingga kita mulai mempertanyakan kehidupan. Tanda-tanda quarter life crisis, yaitu perasaan bahwa jalan yang ditempuh sudah tepat dan tidak ada gerakan, kurang motivasi dan kurang senang dengan pencapaian yang diraih. Tekanan dari lingkungan sekitar juga dapat menyebabkan tanda-tanda krisis kehidupan kuartal.

Tekanan bisa datang dari orang tua, keluarga bahkan tetangga yang sering membandingkan diri kita dengan orang lain. Tekanan tekanan tersebut dapat menyebabkan depresi. Bermain media sosial, main game hinggal lupa waktu, sering mengeluh dan menutup diri dapat memicu QLC.
QLC cenderung terjadi ketika seseorang mulai beralih dari struktur kehidupan yang awalnya tidak stabil, terbuka, dan eksploratif menuju kehidupan yang lebih mapan.

Baca: Cara Tradisional Atasi Nyeri Menstruasi

Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi quarter life crisis salah satunya dengan menuliskan apa yang ada dipikiran dan apa yang dirasakan. Biarkan diri sendiri istirahat dan mulailah lakukan satu persatu dari rencana yang terkecil.

Hal yang dapat dilakukan agar meminimalisir efek dari QLC yaitu dengan cara tidak mengubur diri, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, mulai membuat rencana hidup, mencari hobi baru dan mulai melakukannya.

Dikutip dari laman resmi Harvard, proses QLC bisa berlangsung bertahun-tahun, atau berulang. Ini merupakan proses yang menyakitkan, tetapi juga merupakan peluang pertumbuhan yang luar biasa, karena dapat menciptakan individu yang terus menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan lebih bahagia.

 

Sumber:

Sumber:  Nisrina P. Utami, M.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis & Founder Selftalk Project).
Universitas IPB by Anik Retnoriani, (Psikolog Klinis), ipb.ac.id
Harvard Busness Review, hbr.org

 

Editor: Wilda Hasanah
Foto    :  Pexels.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.