Perjalanan Hidup Dua Penulis Beda Generasi

Perjalanan Hidup Dua Penulis Beda Generasi

Penulis: Annisa Firdausi

Judul                    : Mom and Me
Penulis                : Pipiet Senja dan Adzimattinur Siregar
Penerbit              : Indiva  Media Kreasi
Tahun terbit      : Cetakan Pertama, Agustus 2007
Jumlah halaman: 208; 20,5 cm


Gagasanonline.com- Mom & Me merupakan buku kolaborasi antara anak dengan ibu beda generasi. Buku ini ditulis Pipiet Senja dan anaknya Adzimattinur Siregar yang sama-sama berkecimpung di dunia kepenulisan. Buku ini menceritakan tentang kekompakan dan keseruan keduanya yang dikemas dengan cover depan belakang yang saling terbalik, menjadikannya terlihat unik dan menarik.

Awal cerita dari versi Pipiet Senja menceritakan kisah perjuanganya melahirkan “Butet”, panggilan Adzi. Tak mudah baginya menjalani kehamilan sekaligus berjuang melawan Thallasemia, kelainan darah bawaan yang dideritanya. Ibu mertuanya pun tidak dapat mengerti keadaan Pipiet tak sama dengan ibu hamil lainnya.

“Bah! Macam-macam sajalah penyakit kau itu!” sungut mertuanya tiap kali ia harus pemeriksaan ke rumah sakit (halaman 24).

Baca juga: Upaya Perempuan Perokok Melawan Stigma

Ketika ibu-ibu lain mengunjungi dokter kandungan didampingi oleh suami-suami mereka, Pipiet terlihat hanya seorang diri tanpa didampingi suami. Bahkan kedua buah hatinya, Haekal dan Adzi tidak diazakan oleh ayahnya. Hal ini dikarenakan rumah tangga Pipiet dan suaminya yang tidak harmonis dan dipenuhi pertikaian, sinisan dan pukulan. Ketika Butet berusia 11 tahun, ia menyuruh agar Pipiet segera bercerai dengan suaminya.

“Jangan biarkan diri Mama menghamba terus kepada orang yang tak pernah menghargai pengabdian Mama.”
“Kata Mama demi anak-anak? Jangan pernah bilang begitu, jangan pernah mengatasnamakan anak-anak lagi.”
“Butet lebih suka Mama bahagia demi diri Mama sendiri.”
“Tinggalkan segala penderitaan ini dan raih kebahagiaan Mama sendiri!” (halaman 63).

Piepit menurunkan darah penulis kepada anak-anaknya. Karya Butet pertama kali dimuat di rubrik sastra harian Radar Bogor, saat ia kelas I SMP.

Baca juga: Orang Aneh dan Hidup yang Begitu Saja

Sedang tulisan yang berdasar sudut panjang Butet. Butet banyak menggunakan bahasa gaul dalam naskahnya saat menceritakan kehidupan sosialnya yang semasa kecil sering dipenuhi ejekan.

“Ibu loe sakit kuning!”
“Setan kali tuh nyokapnya!”
“Kuning-kuning, tahiii!”
“Penyakit kutukan!”       
“Iiih… anak kuntilanak!.” Kalimat-kalimat yang sering dilontarkan teman-teman Butet (halaman 11).

Butet tumbuh menjadi perempuan tomboi dengan segudang prestasi, ia sudah menjadi pembicara sejak usia belasan dan telah dikenal sebagai penulis. Tak hanya dalam negeri, tapi mancanegara. Dalam buku ini Butet kecil bercita-cita menjadi satpam karena melihat satpam kejar-kejaran dengan maling di TV, ingin jadi tukang gorengan, sopir angkot yang harus berwana merah, dan berbagai cita-cita absurd lainnya. Sedari kecil pun Butet sudah menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Papanya terhadap Mamanya, Abangnya dan ia sendiri.

Baca juga: Realita Ketidakadilan yang Mengintai Perempuan

Gaya tulisan Pipiet Senja dan Butet membawa pembaca ikut hanyut dalam kenangan mereka. Butet dengan bahasanya yang super gaul dan pembawaan Pipiet yang bersahaja. Mungkin bagi sebagian anak curhat dan berbagi cerita dengan Ibunya adalah sesuatu yang sulit, tapi dari buku ini pembaca bisa belajar bagaimana ibu dan anak bisa saling mengerti. Kehadiran sosok ibu bagi anaknya sangatlah penting, karena seorang anak amat sangat membutuhkan ibunya, terutama saat memasuki masa remaja dan dewasa.

Editor: Delfi Ana Harahap
Foto: Annisa Firdausi


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.