Surup

Surup

Penulis : Hendrik Khoirul

Gagasanonline.com– Matahari belum juga tenggelam, tapi rembang petang telah tak sabar mengungkung Desa Lembah Lembayung. Senja menyepuh kedua belah ufuk dengan jingga yang tak biasa, memang suasana agak berbeda kala itu, malam terasa terlalu cepat menjalar. Ternak-ternak lekas-lekas masuk kandang, sedikit ribut seakan ada yang mengintai-intai mereka dari balik semak. Jangkrik-jangkrik yang biasanya sibuk membangun lubang pun bagai terkubur dalam lubangnya, sepi yang terlalu senyap. Sore menjelang malam yang aneh dan suram. Seolah alam tahu apa yang bakal terjadi di desa pinggir hutan itu.

Tapi suasana aneh itu tak mempengaruhi barang segelitik pun bagi sekelompok anak-anak yang bermain petak umpet di depan rumah Embah Warsinah. Terdapat sepetak tanah lapang yang biasa mereka pakai untuk bermain-main. Sesekali suara sang ibu terdengar memanggil anaknya untuk pulang. Anak-anak itu sepertinya tak mendengar atau pura-pura tak mendengar panggilan ibu mereka padahal malam sudah mulai menelan desa.

“Ayo! Indukan…” panggil Kateno, mengumpulkan teman-temannya untuk mengundi siapa yang jaga. Segera anak-anak itu membuat barisan memanjang di belakang Kateno.

Baca juga : Massa Aksi Anggap Belum Dapatkan Jawaban Konkret dari Pihak Rektorat

Ji… ro… lu… Indukan nomer… oncet!” (Tu, wa, ga, induknya nomor terakhir) teriak Kateno.

“Yah…” desah Markum yang berdiri di posisi paling belakang.

“Markum jaga!” seru Kateno.

Segera setelah Markum menutup mata dan mulai menghitung, teman-temannya berlari mencari tempat sembunyi yang aman, keremangan senja menjadikan permainan mereka makin seru. Daryono hanya bersembunyi di balik rumpun pisang tapi anak laki-laki itu cukup merasa aman dari penglihatan Markum. Tak lama berselang Markum sudah selesai menghitung dan membuka mata untuk mencari teman-temannya yang bersembunyi.

Sepuluh menit kemudian Markum sudah menemukan semua temannya yang bersembunyi, kecuali satu, Daryono. Lama tak ditemukan, anak-anak yang lain turut membantu Markum mencari Daryono. Beberapa kali Markum dan teman-temannya melewati tempat persembunyian Daryono dengan jarak yang teramat dekat, namun mereka tak menyadari keberadaan Daryono. Daryono sendiri pun berusaha mati-matian untuk tidak tertawa saat Markum berdiri tepat di dekatnya, melongak-longok seakan pura-pura Daryono tidak ada di sana.

Piye ketemu ra?” (Bagaimana ketemu tidak?) Daryono mendengar salah seorang temannya menanyai Markum.

Urungpadahal aku wes ngomong judeg!” (Belum, padahal aku sudah bilang menyerah) Markum menggerutu.

Daryono terkikik tanpa suara di persembunyiannya.

Malam sudah semakin kelam sekarang, rembulan separuh hanya menciptakan bayangan-bayangan hitam yang membangkitkan bulu kuduk. Anak-anak mencoba mengabaikan rasa takut mereka dan terus mencari. Jika tadinya mereka berpencar, kini mereka bergerombol, berdempetan satu sama lain. Rasa merinding di punggung mereka membawa mereka pada satu kemungkinan yang mereka sadari, tapi tak seorang pun berani mengatakannya. Entah mendapat bisikan dari mana, tapi dalam benak setiap anak itu yakin, Daryono tidak bersembunyi, tapi disembunyikan. Sembari memanggil nama Daryono mereka terus merambah setiap sudut halaman rumah Embah Warsinah, barangkali ada lebih dari enam kali mereka menghampiri pokok pisang tempat persembunyian Daryono, tapi keberadaan Daryono tidak didapati di sana.

Ono opo tho, Le? Surup bengok-bengok!” (Ada apa, surup teriak-teriak!) pekik seorang nenek dari pintu rumahnya, di tangannya tergenggam lentera yang menerangi wajahnya yang tampak marah.

Kateno menghampiri si nenek dan memberanikan diri mengadu, “Mbah Warsinah… Daryono didelekke medi…” (Disembunyikan hantu).

“Hush! Lambemu…”

Tenan, Mbah! Bocah-bocah wes nggoleki nganti sak jam! Ora ketemu…” (Serius, Mbah! Anak-anak sudah mencari sampai satu jam! Tidak ketemu…) kata Kateno, seluruh badannya gemetar antara gugup dan takut, di antara yang lain, Kateno adalah yang paling berani. Anak-anak berlarian menghampiri Kateno dan Embah Warsinah.

Diomongi ora podo nggugu! Dipenging ojo delik-delikan pas surup, mbatek wae!” (Dibilangi tidak pada manut, dilarang jangan sembunyi-sembunyi waktu surup, tetap saja!) Embah Warsinah, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Beberapa anak mulai menangis, bukan karena dimarahi Embah Warsinah, tetapi karena takut, mereka berkerumun dan berusaha lebih dekat lagi satu dengan yang lain. Seakan siapa yang paling jauh akan ikut menghilang.

Pantesan, kawet mau atiku keroso ra penak…” (Pantas, sejak tadi hatiku terasa tidak enak) gumam Embah Warsinah, “Kateno, omongono bapakmu karo uwong-uwong, mbah tak ngabari bapake Daryono. Kon nggowo dimar gede! Seng laen tunggu neng ngomahe Embah!” (Kateno, bilang sama bapakmu dan orang-orang, mbah mau mengabari bapaknya Daryono. Suruh bawa lampu besar! Yang lain tunggu di rumah Embah!) ujar Embah Warsinah.

Mbah melu, mbah… wedi aku!” (Mbah, ikut, saya takut!) cicit salah seorang anak.

Baca juga : Belajar Bahasa Inggris di Kampus Saat Libur Semester

Malam itu Desa Lembah Lembayung mendadak gempar dengan hilangnya Daryono, berita menyebar secepat api menyambar minyak tanah. Warga berbondong-bondong menuju rumah Embah Warsinah. Walimah, ibunya Daryono lari pontang-panting sambil berteriak memanggil nama anaknya, jatuh tersandung kerikil, pingsan, entah karena jatuhnya atau karena anaknya yang hilang. Segera ia jadi kerubungan orang-orang, Ngadimin, suami Walimah segera membopongnya ke emperan rumah Embah Warsinah. 

Semua orang bersimpati dan ikut mencari, laki-laki dan perempuan tumpah ruah ke rumah Embah Warsinah seperti ada hajat. Teman-teman Daryono satu per satu mulai menangis di pelukan ibu mereka, bahkan Kateno pun menggigil di bawah ketiak bapaknya. Lima lentera besar dinyalakan untuk penerangan, tapi bukan lampu yang mereka butuhkan. Seseorang yang dianggap pintar dari desa sebelah didatangkan. Sembari menunggu si dukun datang tak henti-hentinya mereka mencari, bukan hanya di pekarangan rumah Embah Warsinah, semua tempat di sekitar sana sudah mereka periksa sampai sudut. Bebungaan dan tanaman Embah Warsinah porak-poranda, rumpun pisang tempat Daryono bersembunyi pun sudah mereka sambangi berkali-kali. Tapi tetap sia-sia, anak itu tak juga ditemukan.

Walimah tersadar dan menjerit ketika teringat anaknya yang hilang. Pukul sembilan malam Embah Jarot, si orang pintar baru tiba. Langsung disambut Walimah sambil meratap-ratap, seolah laki-laki sepuh berjanggut panjang itu yang menyembunyikan Daryono. Embah Jarot tampak menerawang, sambil komat-kamit entah membaca mantra apa. Suasana riuh tiba-tiba menjadi senyap, setiap orang bagai dibungkam oleh udara mistis yang ditebar si dukun. Ketika Embah Jarot berdehem semua orang terkesiap seolah bukan dari mulut si dukun suara deheman berasal.

Bocah iki… ora adoh songko kene… Tapi mustahil ditemokke kecuali bocahe dewe seng mulih,” (Anak ini, tidak jauh dari sini. Tapi mustahil ditemukan kecuali anaknya yang mau kembali) gumam Embah Jarot, gumaman yang cukup jelas untuk didengar semua orang yang ada di sana.

Ibunya Daryono menjerit histeris, melolong memanggil nama anaknya, memecah udara malam, bahkan ia jatuh pingsan lagi di tengah tangisannya yang tak terbendung. Beberapa perempuan mengusap pinggiran mata mereka, ikut menangis. Hari sudah teramat malam ketika Kiai Miun, tokoh agama Desa Lembah Lembayung, menyuruh para perempuan untuk pulang, beberapa yang lain menginap di rumah Embah Warsinah. Sedangkan para laki-laki berjaga di sana, lentera besar tak henti-hentinya dipompa agar tetap menyala. Terpal digelar di depan rumah Embah Warsinah, orang-orang duduk bersila berkemul sarung, kelelahan setelah mencari tanpa hasil. Kiai Miun tak habis-habisnya membaca doa diikuti yang lain. Di sisi lain, Embah Jarot juga tak mau absen dengan mantra-mantranya, komat-kamit di dekat pokok pisang tempat semula Daryono bersembunyi saat main petak umpet.

Baca juga : Aksi Mahasiswa Tuntut Rektor Turun dari Jabatan

Dan malam itu, entah bagaimana semua orang bagai tersirap, tanpa terkecuali Embah Jarot dan Kiai Miun, terguling tidur pulas begitu saja. Ada yang tergelatak tidur di terpal, di emperan, bahkan di bawah pohon kelapa dan di tempat-tempat yang tidak diinginkan untuk sekedar tempat berbaring. Semua lentera besar mati tanpa sebab padahal minyak jelas masih banyak. Satu-satunya alasan yang dapat diterima akal mengapa lentera besar mati secara bersamaan adalah karena tertiup angin sekencang badai, dan malam itu suasana senyap tanpa angin barang sehembus pun!

Saat semua mata terlelap, berkelebat bayangan di bawah cahaya remang rembulan separuh, barangkali seorang nenek-nenek, lari menggendong seorang anak laki-laki telanjang. Tubuhnya yang bungkuk mustahil bisa menahan beban di punggungnya, tapi bayangan itu berlari bagai dibawa angin. Sejenak ia berhenti di rumpun pisang, menjatuhkan sesuatu di sana dan berkelebat lagi entah ke mana. Kalau ada yang melihat bayangan nenek-nenek tersebut sempat berhenti, pasti ia terkejut karena penampakannya tidak lazim. Rambutnya yang gimbal dan jarang terurai di depan mukanya, mulutnya keriput tanpa gigi, sedangkan hidungnya melengkung bagai paruh elang, matanya semerah darah. Tak satu pun manusia yang sanggup menatapnya. Ia lari tanpa kain penutup tubuh sama sekali, dan yang menyeramkan adalah payudaranya terjuntai di atas tanah, dan akan salah diduga sebagai tangan tambahan saking panjangnya!

Keesokan harinya, para laki-laki yang semalam berjaga merasa kebingungan bagaimana mereka bisa tertidur begitu saja, seolah ada misteri yang menyungkupi mereka malam itu. Tidak sampai di situ, warga digemparkan lagi dengan ditemukannya seonggok pakaian Daryono yang dicampakkan di rumpun pisang. Pakaian tersebut tergeletak begitu saja dan masih dalam keadaan utuh, tanpa robek secuil pun. Itulah yang tersisa dari Daryono, hilang begitu dekat dan tak pernah ditemukan entah sampai kapan. “Mbah Warsinah ora ono!” (Mbah Warsinah tidak ada!) teriak salah seorang perempuan dari dalam rumah Embah Warsinah.

Editor : Delfi Ana Harahap
Foto :  Internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.