Daripada Tidak, Mencumbu Arwahmu Pun Jadilah

Daripada Tidak, Mencumbu Arwahmu Pun Jadilah

Penulis: Hendrik Khoirul

Gagasanonline.com – Anastasia terbangun dari tidur ketika suara ketukan di pintu kamar kosnya mengusiknya, jam berapa sekarang? Batin Anastasia kesal. Ia melirik sebentar jam beker di meja nakas dan mendengus sebal, siapa pula yang berkunjung di jam dua pagi, sangat tidak sopan. Tertatih ia sembari mengumpulkan nyawa menuju pintu kamar kos. Anastasia terkejut saat melihat Jose, pacarnya, ada di depan pintu kamar kosnya, dini hari. Bukankah baru sehari yang lalu Jose pamit untuk mendaki gunung dan akan kembali beberapa hari lagi? Tentu saja Anastasia bertanya-tanya, tapi entah mengapa pertanyaannya tak dijawab oleh Jose dan malah menyelonong masuk ke kamar kos Anastasia tanpa peduli apakah diizinkan atau tidak. Anastasia membuntuti Jose dengan muka bingung karena Jose tak mengacuhkan pertanyaannya. Jose duduk di tepian tempat tidur dan memandang Anastasia seolah tidak ada apa-apa.

“Ada sedikit masalah, jalur pendakian untuk sementara ditutup, jadi diundur,” kata Jose kemudian.

“Terus kok mampirnya ke sini?” Anastasia masih tidak mengerti.

“Kamu tidak suka?”

“Bukan begitu.”

“Aku ngantuk, jadi mana yang dekat saja,” kata Jose.

Anastasia mengangguk.

“Mau kubuatkan minum?”

“Boleh, kopi panas tanpa gula.”

“Tanpa gula? Tapi kan kamu…”

“Yang pahit ya.”

Sejak kapan Jose menyukai kopi pahit? Batin Anastasia. Ia bergegas ke pantri, menuangkan dua sendok bubuk kopi hitam ke dalam cangkir dan menyeduhnya dengan air panas dari dispenser, ia mengeluh saat setetes air panas menciprati tangannya. Anastasia lupa, hampir saja memasukkan gula ke dalam kopi, karena biasanya Jose menyukai kopi manis. Anastasia memberikan cangkir kopi itu kepada Jose. Wangi kopi menyeruak di ruangan itu, Jose menghirup kepulan asap sambil memejamkan mata, penuh penghayatan. Lagi-lagi Anastasia menatap Jose dengan muka bingung sekaligus heran, perlakuan Jose terhadap kopi yang seakan-akan memujanya itu membuat Anastasia mengerutkan kening. Jose bukanlah penggila kopi, pacarnya itu hanya minum kopi jika ingin saja.

Setelah puas menghirup aromanya, Jose meneguk, meneguk dan bukan menyeruput, kopi panasnya. Anastasia melongo, ia yakin betul air dari dispensernya tidak sekedar hangat, bagaimana bisa Jose meneguk kopi itu, bahkan tanpa berusaha meniupnya dahulu dan tidak merasa kepanasan?

“Hati-hati!”

“Oh, tidak apa-apa, kok…”

“Tapi itu masih panas,” kata Anastasia, khawatir.

Jose tidak memedulikan kekhawatiran Anastasia dan lekas menghabiskan kopinya dalam sekali teguk bersama ampasnya, tandas dalam beberapa detik. Jose menatap Anastasia, mengabaikan keheranan yang membingkai wajah pacarnya itu dan berkata, “Aku tidur di sini boleh, ya?”

“Jangan! Kamu pulang aja,” kata Anastasia spontan. Anastasia terenyak dalam hati, semalam apa pun, pantang bagi Jose menginap di kamarnya.

“Kenapa?”

“Jose?”

“Iya?”

“Kamu enggak mabuk kan?”

“Enggak…”

“Kamu tau kan risikonya kalau kita tidur sekamar?”

“Memangnya kenapa?”

“Kenapa? Kamu tanya kenapa?” Anastasia sontak merasa marah.

“Aku tidak akan menyentuhmu, tenang saja. Aku akan tidur di sofa,” kata Jose.

“Awas aja kalau…”

“Kamu meragukan aku?”

Anastasia tidak meragukan Jose, hanya saja dialah yang merasa ragu akan dirinya. Jose adalah laki-laki baik yang tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar norma, dan karena itulah Anastasia menyukainya. Namun kebaikan hati Jose ternyata membuatnya teramat polos, sejauh ini Jose hanya berani mengelus kepala dan mencium kening Anastasia saat berpacaran. Sebagai seorang perempuan yang ingin disayang, sesekali Anastasia ingin dicumbu mesra dan ia jengah karena Jose tidak pernah melakukannya. Sebenarnya, acapkali Anastasia berusaha memancing dengan mencium pipi Jose, namun respons Jose hanya sebatas elus rambut dan cium kening, itu-itu saja. Jadi wajar Anastasia tidak meragukan bahwa Jose tidak akan menyentuhnya.

Dan, malam itu mereka tidur berdua di kamar kos Anastasia, Jose meringkuk di sofa dengan sepotong selimut yang hanya menutupi tubuhnya dari kaki sampai dada, sementara Anastasia berbaring di tempat tidur sambil sesekali menoleh ke arah Jose. Jose memang tampan, pikir Anastasia, sorot remang lampu tidur yang menimpa wajah Jose menambah kesan betapa seksi garis muka pacarnya itu. Embusan napasnya yang damai, membuat dada bidangnya naik turun dengan tenang, betapa hangat dan nyamannya bersandar di sana malam ini. Hentikan! Pikir Anastasia, hentikan pikiran-pikiran itu dari kepalamu!

Anastasia berusaha melupakan hasratnya dan memejamkan mata, tidak! Ia tidak boleh memikirkan yang tidak-tidak. Jose yang baik akan membencinya kalau saja… kalau apa? Anastasia merasa pipinya panas, membayangkan ia merengkuh Jose dalam pelukannya dan mencumbunya. Anastasia semakin gelisah dalam baringnya, waktu dirasanya merangkak sangat lambat dan ia membenci pikiran-pikiran nakal yang berkelebat dalam benaknya. Persetan! Rutuknya dalam hati dan melompat dari tempat tidurnya, menyongsong Jose tanpa bisa mengendalikan diri.

***

 

Jam beker di meja nakas Anastasia berdering keras dan memekakkan seisi ruangan itu, Anastasia terenyak dan bangun dari tidurnya, pukul tujuh lewat lima belas, gawat! dua puluh menit lagi ia ada jadwal kelas, dan itu berarti ia hanya punya waktu kurang dari sepuluh menit untuk bersiap dan lima menit menuju kampus! Ia bangkit dan lantas menyadari semalam tidak tidur di kasur, bagaimana mungkin dirinya berpindah ke sofa dan dalam keadaan… telanjang. Anastasia menatap sekelilingnya dan mendapati baju tidur dan pakaian dalamnya tergeletak di lantai, apa yang tengah terjadi dengan dirinya?

Cangkir sisa kopi di meja mengingatkan kehadiran Jose semalam, Anastasia ingat setelah pergumulan itu ia jatuh tertidur, pipinya menghangat mengingat kejadian itu. Ia menatap sekali lagi sekeliling kamarnya dan tidak mendapati Jose di sana, mungkin laki-laki itu sengaja tidak membangunkannya karena melihat dirinya kelelahan. Anastasia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tapi satu keanehan yang ia dapati di dirinya, tidak ada sisa-sisa habis bercinta semalam, Anastasia masih perawan, padahal  ia yakin kejadian semalam adalah nyata dan bukan mimpi. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Selesai mandi Anastasia memeriksa kembali cangkir kopi di meja bekas Jose semalam, cangkir kopi itu nyata dan ada sedikit sisa ampas kopi di dasarnya, hanya sedikit karena Jose juga meneguk ampasnya semalam. Sesuatu yang tak biasa Jose lalukan menurut Anastasia. Semuanya serba aneh dan tak bisa dinalar, pikiran Anastasia tak bisa memecahkan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana mungkin…

Dua hari berselang saat jam makan siang Anastasia mengajak teman sekelasnya, Diana, ke kantin fakultas. Anastasia sudah berkali-kali menghubungi Jose sejak kemarin, tetapi nomor kontak pacarnya itu sedang tidak aktif, chat yang dikirimnya juga masih pending. Dalam hati Anastasia mulai tak tenang, jangan-jangan Jose berusaha menghindarinya.

“Eh, sudah dengar info belum?” kata Diana

“Info apa?” respons Anastasia, acuh tak acuh karena hatinya gelisah.

“Tiga hari lalu, ada salah satu mahasiswa dari kampus kita yang hilang di Gunung A!”

“Kok bisa?” tanya Anastasia, Jose kemarin juga akan naik gunung itu, batinnya.

“Jalur pendakiannya itu ditutup karena ada kebakaran, tapi mereka bersikeras tetap naik. Nah, di tengah pendakian katanya si mahasiswa ini pamit mau kencing, lama ditungguin enggak balik-balik,” kata Diana.

Dalam hati Anastasia bersyukur karena Jose tidak jadi naik gunung, ternyata benar apa kata Jose, jalur pendakian gunung itu memang ditutup.

“Info dari mana?”

“Nih, dari Instagram-nya pers kampus,” kata Diana sembari menyodorkan gawainya ke Anastasia.

Bagai disambar petir di siang bolong, kaget bercampur rasa tak percaya, “Jose…” desis Anastasia saat mendapati figur pacarnya terpampang di layar gawai Diana.

‘Joseph Anggara, Mahasiswa Ilmu Hukum Semester Lima dinyatakan hilang saat mendaki Gunung A…’

“Kamu kenal?” tanya Diana, penasaran.

Jose hilang saat mendaki gunung tiga hari lalu? Jose hilang? Hilang? Lalu siapa malam itu yang mampir ke kosnya? Siapa yang ia buatkan kopi pahit? Siapa yang bercinta dengannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya secara rasional, malam itu Anastasia yakin betul tidak sedang bermimpi, cangkir sisa kopi pahit itu buktinya… Tanpa bisa mengendalikan diri, Anastasia meneteskan air mata, tak bisa berkata-kata.

Hari-hari berikutnya setelah Jose dinyatakan hilang, Anastasia lalui dengan ketidakpercayaan akan raibnya Jose, sering kali setiap gawainya berdering ia berharap itu adalah panggilan atau notifikasi chat dari pacarnya itu. Dan setiap kali ia memeriksa gawainya, kekecewaan yang ia dapatkan. Namun hidup mesti tetap berlanjut meski Anastasia bagai tak berselera lagi menjalani hidup. Anastasia harus menerima kenyataan ketika Tim Pencari mengumumkan menghentikan pencarian dengan hasil nihil setelah selang seminggu kehilangan Jose.

Sebulan setelahnya, Anastasia mencoba membohongi pikirannya bahwa Jose sudah tenang di alamnya, entah alam mana. Kenangan malam itu ia biarkan terendap menjadi peristiwa tak terlupakan yang hanya dia yang tahu, dan Anastasia masih dengan keyakinannya bahwa percintaan malam itu yakin seyakin dirinya tengah mengandung janin Jose. Awalnya Anastasia tak yakin dirinya hamil, tapi kenyataan bahwa ia telat datang bulan dan indikasi merasa mual saat mencium aroma wewangian, merasa lelah dan sering pusing, serta menyukai rasa jeruk nipis membuatnya memutuskan mengeceknya sendiri dengan alat pengecek kehamilan. Dan ternyata benarlah ia tengah hamil. Kehamilan yang tak masuk akal dengan keadaan dirinya masih perawan.

Anastasia tidak berusaha mengecek kandungannya ke bidan, ia tidak tahu harus menjawab apa yang terjadi padanya hingga bisa hamil bahkan dengan keperawanan masih utuh. Tak mungkin Anastasia menjawab, “Oh, ini hasil dari bercinta dengan setan…” Kegundahan sempat menyerang benak Anastasia, ia menimang apakah akan menggugurkan janinnya dan menjalani hidupnya seperti sedia kala atau tetap merawat janin itu lalu pergi entah ke mana. Pilihan pertama jelas tidak mungkin, bagaimanapun juga janin di perutnya adalah buah cintanya dengan Jose. Anastasia harus merawatnya dengan konsekuensi ia harus menghilang dari pandangan orang-orang yang dikenalnya untuk menghindari pertanyaan tentang siapa bapak dari anaknya itu. Tak apa, biar hanya arwah Jose yang mencumbu Anastasia, baginya cinta Jose akan selalu terkenang bersama hadirnya buah hati, si anak arwah.

Editor: Bagus Pribadi
Foto: Internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.