Pelarian (Stigma NKRI 2)

Pelarian (Stigma NKRI 2)

Penulis: Muhammad Al-Hafis**

Gagasanonline.com – Matahari mulai terbenam di bawah rintik hujan yang mulai turun ke alam semesta. Dalam pelarian ini aku panjatkan puji syukur kepadamu Tuhan. Sekilas terngiang wajah orang tua yang selalu menyayangi dan menjagaku.

“Mudahan mereka baik-baik saja,” gumamku.

Motor yang aku tumpangi tiba-tiba berhenti. Akhirnya aku sampai ketempat tujuan, sebuah gubuk kecil beratapkan jerami. Kupandang sekeliling, hanya hutan belantara yang kujumpai. Mungkin inilah tempat terbaik untuk sekarang.

“Sembunyilah kau disini dahulu sampai situasi mulai aman,” ucap Bujang, sahabatku yang senantiasa menolongku.

“Terimakasih, Bujang,” jawabku.

Baca: Stigma NKRI

Bayang-bayang Bujang pun mulai menghilang dari pandanganku. Dengan sunyinya malam dan hujan yang begitu deras, aku berharap Bujang baik-baik saja dalam perjalanan pulangnya. Dalam gubuk kecil ini aku duduk beralaskan tikar lusuh yang tergeletak di sudut ruangan. Dengan cahaya seadanya, aku merenungkan nasib yang telah menghampiriku. Rasa cemas terus menghantui pikiran dan hatiku.

“Aaah bangsaaat!” teriakku.

Hujan mulai turun lebih deras lagi diikuti suara gemuruh saling menyambar. Mungkin badai yang sangat besar akan datang malam ini. Ditemani sebuah pena aku mulai menulis pada sebuah buku kecil yang terus aku bawa ke mana-mana.

“Malam ini, di bawah gemuruh langit kelam, telah tercipta sebuah sejarah yang membuktikan bahwa keadilan hanyalah omong kosong belaka. Keadilan hanya tercipta bagi sekolompok masyarakat mayoritas. Kemanusian yang dimiliki segelintir orang, diredam dengan senjata dan ancaman dari sekolompok kalangan elit yang pintar bersilat lidah. Di sini aku berdoa kepada Tuhan, untuk selalu menguatkan jiwa dan ragaku dalam menghadapi dunia yang kejam ini.”

Baca: Overdosis

Diiringi suara merdu katak yang saling bersahut-sahutan, badanku yang lelah, mulai terlelap dalam semua kecemasan yang ada. Secercah cahaya datang menghampiriku. Sangat terang sekali cahaya itu, bagai sebuah matahari yang menyapa. terdapat seseorang yang sedang berdiri di tengah cahaya tersebut.

“Abaaah!” teriakku.

Wajah dan senyum itu tidak akan mungkin aku lupakan, wajah seorang pahlawan yang mengajarkan arti kehidupan kepadaku.  Cahaya itu tak lagi terang, dia mulai meredup dengan sendirinya, begitu pula dengan senyuman bapak yang mulai menghilang dari pandanganku.

“Abaaah, jangan tinggalkan aku lagi,” ucapku seiring air yang telah membasahi pipiku.

Aku terbangun oleh ketukan pintu sahabatku.

“Toni situasi sudah mulai aman,” teriak Bujang sembari mengedor pintu.

Aku mulai bergegas membukakan pintu sahabatku.

“Ayo cepat! Kita harus segera bergerak,” ucap Bujang.

Baca: Gamang

Kami pun pergi meninggalkan gubuk kecil tersebut. Seiring berjalannya laju Vespa, aku menoleh ke arah belakang. Masih terbayang senyum abah dan sebuah kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan. Karena peristiwa tersebut telah merebut abah dariku.  Kejamnya dunia telah membuatku menjadi sebatang kara.

“Sudah sobat, semua akan baik-baik saja,” kejut sahabatku.

Beruntung Tuhan masih memberi kemurahan hatinya dengan mempertemukan aku dan Bujang. Sekarang aku hanya bisa terus hidup dan berusaha menolong orang yang senasib denganku. Walau dunia memang kejam bukan berarti hidup telah berakhir.

“Terimakasih Bujang, kau telah banyak membantuku,” ucapku

Editor: Hendrik Khoirul
Foto: Gagasan/Hafis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.