Sastra

Mati di Setitik Kriminalisasi.

Penulis: Delfi Ana Harahap Aku berjalan menyusuri jalanan gang, niatku untuk membeli mie instan di warung persimpangan jalan dekat tempat potong ayam. Tapi kulihat banyak orang berkerumun di depan warung itu, mulai dari lansia, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, dan remaja. Semuanya berkerumun membentuk lingkaran, terdengar suara-suara makian dan wajah-wajah penuh rasa geram. Aku penasaran, ku terobos kerumunan itu. Dan mengerikan, kudapati anak-anak dengan luka pukul dimana-mana, dan dahi sudah berdarah. Kuperkirakan umurnya masih 10

[Sastra Puisi] Sandiwara Zaman

Penulis: Kiki Mardianti Sebuah narasi dari negeri ini telah tercipta Terdapat antagonis di dalamnya Panggung sandiwara pun dimulai Dengan beberapa episode yang menusuk jiwa   Terciptanya kenistaan, lahirlah kehancuran kejamnya maling berdasi membuat dadaku sesak Cukup! Aku muak dengan semua ini Akhiri saja episode itu, sandiwara yang kau buat tak berarti bagiku   Kini zaman pun kelam Hilang sudah cahaya kedamaian Hancur juga persatuan Narasi tak beralur pun membutakan mimpi

[Sastra Puisi] Bertahan Walau Tak Diperlukan

Penulis: Saprian Mahendra** Gagasanonline.com – Di tengah malam sepi yang sunyiBayangmu selalu datang menghantuiMembuatku terjaga dan terkurung dalam sunyiBersamamu adalah impian terbesarku Namun kini harapan itu hanya sebatas mimpikuTapi biarlah mimpi itu selalu menemani tidurkuAgar aku bisa merasakan indahnya bersamamuAku senang senyum indahmu kini berseri lagiBagaikan bunga bermekaran di musim semi Tapi kini baru ku sadariSenyum itu bukan untukku lagiAda beribu kata yang tak terucapAda berjuta rasa yang tersampaikan Walapun

[Sastra Puisi] Barang Kali

Akulah pemuda penuh cita-cita Laksana jendral yang bergema bawa senjata Sumpah leluhur adalah segenap jiwa Kupersembahkan cinta abadi bagi nusantara Barang kali pemuda sudah lupa Ada ikrar yang harus dibawa nyata Barang kali pemuda sudah binasa Kelupaan pada jiwa yang memberikan asa Aku terluka, aku pemuda cacat Tak mampu memberi negeri selamat Barang kali jiwa pemudaku mulai menua Barang kali aku pemuda yang gila Akulah pemuda penuh cita-cita Yang tak

[Sastra Puisi] Teruntuk Keluarga

Kadang kala dalam angan ini terlintas Terlintas rasa rindu yang begitu dalam Sedalam inti bumi bersemayam Rasa ini tak kan bisa kupungkiri lagi Mereka lah yang selalu ada dan memberi semangat Mereka yang selalu dalam satu atap bersamaku Mereka yang peduli terhadapku Mereka yang sangat sayang padaku Mereka yang mengajarkan ku hidup mandiri Mereka adalah segalanya bagiku Yaa… Mereka lah keluargaku Disana ada ayah, ada bunda, ada adik, dan kakak…

Cinta Kasih yang Tak Pernah Luntur

Judul                  : Ayah Penulis               : Andrea Hirata Penerbit             : Bentang Tanggal Terbit  : Mei 2015 Tebal                   : 432 halaman -Ayah- Kulalui sungai yang berliku Jalan panjang sejauh pandang Debur ombak yang menerjang Kukejar bayangan sayap elang Di situlah kutemukan jejak-jejak untuk pulang Ayahku, kini aku telah datang Ayahku, lihatlah, aku sudah pulang – Andrea Hirata terkenal dengan karya-karya

Sepahit Kopi  Arabika

Oleh : Lailatu Rahma “Alya Rena S.Pd anak dari Bapak Jery dan Ibu Nela. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, IPK 3,95 dengan predikat cumlaude. Merupakan mahasiswi pemuncak Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,” gema Moderator Sidang Senat Terbuka. Dengan bangga kedua orang tua Alya berdiri sembari tepuk tangan sekeras mungkin, agar semua orang tahu bahwa Alya adalah putrinya. Dengan penuh rasa gemetar, ia melangkahkan kaki menuju panggung. Diiringi tepuk tangan yang

Puisi Orang

Kata orang, mereka ingin kedamaian. Damai  muncul dari pertumpahan darah. Kata orang, mereka ingin kemakmuran, kemakmuran mereka membuat nestapa. Kata orang mereka ingin hidup tenang, telinga pekak karena keributan huru hara. Kata orang mereka ingin kaya, kaya mereka menimbulkan kemiskinan  Kata orang, mereka ingin bangkit. Bangkit dengan menginjak satu sama lain. Kata orang mereka ingin berkuasa, ambisi memberangus beragam asa Kata orang mereka manusia, kata Tuhan mereka kalifah, kata malaikat