Overdosis

Overdosis

Penulis: Hendrik Khoirul

Gagasanonline.com – Sekarang aku sudah lebih dari setengah semester di SMA ini, SMA yang tak sebanding dengan SMA-SMA yang dulu pernah jadi sekolahku. Sekolahan bobrok ini, baik infrastruktur maupun moralnya, adalah tempat yang tepat untukku. Aku memang terlalu sering pindah sekolah dan di SMA inilah aku bisa bertahan cukup lama, secara sadar aku merasa di sinilah tempatku.

Banyak alibi yang mereka gunakan untuk mendepakku dari SMA yang dulu, alasan yang teramat kentara dibuat-buat, itu menurut pandanganku, kalau kata orang tuaku aku dikeluarkan karena aku memang pantas menerima itu. Menurut mereka, menurut semua orang, anak sepertiku ini adalah tipe-tipe makhluk hidup yang pantas disingkirkan ke tempat khusus karena begitu nakal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia nakal adalah suka berbuat kurang baik, yang aku rasa itu memang perilakuku. Tapi mana aku peduli apa itu kurang baik, toh aku malah bangga dengan predikatku ini.

Baca: Stigma NKRI

Di SMA ini semua murid-muridnya sama sepertiku, berembel-embel ‘anak nakal’ dan mereka juga tidak keberatan dengan penamaan itu, inilah sebabnya aku bisa bertahan sejauh ini. Tapi aku masih banyak kekurangan dibanding mereka, pengalaman kenakalan mereka luar biasa, bahkan tindak kenakalan mereka ada yang sampai masuk berita di media. Ada yang pernah menyiksa orang hampir mati, memperkosa anak SD, ada juga yang pernah menyandera polisi. Sedangkan tingkat prestasi kenakalanku baru sampai pada kecanduan Narkoba, yang menurut mereka masih sepele, masih manusiawi.

Anak perempuan di sekolahku adalah toko prostitusi, jangan kaget kalau hampir semua dari mereka kenal baik dengan om-om berduit yang genit di kota ini. Sesekali mereka juga menawari kami, para lelaki, dan itu bukanlah hal luar biasa, biasa saja menurutku. Bagiku sekolah di sini bukanlah untuk belajar, aku senang di sini karena aku merasa diterima tanpa harus merasa dihakimi. Aku tidak seperti anak-anak SMA di luaran sana -oh maaf- yang belajar tekun atas nama cinta bangsa yang ujung-ujungnya kalau jadi pejabat pasti mengembat duit rakyat. Astaga! Bagus sekali kata-kataku ini.

Baca: Gamang

Orang tuaku tak pernah tahu seperti apa sekolah baruku, mereka cukup sibuk mengurusi bisnis-bisnis mereka, sesuatu yang lebih menarik dan lebih memerlukan perhatian mereka dibanding aku, anaknya. Seminggu sekali aku bertemu mereka, itu pun kuanggap sebagai suatu kemalangan karena mereka hanya akan mengomeli kelakuanku dengan kata-kata yang membuatku berpikir mungkin aku bukan anak mereka. Tapi aku masa bodoh, selama ada narkoba cacian dari orang tuaku tidak menjadi masalah.

Aku sering absen gara-gara sakau, ketergantunganku pada benda yang orang normal sebut haram itu semakin menjadi. Semua orang juga tahu kalau aku sudah kecanduan, tubuhku kurus, bibirku memucat dan mataku menghitam serta kelopak mataku mencekung, hanya orang tuaku yang beranggapan bahwa aku baik-baik saja. Orang tua macam apa itu? Ah, aku toh sudah biasa tidak diperhatikan jadi aku tidak merasa sakit hati.

Sampai pada saatnya aku over dosis di toilet sekolah dan hampir mati kalau saja teman-temanku tak segera membawaku ke rumah sakit, syukur mereka ada sedikit hati untuk menolongku. Aku harus terbaring tak berdaya di rumah sakit dengan keadaan yang miris, aku tak sadarkan diri untuk waktu yang lama, dan ketika siuman tubuhku terasa begitu sakit dan kepalaku berdenyut-denyut. Entah obat apa yang dokter berikan padaku, tapi paling tidak obat ini bisa sedikit menambah usiaku, aku tidak tahu apakah aku akan pergi meninggalkan rumah sakit ini karena sembuh atau karena kematian.

Baca: Kuli(ah)

Seorang suster mendatangiku dan memeriksa denyut jantungku, dia tersenyum dan menanyai bagaimana perasaanku dan aku tidak menjawab. Suster mengatakan ada yang ingin bertemu denganku, setelah dia keluar ibuku menyeruak masuk dan menubrukku, membuatku terkejut dan berusaha memberontak, namun tubuhku terasa lemah dan ibu memeluk erat badanku dengan paksa, sambil membisikkan kata-kata yang kedengarannya seperti permintaan maaf. Setelah pelukan sebentar yang menurutku cukup lama, ibu melepaskan pelukannya yang menyesakkan dan menatapku dengan wajah berurai air mata.

Aku tak bisa berpikir jernih, karena mungkin masih terpengaruh oleh obat penenang. Tapi ada perasaan menyenangkan saat ibu mengelus rambutku, ketenangan ini lebih nyaman dibanding pil-pil narkoba itu. Dan aku menangis mengingat dulu aku pernah memimpikan akan adanya sedikit perhatian dan kasih sayang dari orang tuaku. Ada tangan besar yang tiba-tiba menghapus air mata di pipiku, wajah ayah tampak membeku saat melihatku, aku dan ayah tak pernah sedekat ini sejak lama sekali. Ayah mengangkat tubuhku dan aku menjatuhkan kepalaku di pundaknya, pergerakan ini membuat kepala berdenyut sakit tapi aku tak peduli. “Maafkan, Ayah, Nak…” bisik ayah di telingaku.

Sekarang aku terbaring tenang di bawah batu nisan ini, 12 Januari 2013, sehari setelah kejadian luar biasa itu aku menghembuskan nafas terakhirku, mereka mendapatiku tak bernapas setelah aku pergi satu jam sebelumnya. Kalian jangan sampai bernasib sama denganku. Kasih sayang orangtua kalian adalah obat dari segala masalah kalian, mintalah jika tak diberi, minta banyak jika diberi sedikit dan jangan pernah sampai kekurangan kasih sayang dari orangtua kalian.

Pekanbaru, 17 Maret 2018

Editor: Tika Ayu
Ilustrasi: Zenpype.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.