Orang Aneh dan Hidup yang Begitu Saja

Orang Aneh dan Hidup yang Begitu Saja

Penulis: Delfi Ana Harahap

Gagasanonline.com – Orang Aneh adalah novel terbaik Albert Camus yang memantulkan keterasingan dan absurditas manusia. Kisah dalam novel ini dibuka dengan kematian Madame Mersault, ibu kandung Mersault yang meninggal di panti jompo yang dihuninya tiga tahun terakhir.  Mersault tidak benar-benar sedih akan kematian sang ibu, karena ia berpendapat bahwa kematian ibunya diluar pemikirannya dan bukanlah salahnya. Bahkan ia tak tahu pasti berapa umur ibunya saat itu. Ketika menunggui mayat sang ibu semalaman, ia menatap aneh pada orang tua yang menangis meratapi kematian ibunya. Karena ketika itu ia tidak merasakan apa pun, menurutnya ketika seseorang telah mati tak perlu ada lagi yang dikenang tentangnya, karena hal tersebut tak ada gunanya dan tak membuat Madame Mersault kembali hidup. Yang Mersault rasakan malam itu hanya kebosanan dan ngantuk yang sesekali diselingi dengan minum kopi dan hisapan rokok, yang sebenarnya tak boleh ia lakukan dihadapan mayat sang ibu.

Ke esokan harinya ia pulang setelah mayat si Ibu dimakamkan. Ia menghindari tempat makan Cestele, karena ia tak suka orang mengucapkan bela sungkawa. Ia bertemu dengan Marie dan seolah kematian sang Ibu tak pernah terjadi. Marie menanyakan apakah Mersault mencitainya dan mau menikahinya. Mersault tak menjawab karena menurutnya tak ada arti dari sebuah ucapan cinta. Jika Marie telah yakin padanya, ia bersedia menikahi Marie.

Baca: Realita Ketidakadilan yang Mengintai Perempuan

Suatu ketika Mersault terlibat masalah yang menimpa Raymond ketika mereka pergi berlibur di sebuah pantai. Mersault, Raymond, Masson terlibat perkelahian dengan tiga orang Arab kerabat dari mantan kekasih Raymond. Perkelahian usai dengan larinya orang-orang Arab itu. Setelah makan siang Mersault kembali ke tempat kejadian dan menemukan satu orang Arab tadi sedang berbaring di pasir, mereka saling memandang dan Mersault menembaknya empat kali hanya karena udara siang itu sangat panas, hinggga orang Arab itu mati.

Beberapa bulan ia dibui di dalam sel yang sepi dan hanya dirinya sendiri. Ia tak juga merasakan apa-apa dan tak peduli pada apapun yang akan terjadi. Menurutnya kematian orang Arab dan ia dibui merupakan sebuah kebetulan saja. Di persidangan ia dipojokkan oleh jaksa dan hakim serta orang-orang yang melihat persidangan. Ia dianggap orang aneh yang tak punya perasaan dan berhati dingin karena tak sedih ketika ibunya meninggal, bahkan Mersault dianggap jauh lebih kejam dibandingkan seorang anak yang membunuh ayah kandungnya. Jaksa juga mengatakan ia tak pantas diberi ruang maaf di masyarakat, karena hatinya yang mengerikan. Pada akhirnya Mersault dijatuhi hukuman mati, menjelang hukuman mati itu seorang pendeta mendatanginya dan menyuruhnya bertaubat, namun Mersault mengamuk, segala emosi tertumpahkan begitu saja. Ia tak percaya Tuhan dan tak ingin menghabiskan waktu yang tersisa hanya untuk berdoa, yang menurutnya tak akan mengubah apapun.

Baca: Obsesi Dibelenggu Perbedaan Kepercayaan Iman

Novel ini menarasikan keabsurditas dan keterasingan individualitas Mersault sebagai manusia yang memiliki sifat dan pandangan hidup yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Pandangan hidup yang dianut Mersault cenderung mustahil dan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan manusia mayoritas. Sifat individualitas dalam menjalani hidup membuatnya tersudutkan. Orang-orang selalu mempermasalahkan dirinya yang tidak sedih ketika sang ibu mati, ia yang tak percaya cinta, Tuhan, belas kasihan dan perasaan melankolis lainnya. Karena menurutnya kehidupan adalah suatu kebetulan yang hanya perlu dijalani.

Keterasingan Mersault dalam novel ini sedikit mencontohkan bahwasannya agar dipandang sebagai manusia, manusia harus punya batasan-batasan dan perasaan tertentu. Hal tersebut menandakan bahwasannya manusia tidaklah benar-benar bebas untuk menjadi manusia seutuhnya.

Judul : Orang Aneh

Penulis : Albert Camus

Penerjemah : Max Arifin

Penerbit : Narasi

ISBN : (13) 978-979-168-469-9

Cetakan : Pertama, 2017

Halaman : iv + 168

Editor: Bagus Pribadi
Foto: Gagasan/Delfi Ana Harahap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.