Kuli(ah)

Kuli(ah)

Penulis: Hendrik Khoirul

Gagasanonline.com- Mereka itu, kata Mang Atang, bukan orang biasa seperti rakyat pada umumnya. Mereka itu, yang ada embel-embel nama mahasiswa, jelas-jelas tidak sekelas dengan kuli macam aku. Mereka lebih tinggi kelas sosialnya. Aku sendiri tak tahu apa itu kelas sosial, jangankan kelas sosial, kelas 5 SD saja aku tidak tamat. Tak bisa dikira dengan jari tangan, belasan tahun lalu mungkin. Pasti, bukan mungkin, aku putus sekolah. Beruntung rasanya menjadi mereka, bisa makan bangku kuliah, sedangkan aku makan nasi sehari dua bungkus saja sudah harus nambah utang sana-sini. Kata Mang Atang juga, berkat mereka yang bernama Maha itu, negeri yang dulu milik soeorang saja, yang berkuasa berpuluh-puluh tahun, kini jadi milik rakyat. Berarti, berkat orang-orang Maha itulah, aku, aku rakyat, punyai negeri ini.

“Apa orang macam kita ni bisa kuliah, Mang?” tanyaku pada Mang Atang, suatu ketika saat ngaso kerja. Mang Atang itu kuli juga macam aku.

Mang Atang ketawa, tawa orang kaya, sengak, tidak begitu kalau kuli ketawa.

“Kok, ketawa, Mang? Lucu tah?” aku tersinggung.

“Kau ini, Jo! Ngelindur kau?” ledek Mang Atang.

“Memangnya kenapa, Mang? Salah kalo Paijo yang cuma kuli ini nanya?”

“Kenapa kau ini, Jo? Bosan kau jadi kuli?” Mang Atang menatapku.

Aku muak dengan tatapan seperti itu, tatapan iba orang-orang sekampung di kampungku saat menatapku. Aku tidak sekampung dengan Mang Atang. Tapi, ditatap seperti itu aku merasa ada di kampungku. Tatapan untuk anak tak berayah tak beribu. Tatapan untuk anak terbuang sepertiku.

“Cuma bertanya, Mang,”

“Tak taulah aku, Jo! Orang macam aku ini cuma tau kerja dan dapat bayaran. Anak istriku butuh makan, kalau mau makan aku kudu punya uang. Jadi kuli inilah jalanku cari uang, Jo. Kalau kau hendak kuliah, kau masih muda, Jo,” jawab Mang Atang.

“Jadi, aku bisa kuliah, Mang?”

“Tak tau aku, Jo.”

Semenjak percakapan dengan Mang Atang itu, walau hanya sedikit, ada rasa pengharapan dalam benakku bisa kuliah. Sebenarnya, kata-kata Mang Atanglah yang membangkitkan minatku pada kuliah, apalagi waktu dia bercerita tentang adik-adiknya yang sempat merasakan bangku kuliah, kisahnya begitu mengharukan. Berkat kuliah, adik-adik Mang Atang itu, mereka jadi gampang dapat kerja. Kerjanya enteng, ringan, bisa sambil duduk namun bisa beli mobil. Sitik penggawean, katah artone, sedikit kerjanya banyak uangnya. Siapa yang tak hendak jadi model begitu? Menurutku memang ajaib kuliah itu, kata Mang Atang, orang jadi guru karena kuliah, orang jadi insinyur karena kuliah, orang jadi dokter pun karena kuliah. Bayangan bisa jadi orang-orang hebat gara-gara kuliah membikin hati ini makin ingin.

Lucunya, apa itu kuliah, aku barang kali hanya pura-pura tahu. Kalau aku lihat di sinetron yang kutonton di rumah Mang Atang, kuliah itu tampaknya mudah-mudah saja, seperti sekolah biasa, hanya bedanya boleh pakai pakaian bebas. Ya, kuliah itu, menurutku, sekolahnya orang-orang yang sudah dewasa. Itu artinya kalau aku bisa kuliah, aku akan sekolah lagi. Tapi tentu saja sekolahnya akan beda dengan anak-anak SD, beda dengan zaman sekolahku dulu.

“Jo, kau mau kuliah?” tanya salah seorang kuli, waktu itu mereka tengah istirahat dan makan siang. Beberapa, hampir semua malah, mereka mengubah perhatian ke arahku. Wajah-wajah mereka seolah hendak tertawa, tawa orang kaya, tawa sengak yang bukan milik mereka. Aku diam saja.

“Apa bisa? Kau kan, tidak tamat SD!” sahut suara lain.

Tawa mereka berderai, tawa mereka sendiri. Aku diam saja, tapi tidak batinku. Aku bertanya-tanya, memang kenapa kalau tidak tamat SD?

“Kuliah itu, Jo,”  kata seseorang yang duduk di bangku, di belakangku, “Mahal!”

“Aku bisa ngutang,” batinku.

“Dan belum tentu berhasil!” sahut yang lain.

“Aku akan berhasil,” batinku.

“Jadi pengangguran!”

“Kalau aku sudah kuliah, kalian jadi kuliku!” batinku, lagi.

“Jadi penindas!”

“…”

“Jadi dewan, menipu rakyat! Makan uang rakyat!”

“…”

“Jadi teroris!”

“…”

“Jadi kuli juga akhirnya! Macam kita…”

“…”

“Kuli! Ah…!” tawa berderai, mereka terpingkal-pingkal.

Mereka, mereka para kuli itu, terus saja menjadi-jadi, memuntahkan segala yang ada di pikiran kepala, disambut tawa yang lain. Aku, Paijo, kuli semacam mereka yang hanya sekedar berangan bisa kuliah, didemo layaknya pemimpin zalim, diomeli layaknya anak mengompol, disiksa batin layaknya tak berperasaan. Aku diam saja, batinku, perasaanku berdarah-darah.

Sorenya, seusai kerja, selepas tragedi itu, Mang Atang mendekatiku, ia menepuk pundakku, tepukan hangat. Aku memandang Mang Atang. Datar. “Apa yang jadi sebab kau mau kuliah, Jo?” tanya Mang Atang. Matanya bersimpati, simpati seorang bapak pada anak. Kalau aku punya bapak, barangkali seperti Mang Atang inilah sosok Ayahku. Hoho! Aku tidak berbapak, tidak pula beribu.

“Kata-katamu itulah, Mang. Gara-gara kata-katamu, Mang!” mataku pedih, tak kutatap Mang Atang.

“Maafkan, Mang Atang, Jo. Selama ini aku selalu cerita yang baik-baik saja tentang mereka,” sesal Mang Atang.

“Mereka siapa, Mang?” kuli-kuli itu? Mang Atang tak pernah cerita tentang mereka.

“Kuliah itu…” kata Mang Atang, lirih.

“Maksudnya, Mang?”

“Yang teman-teman kita bilang itu benar, Jo. Orang-orang pintar itu memang pintar. Kepintaran yang mereka dapat itu, dulu hasil dari kuliah. Kan kau suka sekali menonton berita, banyak tak berita tentang koruptor?”

“Banyak, Mang! Yang terbaru kasus dana Haji.”

“Nah, mereka-mereka itu bukan orang biasa, Jo… dulu mereka kuliah. Tau kau.”

Aku benar-benar kaget, benarkah begitu? Jadi orang-orang yang mengambil uang rakyat itu dulunya kuliah? Apakah ada perkuliahan tata-cara membohongi rakyat?

“Tapi, tak semuanya begitu, Jo, kau tak boleh lantas berprasangka buruk sama orang kuliahan, banyak juga mereka yang membangun negara ini, mengabdikan diri untuk negara. Jadi guru, mendidik generasi penerus bangsa, Jo. Jadi dokter, menolong orang sakit. Jadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Mereka itu juga banyak yang jadi orang bermanfaat buat orang banyak, Jo. Pantaslah mereka dapat gaji besar.”

“Bisakah kita yang kuli ini ikut membangun negara, Mang?”

“Kau tau tak, Jo?” tanya Mang Atang, tersinggung.

“Apa, Mang?”

“Asal kau tau, Jo! Orang macam kita inilah yang membangun negara ini! Kuli-ah! Kuli! Kuli, Jo! Macam kita ini, Jo! Kalau tak ada kuli macam kita ini, Jo. Tidak ada gedung-gedung tinggi di kota ini. Tidak ada jalan aspal nan mulus. Tak ada, Jo. Biar orang-orang pintar itu punya ide seberapa dahsyatnya, Jo, tak akan terwujud tanpa jerih payah kita. Mengerti sekarang kau, Jo? Bangga tidak kau, Jo?” kata Mang Atang, marah dia dalam katanya.

“Aku mengerti, Mang! Aku bangga, Mang!” jawabku. Terharu.

Tak kusangkakan betapa besar jasa para kuli bagi negara ini, benar kata Mang Atang, kalau tak ada kuli, tak akan ada gedung, jalan, jembatan dan masih banyak lagi. Kami, para kuli, kuli semacam kamilah yang membangun negara ini. Mereka, yang kuliah-kuliah itu, yang dulunya kuliah-kuliah itu. Ada yang jadi koruptor, ada yang jadi penipu rakyat, dan jadi teroris… menghancurkan gedung yang kami bangun. Apa beradab itu? Membangun tidak, malah merobohkan. Kami tak perlu kuliah pun bisa membangun negara ini jadi megah.

 

Editor: Rachmawati
Ilustrasi: Internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.