Realita Ketidakadilan yang Mengintai Perempuan

Realita Ketidakadilan yang Mengintai Perempuan

Penulis: Tika Ayu

Judul           : Arapaima
Penulis        : Ruhaeini Intan
Penerbit      : BUKU MOJOK
Tebal          : vi+94 Halaman
ISBN          : 978 602 1318 88 1

Gagasanonline.com- Buku ini merupakan karya perdana dari Ruhaeni Intan dengan narasi yang ringan sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Ruhaeni intan dalam novela ini menggambarkan dengan gamblang kehidupan tokoh utama  ”Aku” dan tokoh perempuan Tritagonis lainnya sebagai wujud dedikasi Ruhaeni menulis sebuah realitas dan ancaman-ancaman yang mengintai kehidupan perempuan.

“Sesungguhnya semua orang itu menyebalkan. Mereka cuma belajar bersikap baik karena tidak akan pernah mampu hidup sendirian.” Kutipan tokoh aku mengamini  keadaan manusia dewasa ini.  Novela ini menceritakan tokoh “Aku” yang bekerja di Toko Ikan, yang bekerja di sana hanya karena tertarik dengan seekor Ikan Arapaima yang dilihatnya di belakang toko, dari pertemuan itu “Aku” bertemu dengan Leni yang tak lain adalah seorang pegawai lama di toko tersebut.

Dari hubungan perteman tersebut, Leni mulai banyak bercerita  termasuk konflik yang mendera  kehidupan rumah tangganya kepada “Aku”. Leni dalam cerita tak menyangka betapa mengerikannya suaminya ketika wanita yang jauh lebih muda dari Leni yang lebih pantas disebutnya “adik” diperkosa hingga hamil dan kini kedua orang tua gadis itu memohon izin Leni supaya suaminya menikah dengan gadis tersebut.

Saat itu Leni menjelaskan berapa hatinya hancur berkeping-keping, dan terus menyalahkan dirinya atas kemandulannya yang sebenarnya bukan kesalahannya,  dan sehingga suaminya berlaku bejat seperti yang ia saksikan, hingga momen percakapan tersebut Leni terus meratap keadaannya kini, dan tokoh “Aku” seksama mendengarnya dan membatin “kau tidak salah, Leni.  Kau sama sekali tidak bersalah”.

Dalam menjalani kehidupannya, tokoh “Aku”  selalu disajikan cerita – cerita tragis sebuah hubungan rumah tangga,  kali ini cerita dari salah seorang tetangga, dalam satu rumah susun  yang bersebelahan dengan rumah “Aku” tinggal. Tetangga yang diceritakan dalam novela ini bernama Rahma,  memiliki satu putri dan seorang suami.

Tiap kali bertemu dengan “Aku”,  Rahma hanya akan mengoceh semalam suntuk tentang suaminya yang bermasalah walaupun sebenarnya “Aku” tidak terlalu suka dengan setiap obrolan Rahma,  karena menurutnya itu sangat melelahkan,  namun di balik semua cerita Rahma, diam-diam “Aku” menikmati kesengsaraanya. Sesaat obrolan itu,  “Aku” mengirimkan pesan kepada seseorang yang dikenal baik oleh “Aku” dan Rahma.

Tak lama setelah itu,  “Aku” melakukan persekongkolan dengan Leni dan seorang laki-laki untuk mencuri lalu memindahkan Arapaima itu ke sebuah kolam yang sudah lama tak pernah dijamah  manusia,  menurutnya Arapaima itu akan mendatangkan keuntungan baginya,  karena akan banyak orang yang penasaran, berakhir hari itu dan setiap orang kembali ke rumah  dengan segala rahasia masing-masing.

Namun itu tidak berlaku lama, pasca dipindahkan ikan moster itu seorang bocah yang tengah asik melihat-lihat ikan tersebut terjerebab ke dalam kolam itu,  sehingga menimbulkan kepanikan. “Aku”  yang  menyaksikan kejadian itu syok dan bingung,  seluruh orang berkerumun mengutuk Ikan Arapaima yang diyakini mereka seekor Ikan Siluman.

Klimaks masalah sekian menukik pada tahap ini,  perbuatan  “Aku” mulai terkuak satu per-satu,  karena masalah Ikan Arapaima yang diketahui ia curi dari toko. Kemudian hari seorang pemilik toko mulai mengintrogasi  “Aku” namun ia berhasil lolos dari kecurigaan Pemilik Toko Ikan tersebut.

Tak berhenti disitu,  Pemilik toko malah melecehkan “Aku”. Tangannya mulai merayap naik, menggerayanginya, semua tubuhnya ” Aku” dirayapi tangan setan,  dan ia gemetar dan kaku sembari meyakinkan dirinya untuk segera melompat dari tempat duduk. Tangan “AKu” menggapai sebuah akuarium kecil dan langsung menghantamkan banda tersebut ke kepala pemilik toko karena pelecehan tersebut.

Leni menanyakan apa yang telah terjadi dan meminta penjelasan, namun ketika dijelaskan ia terus menolak jawaban yang disampaikan oleh “Aku”. Leni menganggap “Aku” melakukan tersebut karena merasa terdesak bahwa benar ia mencuri ikan langka tersebut.

“Aku” telah menjalani hari yang melelahkan, sampai di rumah yang ia temui keributan,  ia mendapati barang-barang Rahma beserakan di luar rumah,  hubungan “Aku” dan Kak Pri mencuat dan membuat orang-orang melihat jijik padanya, Kak Pri terlihat menggunakan sehelai kaos dan celana kolor diam tak berdaya perselingkuhan mereka diketahui Rahma.

Pada akhir novela ini,  penulis menjajakan sebuah perumpaan klise tapi tidak terjebak pada narasi yang membosankan, di sini  seorang tokoh “Aku” diumpamakan menjadi seekor Arapaima yang tenang, dan merasa akan lebih baik menjadi Arapaima, namun khayal itu buyar saat sadar tidak ada bedanya menjadi ikan Arapaima atau Manusia, karena keduanya menyedihkan dihadapan yang mengendalikan semuanya.

Editor: Wulan Rahma Fanni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.