Menikmati Wisata Alam Danau Berwarna di Kawah Putih

Menikmati Wisata Alam Danau Berwarna di Kawah Putih

Penulis: Wiwin Winarti

Gagasanonline.com – Wisata Alam Kawah Putih adalah salah satu tempat wisata terkenal di Bandung Selatan yang dibuka untuk umum tahun 1970, berlokasi di Kawasan Wisata Alam Ciwidey Patengan Km 11 Leubak muncang Ciwidey, Sugih mukti, Pasir jambu, Bandung, Jawa Barat, Indonesia, sekitar dua jam dari pusat kota Bandung.

Wisata Alam Kawah Putih sendiri merupakan danau yang terbentuk dari kawah hasil letusan gunung Patuha, terletak di kawasan pegunungan, pesona alamnya yang indah mampu membius mata pengunjung dengan permukaan danaunya yang kehijauan. Tak hanya itu, keindahan Wisata Alam Kawah Putih juga dilengkapi dengan semburan lava yang menyebarkan bau belerang dari tengah danau.

Minggu, pertengahan Juli 2019 di pagi yang cerah sekitar pukul 08.00 kami mengunjungi tempat wisata yang menjadi ikon wisata kawasan wisata Ciwidey itu. Sebelum berangkat, kami sarapan terlebih dulu untuk mengisi perut sebelum menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Sembari menyantap makanan, kepala rombongan memastikan perlengkapan yang akan dibawa selama perjalanan.

Kumaha, sadayana tos disiapkeun? Teras sagala kaayaan sehat lereusnyaa? (Bagaimana, segalanya udah disiapkan? Terus semuanya dalam kondisi yang sehatkan?)” kata kepala rombongan

Selesai menyantap sarapan dan memastikan semua barang bawaan telah siap, sekitar pukul 09:00 kami bergegas berangkat menuju Wisata Alam Kawah Putih dengan tiga kendaraan bermotor. Selama di perjalanan banyak hal yang kami lihat dan rasakan, pemandangan alamnya yang masih sangat hijau dan asri, udara yang segar dan sejuk menerpa lembut wajah kami. Kondisi jalanan di bandung yang naik turun, serta berlika-liku membuat keasyikan tersendiri selama perjalanan menuju Wisata Alam Kawah Putih.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan ketika perjalanan kami baru setengah jalan, tiba-tiba ketua rombongan mendadak menepi dan berhenti. Rupanya 30 meter di depan kami sedang ada razia dadakan di daerah Banjaran, Bandung. “Kumaha atuh kalakah aya razia, jeung urang teu boga SIM deuih (Bagaimana ini, malah ada razia, mana aku tak punya SIM),” ucap salah seorang dari kami dengan cemas.

Setengah jam berlalu dan kami masih menunggu dengan putus asa sembari berteduh di salah satu pondok di tepi jalan, namun petugas razia tak kunjung pergi. “Teh, kumaha mun nyobian jalan satapak nu di asupan jalmi tu, sugan manggihan jalan nu sanes (Kak, bagaimana kalau kita coba masuk ke gang yang dilewati orang itu, siapa tahu menemukan jalan lain),” kata ucap salah seorang dari kami sembari mengamati kendaraan yang putar balik memasuki sebuah gang.

Karena kami tidak punya pilihan lain selain mencoba, akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri gang tersebut dan mengikuti pengendara lainnya yang melintas searah di gang itu, kami lega lantaran gang tersebut rupanya tembus ke jalan raya. Kejadian tersebut memang tidak patut untuk dicontoh, namun kami terpaksa memotong jalan demi tidak terkena razia.

Hari sudah siang ketika kami akhirnya sampai di tempat tujuan dan segera memasuki gerbang kawasan Wisata Alam Kawah Putih dengan membayar tiket masuk seharga Rp.25.000/orang untuk warga lokal dan tiket masuk turis asing sebesar Rp.65.000/orang. Tempat parkir di kawasan Wisata Alam Kawah Putih terdapat dua lokasi, lokasi pertama parkir bawah sekitaran gerbang masuk, untuk kendaraan roda dua seperti motor dengan tarif Rp.5.000/motor, roda empat seperti mobil pribadi dan angkot dengan tarif Rp.10.000/mobil dan bus pariwisata dengan tarif parkir Rp.25.000/bus. Untuk lokasi kedua ada parkir atas yang letaknya dekat danau Wisata Alam Kawah Putih namun tidak semua bisa masuk ke parkir atas hanya kendaraan beroda empat seperti mobil pribadi yang diperbolehkan masuk dengan tarif Rp.150.000/mobil.

Untuk menuju lokasi danau Wisata Alam Kawah Putih, pengelola sudah sediakan transportasi sendiri, namanya Ontang-Anting, dimana setiap pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp.15.000/orang (pulang-pergi). Kendaraan ini akan mengantar setiap pengunjung dari pintu gerbang (yang memarkir kendaraannya di tempat parkir bawah) ke lokasi kawah. Istilah Ontang Anting diambil dari Bahasa Sunda yang artinya bolak balik.

Beruntung Ontang-Anting yang kami tumpangi dikemudikan oleh salah satu pekerja paling lama di Wisata Alam Kawah Putih. Namanya Mang Entis, beliau adalah supir Ontang-Anting sejak tahun 1972. Selama perjalanan Mang Enthis banyak bercerita tentang Wisata Alam Kawah Putih ini beserta sejarahnya.”Neng, tipayun mah wisata alam kawah putih teh teu sarame ayeuna, rame na teh ti taun 1977 sareung jalan na ge teu acan sa sae ayeuna (Dek, dulu tempat ini belum seramai sekarang, ramainya itu dari tahun 1977 dan jalannya pun belum sebagus ini),” tutur Mang Entis.

Berdasarkan cerita dari Mang Entis, nama Kawah Putih ini pada awalnya adalah Kawah Gunung Patuha. Namun, nama tersebut diganti lantaran kalah populer dengan tempat wisata alam lainnya. Banyak wisatawan yang lebih mengenal  Kawah Gunung Patuha dengan nama Wisata Alam Kawah Putih Bandung karena memang tanah dan airnya yang berwarna putih.

Gunung Patuha sendiri diyakini warga sekitar sebagai salah satu gunung tertua di Bandung dibanding dengan Gunung Malabar, Gunung Burangrang, Gunung Puntang dan gunung-gunung lainnya. “Neng, saleresna mah Gunung Patuha teh diangap masyarakat dieu gunung nu pang kolotna di daerah Bandung (Dek sebenarnya Gunung Patuha ini dianggap oleh masyarakat sekitar Ciwidey sebagai gunung tertua),” kata Mang entis dengan bahasa sundanya yang kental.

Nama Patuha konon berasal dari kata Pak Tua (Sepuh), sehingga masyarakat setempat juga sering menyebutnya Gunung Sepuh.  Tempat ini berkaitan erat dengan sejarah Gunung Tangkuban Perahu di Bandung Barat, serta Gunung Batu Lembang, Gunung Sanghyang Tikoro dan Gunung Sanghyang Heuleut. Selain Wisata Alam Kawah Putih ada satu kawah lagi yaitu Kawah Rengganis. Dulunya Wisata Alam Kawah Putih ini dikelola oleh masyarakat sekitar, namun sejak tahun 1987 pengelolaan Wisata Alam Kawah Putih dilakukan oleh Perhutani Jawa Barat.

Sekitar 15 menit perjalanan dari gerbang Wisata Alam Kawah Putih, kami pun sampai di tempat tujuan. Sebelum kami memasuki kawasan danau kawah putih, aroma belerang yang menguap sudah tercium dari kejauhan, bau belerang yang cukup menyengat memiliki efek samping seperti pusing, mual, muntah dan bahkan bisa menyebabkan pingsan, jika di hirup terlalu lama, karena itu kami disarankan untuk menggunakan masker.

Kami sempat tertegun penuh haru dan syukur saat melihat pemandangan alam di tempat ini yang amat indah dan masih alami dengan tepian danaunya yang dikelilingi hutan dan pegunungan di sekitarnya.

Waaaah, edan euy gelooo asli ni alus ieu mah, mun tadi teu jadi kadieu aing mah kaduhung (Waaaah, gila asli cantik kali ini mah, kalau tadi tak jadi kesini kayaknya aku bakal sanagt menyesl),” teriaknya teriak salah seorang anggota rombongan.

Yang menarik dan unik dari Tempat Wisata Alam Kawah Putih ini adalah warna air danaunya yang selalu berubah. Meski tampak berwarna putih kehijauan, namun warnanya akan selalu berubah menyesuaikan dengan kadar belerang yang ada air danaunya, serta cuaca dan suhu. Pegunungan kawasan Wisata Alam Kawah Putih ini berada di ketinggian sekitar 2.400 mdpl, membuat suhu di kawasan ini sangat sejuk di siang hari dan menjadi sangat dingin di malam hari. Di siang hari suhu rata-tata 20-22 derajat celcius, sementara di waktu malam hari bisa mencapai delapan derajat celcius.

Di Tempat Wisata Alam Kawah Putih terdapat beberapa fasilitas seperti objek foto, jembatan gantung, jasa foto, tenda istirahat, selain itu jajanan atau oleh-oleh untuk dibawa pulang juga ada tentunya. Perjalanan yang tadinya melelahkan telah terbayarkan dengan sambutan dari Tempat Wisata Alam Kawah Putih ini yang benar mengagumkan, bagi kami perjalanan kali ini amat berkesan dan akan selalu diingat dalam setiap halnya. “Bagi kalian yang datang ke bandung, kalian wajib berkunjung ke tempat ini, percaya deh gak akan menyesal,” kata Dini, salah satu seorang pengunjung.

Editor: Hendrik Khoirul Muhid
Foto: Gagasan/Wiwin W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.