Sebuah Pembelajaran yang Pahit

Sebuah Pembelajaran yang Pahit

Penulis: Hendrik Khoirul Muhid

Gagasanonline.com– Meski di sisi lain aku adalah seorang korban, tetapi dalam kasus ini aku ditetapkan sebagai pelaku. Aku tidak akan pernah memungkiri bahwa aku memang membunuh ayahku. Dan aku tidak menduga bisa melakukan itu. Kutikam ia beberapa kali di perutnya dengan sebilah pisau dapur, kutikam ayah secara sadar. Sepenuhnya sadar.

Aku bukan psikopat dan saat itu adalah pertama kalinya aku membunuh orang. Ayahku sendiri. Aku sangat ketakutan melihat darah menyembur dari perut ayah, banyak sekali, menggelimang di seprai, membasahi baju ayah, juga bajuku. Ayah membeliak menatapku, tatapan itu sampai kini terus membayangiku. Terus dan terus. Ayah mati setelah kutikam sekali lagi tepat di jantungnya. Entah mengapa aku melakukan itu.

Ayah adalah ayah yang baik bagiku sampai sebelum kejadian malam itu terjadi. 17 tahun lamanya aku dinafkahi, aku tumbuh besar berkat suapan rezeki hasil usaha keras ayah. Namun sebulan selepas sepeninggal ibu, ayah jadi lain. Ayah seperti bukan ayah. Ayah tidak menganggap dirinya ayahku lagi. Dengan gamblang ia menyatakan cinta padaku, bukan cinta seorang ayah pada anak. Cinta seorang lelaki pada perempuan. Dan itu menjijikkan.

Aku menyayangi dan mencintai ayah sewajarnya, tidak lebih, apalagi sangat. Cinta seorang anak pada ayahnya yang tak seberapa. Tapi, ayah benar-benar gila, sangat gila dan membuatku tak habis pikir. Kalau semisal ia birahi melihatku dan tidak ada pelampiasan, bodoh sekali ayah, ada berapa banyak wanita di dunia ini yang tak mau dengannya? Dia masih boleh dibilang muda, duda beranak satu yang kaya, mustahil tidak ada yang tertarik dengannya.

Selama sebulan itu tingkahnya padaku kian menjadi, ia selalu berusaha menunjukkan rasa sayangnya melebihi yang sepatutnya. Siapa yang tak risi diperlukan ayahnya seperti seseorang yang seolah memperlakukan kekasihnya? Siapa yang tak terkejut ketika berdandan ayahnya mendatanginya dan mencium tengkuknya? Siapa yang tak jengah pada seorang ayah yang selalu berusaha menyentuh area terlarang anaknya? Rasa sayang ayah yang tidak wajar itu perlahan menumbuhkan rasa benciku padanya, sebagai pribadi yang tertutup aku tidak pernah bisa menolak perlakuan ayah. Tapi jiwaku bergejolak, ini tidak benar.

Tiga hari sebelum insiden, ayah menciumku, ayah memang biasa menciumku, tapi kali ini tidak di pipi seperti biasanya. Ayah mencumbuku dengan beringas dan penuh nafsu, aku terkejut dan sangat takut dibuatnya. Ayah sudah sangat keterlaluan, bagaimana bisa ia melakukan itu pada anaknya sendiri. Darah dagingnya sendiri. Ingin aku mengadukan perlakuan ayah kepada seseorang, tapi aku tak memiliki siapa pun yang bisa jadi teman buat beradu.

Waktu-waktu yang berlalu kulalui dengan ketakutan dan kekhawatiran yang menjadi, aku takut ayah berlaku lebih dan tak terkendali. Dalam hati aku menjerit, aku anaknya!

Entah iblis apa yang membujukku, kusiapkan sebilah pisau tajam di kamarku, aku tidak tahu untuk apa aku melakukan itu, yang ada di benakku hanya kalau-kalau ayah bakal macam-macam lagi padaku, aku akan mengancamnya dengan pisau itu. Kusimpan pisau itu di laci meja nakasku.

Dan malam itu, malam sebelum pembunuhan itu, ayah memasuki kamarku saat aku tengah duduk di kursi meja belajar, dipeluknya aku dari belakang sembari ia mencium tengkukku. Karuan aku terkejut. Mesti tahu itu ayah, tetap saja aku bakal terkejut dan tetap tidak terbiasa.

“Ih, Ayah!” protesku sambil menggeliat menghindar.
“Kamu lagi apa sayang?”
“Ayah jangan ganggu, aku lagi belajar, nih!”
“Oh, jadi ayah ganggu ni?”
“Ayah, apa sih!” jeritku saat ayah menyentuh area sensitifku.
“Hehe… Kamu seksi loh!” bisik ayah di telingaku.

Aku bangkit berdiri, menghadap ayah. Kutantang matanya yang seperti bukan mata ayah yang biasanya, ayah balas menatapku dengan tatapan yang aku tak mengerti.

“Ayah, kenapa sih jadi kayak gini sama aku?” protesku.
“Kayak gini, gimana sayang?”
“Aku ini anak ayah!”
“Juga kekasih ayah…”
“Ayah!”

Saking jengahnya pada ayah, kuputuskan untuk keluar rumah barang sejenak, menyebalkan sekali rasanya berada di ruangan yang sama dengannya, pun juga sebenarnya aku merasa tidak enak dengan tatapan ayah. Kuambil tas kecil dan jaket hangatku. Sementara ayah memperhatikanku dengan saksama.

“Aku mau pergi keluar sebentar.”
“Ayah tidak mengizinkan!”
“Aku tidak peduli!” ketusku.

Cepat-cepat aku menuju pintu kamarku, tapi aku kalah cepat dengan ayah. Dikuncinya pintu kamarku dan dikantonginya kuncinya.

“Ayah!” protesku.
“Ayah bilang, ayah tidak mengizinkan, malam ini kamu harus menemani ayah…”
“Maksud Ayah?”

Secara tiba-tiba saja ayah mencekal kedua pelipisku, menciumku dengan paksa, aku terkejut dan refleks berontak. Kudorong dada ayah sekuat tenaga sembari berteriak, “Ayah bangsat! Aku anakmu, Yah!”

Plak! Plak! Dua tamparan keras mendarat di pipi kiri-kananku. Tubuhku sampai oleng saking kerasnya tamparan itu. Pedih dan panas terbakar rasanya kulit pipiku. Belum sempat aku merabai pipiku yang sakit, ayah mengangkat tubuhku dengan paksa dan dilemparnya aku ke tempat tidur. Malam itu terjadilah apa yang terjadi, aku dinodai oleh ayahku sendiri, aku tak kuasa melawan ayah. Berontak pun aku tak sanggup. Hatiku sakit sekali, sangat sakit.

“Maafkan ayah…” sesal Ayah yang terkulai di sampingku.

Aku hanya bisa menangis.

Kemudian entah mendapat pikiran dari mana, kutarik laci meja nakas di dekat tanganku, kugapai di dalamnya, bagian tajam pisau yang kusimpan di sana melukai ujung jariku. Kuraih pisau itu dan tanpa menduga apa yang bakal terjadi, kutikam perut ayah berkali-kali, dan terakhir di jantungnya.

***
Sebentar lagi aku bakal disidang setelah enam bulan mendekam di tahanan, aku tidak bakal peduli berapa tahun aku akan dipenjara, selamanya pun aku tak peduli. Bersama anak ayah di dalam perutku, kutanggung semua beban aib dan derita ini. Dan sebelum aku benar-benar terkekang dari kebebasan, kutuliskan kisahku ini buat pembelajaran yang begitu pahit.

Sumber Foto: SHTTEFAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.