Masyarakat Rokan Hilir pun Turut Lestarikan Budaya Lampu Colok

Masyarakat Rokan Hilir pun Turut Lestarikan Budaya Lampu Colok

Penulis: Hasnah Usman**

gagasanonline.com – Festival lampu colok memang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat muslim terutama di Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau. Beragam kreasi lampu colok yang dibuat dalam rangka menyambut 27 puasa Ramadan atau disebut juga dengan ‘tujuliko’ hingga malam takbiran berlangsung.

Lampu colok merupakan salah satu alat penerangan yang dipakai pada saat listrik belum ada di masyarakat. Lampu ini menggunakan bahan bakar minyak yang dibuat sedemikian rupa. Sedangkan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat membuat beberapa menara tinggi sebagai kerangka untuk menyusun lampu-lampu tersebut menyerupai suatu bangunan. Pemasangan lampu colok ini biasanya dimulai pada 27 hari pada bulan Ramadan.

Usy, masyarakat Tanah Putih mengatakan bahwa penyambutan 27 Ramadan dengan lampu colok ini merupakan tradisi yang memang sudah ada sejak zaman nenek moyangnya dahulu dan terus berlanjut hingga sekarang. Lampu colok yang dibuat oleh masyarakat akan terus diselenggarakan hingga malam takbiran.

Baca juga: Tradisi Lampu Colok di Negeri Junjungan Kabupaten Bengkalis

Bagi anak muda sepertinya, lampu colok adalah bentuk kreativitas warga menjelang lebaran yang perlu dijaga tradisinya sampai kapanpun.

Novita yang juga  masyarakat Rohil mengatakan  acara tersebut memang dilakukan setiap tahunnya dalam rangka menyambut 27 Ramadan di daerahnya. Ia juga ikut berpartisi dalam memeriahkan acara tersebut seperti memberikan sedikit dana untuk menyukseskan acara tersebut.

Dalam festival lampu colok tersebut tidak sedikit yang mengabadikannya dengan menggunakan gawai dengan berfoto selfi sebagai dokumentasi pribadi atau foto informatif di media sosial.

Festival lampu colok ini dapat menjadi suatu kearifan lokal yang memiliki ciri khas tersendiri yang dapat memikat warga masyarakat Rohil yang berada di perantauan supaya menimbulkan kerinduan pada kampung halamannya. Kegiatan ini pun bertujuan sebagai penumbuh semangat persaudaraan, kekompakan, kepedulian serta gotong royong di kalangan masyarakat setempat dan bagi masyarakat Rohil.

Pembuatan lampu colok meliputi beberapa tahap dikutip dari Rappler.com sebagai berikut:

Pertama, pembuat akan mencari referensi mesjid yang akan ditiru, semakin rumit gambaran miniatur akan dianggap makin bergengsi.

Kedua, pembuat akan membuat kerangka dari bahan kayu yang diambil dari hutan.
Kerangka miniatur raksasa ini kemudian didirikan di lokasi lampu colok. Umumnya lokasinya berada di pinggir jalan agar mudah dilihat orang-orang yang lewat.

Ketiga, pembuat akan memasang lampu-lampu colok. Umumnya, lampu ini terbuat dari kaleng bekas minuman ringan. Isinya minyak tanah dengan sumbu kain. Bekas kaleng ini jumlahnya hingga ribuan.

Keempat, menyalakan lampu-lampu colok tersebut dan biasanya dijaga oleh anak-anak setempat supaya lampu tersebut tidak mati.
Masing-masing daerah memiliki keunikan tersendiri dalam pembuatan lampu colok. Seperti misalnya di daerah Bengkalis, Dumai, dan begitu pula dengan daerah yang lain, yang mana tujuannya sama-sama untuk memperingati 27 Ramadan.

Foto:  Tasya
Editor: Adrial Ridwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.