Susuk

Susuk

Penulis: Delfi Ana Harahap

“Aku iri pada perempuan itu,” kata Erna.

“Kenapa?” jawabku.

“Dia cantik dan pacaran dengan Adi.”

“Tapi kau juga cantik.”

“Dia lebih cantik.”

Namanya Erna, menurutku dia cantik dengan kulit putih bersihnya, badannya juga proporsional. Tapi ya begitulah, hanya kurang bersyukur saja. Beberapa minggu ini dia terus saja menceritakan Tia yang berpacaran dengan Adi. Aku tahu dia suka Adi dan iri pada Tia. Hari itu kudengar Erna menelepon teman lamanya, ada kata susuk disela-sela pembicaraan mereka. Tapi aku malas bertanya. Dua minggu berselang Erna menceritakan perihal susuk, ternyata pendengaranku waktu itu memang tidak salah. “Aku ingin menggunakan susuk,” katanya.

“Kau bisa ke salon, pintarlah sedikit.”

“Karena aku pintar, makanya aku ingin ke orang ‘pintar’.”

“Aku tidak mau mengantarkanmu.”

“Tapi temanku hanya kau.”

Seminggu lamanya perempuan gila itu terus saja membujukku dan  merengek agar aku menemaninya. Aku sudah menasehati dan mengkhotbahnya dengan berbagai resiko dan dosa yang akan dia dapat. Tapi nyatanya perempuan itu memang bodoh, teguh dengan pendirian
bodohnya dan aku juga menjadi bodoh karena luluh dan bersedia mengantarkannya. Sabtu siang Erna menelepon ‘orang pintar’ itu, menanyakan alamat dan apa-apa saja yang harus kami bawa nantinya.

“Minggu pagi kita berangkat, perjalanan sekitar 5 jam,” kata Erna.

“Tapi senin kita ada mata kuliah.”

“Tidak usah masuk. Sekarang kita ke pasar membeli sesuatu.”

Sore itu aku dan Erna mengelilingi pasar membeli sekilo beras ketan hitam, daun kemangi, jeruk nipis, dan sepelastik bunga warna-warni. Perempuan ini memang tidak punya rasa takut sama sekali, aku saja mulai ngeri saat membeli semua benda-benda itu.

****

Cuaca sangat buruk pagi itu, awan sangat gelap disertai gerimis pertanda akan turun hujan, untungnya kami membawa mantel hujan. Jalanan sedikit licin, aku menyuruh Erna untuk hati-hati mengendarai motor. Tak sampai setengah jam, hujan yang sangat deras mengguyur jalanan, kami meneduh di sebuah warung kopi bersama peneduh lainnya. Ah, sepertinya kepergian kami memang tidak direstui Tuhan dan alam pikirku saat itu.

Selang satu jam kami melanjutkan perjalanan. Kemudian kami memasuki jalanan yang di samping kanan kirinya dipenuhi pohon-pohon besar dan disertai suara monyet sahut-sahutan. Aku merinding melewati hutan itu.

“Masih lama Na?,” tanyaku.

“Sekitar dua jam lagi.”

“Kau masih kuat bawa motor? Mau aku gantikan?”

“Masih, kau cukup duduk dengan tenang saja.”

Dua jam berselang kami kembali memasuki jalanan dengan hutan belantara, memasuki kampung dan bertanya pada beberapa warga. Katanya rumah ‘orang pintar’ itu ada di pinggiran hutan pinus. Kami pun menuju tempat yang dimaksudkan itu. Suasana jalanan menuju rumah itu sangat mencekam dan sepi. Jalan tanah yang hanya bisa dilewati dua motor saja, suara monyet bersahut-sahutan juga kembali terdengar. Aku berdoa semoga kami baik-baik saja.

Sampailah kami di sebuah rumah kayu yang sedikit kumuh, anjing coklat yang diikat di sebatang pohon rambe menggonggoni kami. Hingga seorang pria yang umurnya sekitaran 45 tahun keluar, wajahnya agak  menyeramkan. Dia menggunakan baju kaos lengan pendek warna abu-abu dan sarung. Lalu mempersilahkan kami masuk.

“Tunggu ya dik, bapak buat minum dulu,” katanya.

Dia meninggalkan kami di ruang tamu rumahnya yang tanpa kursi, hanya beralaskan tikar rotan. Mataku berkeliling memperhatikan setiap sudut rumah itu, dindingnya banyak digantungi sabit, keris, tengkorak rusa, juga topeng dengan wajah seram. Jantungku terpompa sangat kenjang, tanganku dingin, badanku merinding. Aku sangat ketakutan.

“Na, kau yakin? Aku sangat takut, lebih baik kita pulang sekarang,” kataku berbisik padanya.

“Semua akan baik-baik saja, percaya padaku,” ucapnya dengan tenang, rasa dengkinya lebih besar dari rasa takutnya.

Tiba-tiba laki-laki itu kembali kehadapan kami, membuat tenggorokanku tercekat dan berhenti mengajak Erna berbicara. Dia membawa dua teh panas yang warna tehnya sangat pekat, dan meletakkannya di hadapan kami berdua.

“Minum dulu dik,” katanya.

Kami membalas dengan senyum. Aku pura-pura menempelkan bibirku pada gelas itu, dan tidak kuminum setetes pun. Kulihat Erna sudah meneguk  teh itu setengah gelas. Dasar bodoh, umpatku dalam hati.

“Jadi masalah apa yang membawa adik kesini?” tanya laki-laki itu.

Erna menjelaskan segalanya dan maksud kedatangannya, setelah sebelumnya kami memperkenalkan diri. Aku tidak menyebutkan nama asliku, membuat Erna memelototiku ketika itu, tapi aku tidak perduli. Erna mulai menyerahkan benda-benda yang kami beli Sabtu kemarin. Laki-laki itu pergi sejenak, kemudian kembali lagi sambil membawa baskom merah yang cukup besar, di dalamnya sudah diisi dengan air. Dia juga membawa kain batik dan kemenyan yang sudah dibakar dalam asbak tanah liat. Dia memasukkan semua benda yang Erna serahkan kedalam baskom, setelah sebelumnya jeruk nipis dipotong kecil-kecil.

“Adik buka pakaiannya, pakai kain saja,” kata laki-laki itu pada Erna, aku kaget dan mulai berfirasat buruk.

“Loh kenapa gitu pak?” tanyaku.

“Iya soalnya mau disiram air kembang.”

Erna menyetujui permintaan laki-laki itu, dia berganti pakaian dengan kain batik disalah satu kamar belakang dan kembali ke hadapan kami. Erna menyerahkan bajunya kepadaku. Kami berdua digiring kehalaman rumah itu. Erna didudukkan di bangku kecil, dan disirami air kembang. Aku berdiri memperhatikan dengan perasaan was-was. Setelah selesai kami kembali duduk di ruang tamu, pria itu ke belakang dan kembali membawa minuman seperti jamu dan menyuruh Erna meminumnya, kemudian Erna meminumnya.

“Temennya tunggu di sini dulu ya, bapak mau ritual di kamar belakang.”

“Lah emang aku tidak boleh lihat pak?” tanyaku dengan agak kesal.

“Pantangannya begitu dik, harus berdua saja.”

“Kau tunggu saja di sini,” kata Erna menyakinkanku.

Mereka pergi ke kamar belakang, kudengar kamar itu ditutup dan dikunci, 20 menit tidak ada suara. Aku curiga, kuberanikan menuju kamar itu dengan berjinjit, untungnya rumah kumuh ini terbuat dari kayu yang sudah mulai rapuh. Aku mengintip dari celah dinding yang sudah rapuh, Erna tidak bergerak dan laki-laki itu mengelus-elus muka dan kaki Erna. Jantungku kembali terpompa dengan dasyatnya, kenapa Erna diam saja? Apa dia pingsan, tapi apa sebabnya dia pingsan. Minuman tadikah?. Bertubi-tubi pertanyaan menyelimuti kepalaku, jika aku menjerit dan menolongnya, laki-laki itu pasti menang dan membunuh kami. Rumah ini terpencil, tidak ada warga di sini. Aku kembali ke ruang tamu, mengambil kunci motor dan mendorong motor hingga jarak cukup jauh dengan rumah itu, untungnya anjing cokelat itu tidak melolong. Kuhidupkan motor dan meng-gasnya dengan kecepatan yang kumampu, aku menangis di jalan. Aku menuju perkampungan, untuk meminta bantuan.

“Semoga Tuhan menjagamu Erna, semoga laki-laki binatang itu tidak memperkosamu,” ucapku dalam hati, aku terus berdoa.

20 menit kemudian aku sampai di perkampungan, aku mendatangi warung kopi dengan banyak bapak-bapak sedang bermain gaplek. Aku menceritakan semuanya sambil menangis, dengan wajah tegang mereka langsung bergegas menaiki motor masing-masing. Kami semua langsung menuju rumah kumuh itu, aku dibonceng salah satu bapak-bapak berbadan besar. Anjing cokelat menggong-gong dengan kerasnya, semua bapak-bapak tadi berlari memasuki rumah itu, dan mendobrak kamar.

Terlihat pria bianatang itu telanjang dan bergegas mengenakan sarungnya, sedangkan Erna juga setengah telanjang. Kudapati dia sudah sadar. Dia menangis dan memelukku sangat kuat, aku juga menangis. Bapak-bapak tadi membawa dukun sialan itu keluar rumah dan memukulinya tapi tidak sampai mati. Kemudian mereka mengikat laki-laki itu dengan tali.

“Ada darah disarungmu,” kataku pada Erna.

“Dia memperkosaku, ya Tuhan lebih baik aku mati saja.”

Pukul 06.00 sore hari kami semua mendatangi kepala desa mencari solusi, setelah rumah dukun itu dibakar habis. Seminggu kemudian dukun itu sudah berada di penjara, karena orang tua Erna membawanya ke jalur hukum. Berita menyebar kemana-mana. Telah sebulan dia tidak kuliah, aku mengunjungi rumahnya. Dia menjadi mengerikan, depresi parah. Minggu depan orang tuanya akan membawanya ke Surabaya untuk terapi psikis di sana.

Banyak sekali dukun cabul di negara ini, tapi kalah banyak dengan orang yang kurang bersyukur. Semoga saja tidak ada Erna-Erna berikutnya.


Editor: Syahidah Azizah Sipayung
Ilustrator: Delfi Ana Harahap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.