Disiplin Waktu di Perguruan Tinggi

Disiplin Waktu di Perguruan Tinggi

Penulis: Hendrik Khoirul

Gagasanonline.com – Inilah realitas tindas tanpa batas di hampir semua universitas di Indonesia. Pengajar selalu benar dan yang salah adalah mahasiswa. Boleh minta mahasiswa untuk menandatangani petisi kesepakatan pendapat terkait pernyataan ini, maka saya yakin, kain selebar 100 x 100 meter persegi akan penuh dengan tanda tangan mereka. Mungkin coretan tinta yang saling tumpuk-menumpuk sampai seperti disapu cat saking tebalnya. Walau cuma spekulasi, barangkali sesekali perlu dicoba, hanya untuk membuktikan pernyataan saya ini bukan hasil pemikiran dari mahasiswa sok kritis nan idealis.

Sudah lama sebenarnya saya ingin menyatakan sikap protes lewat opini, tapi sebagai mahasiswa yang masih terbilang bau amis, saya menahan diri. Pamor mahasiswa di era sekarang ini mungkin tak segemilang era tahun 1990-an. Kalau mahasiswa di era rezim Orba enggan menyuarakan pendapat karena takut raib diculik, ketakutan saya menjadi mahasiswa di zaman milenium ini adalah tidak lain karena nilai. Ya, orientasi kita pada nilai memang luar biasa, sebab di masa sekarang dan mendatang, angka-angka itu yang bakal jadi penentu seberapa berkualitasnya kita. Walaupun itu semua itu hanya sampul semata.

Persetan dengan nilai, tiga semester lewat saya menyembah-nyembah setiap mata kuliah demi sebuah nilai. Semester ganjil pertama nilai saya di luar ekspektasi, maklum mungkin saya yang bodoh atau memang baru adaptasi. Semester berikutnya, kenyataan yang sama saya alami, nilai saya tak juga meningkat. Mirisnya teman sekelas saya yang terbilang pendiam, tidak pernah memberikan kontribusi kecuali kehadiran saat diskusi, malah mendapatkan nilai yang lebih baik dari nilai saya. Semester ganjil kedua? Saya masih berusaha intropeksi diri, mungkin ada yang salah di attitude saya, berusaha menjadi anak manis dan lebih sopan, ada progres? Malah nilai saya pantas ditertawakan.

Baca: Dehumanisasi di Ruang Belajar Formal

Baru-baru ini saya mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakkan, inilah yang mendorong saya untuk menulis secuil opini sampah ini. Bukan sekali dua kali, tapi di setiap kali jam mata kuliah, saya dan teman-teman sekelas saya harus menunggu kehadiran ‘sang pengajar’ selama hampir 50 menit atau bahkan hingga lebih. Jadwal masuk tepat pukul 08.50 dan keluar pukul 10.00, jam 08.45 tet! Saya sudah duduk manis di kelas dengan niat hati untuk kuliah, 10 menit berselang, 20 menit, 30 menit, hingga habis waktu pun pengajar tak kunjung hadir. Karena saya adalah mahasiswa yang sok sibuk, saya tidak ada waktu hanya untuk duduk-duduk di kelas menunggu kehadiran pengajar.

Lantaran ada jadwal kegiatan yang harus saya lakukan, jadi saya putuskan untuk cabut dari kelas. Ketika dalam perjalanan ke lokasi kegiatan, gawai saya bergetar di saku celana, seorang teman kelas menelepon dan mengatakan dosen tersebut masuk. Saat itu saya benar-benar ikhlas mengumpat. Saya sering mengumpat tapi tak pernah seikhlas saat itu. Apa boleh buat, kuliah penting, tapi dunia saya tidak hanya tentang kuliah, jam per jamnya sudah saya atur, saya tidak bisa meninggalkan kegiatan saya. Profesionalisme bukan arah hidup saya, sesungguhnya atas dorongan rasa kecewa dan kesal, saya putuskan membolos.

Tentu saya menghargai niat baik pengajar tersebut, meskipun sudah sangat-sangat terlambat, beliau tetap menyempatkan diri untuk masuk. Pengajar tentu saja benar, saya yang salah. Barangkali ke depannya saya mesti lebih bersabar lagi menanti kehadiran pengajar, ibarat kata pengajar masih mau masuk kelas dan berbagi ilmu saja sudah untung, jangan minta-minta mereka buat tepat waktu, kasihan.

Baca: Meski Sekedar Hati-Hati

Pengajar terlambat adalah biasa, sangat biasa. Kedisiplinan waktu hanya untuk mahasiswa, bagi pengajar kedisiplinan waktu mungkin masih buram. Semakin tinggi ilmu manusia, semakin sibuklah dia, itu pandangan saya, mungkin benar, dan mungkin juga salah. Pengajar itu ilmunya sudah tinggi, maklum kalau mereka sibuk, banyak urusan ini-itu dan sana-sini. Sebagai mahasiswa tentu saya tidak boleh egois berharap sepenuhnya perhatian pengajar hanya untuk mahasiswanya. Barangkali pengajar juga punya pandangan tentang mahasiswa, ya, mahasiswa itu banyak santainya, menunggu sebentar tak apalah. Menunggu itu memang relatif, pengajar paham betul teori itu, tapi secara praktik mereka bisa jadi tidak paham, atau pura-pura tak paham.

Cobalah lihat ke belakang, tengok masa-masa kali pertama awal semester baru dimulai, apa yang disampaikan seorang pengajar ketika memberikan kontrak kuliah? Yang bikin saya dongkol adalah saat pengajar membahas tentang dispensasi keterlambatan. Mungkin, kalau butuh mereka bakal pakai Toa untuk memperjelas bahwa mahasiswa semaksimal mungkin mengupayakan diri untuk tidak terlambat. “Keterlambatan maksimal 15 menit, lebih dari itu tidak ada toleransi…” begitulah kira-kira kalimat verbalnya.

Tapi pernahkah kontrak itu juga berlaku untuk pengajar? Tidak, karena yang membutuhkan pengajar di sini adalah mahasiswa, bukan mahasiswa yang dibutuhkan oleh pengajar. Ini adalah sindiran. Di buku Kode Etik Mahasiswa di kampus saya disebutkan dengan jelas bahwa keterlambatan mahasiswa adalah 10 menit, ini asli. Iktikad baik kampus untuk membuat mahasiswa disiplin harus diapresiasi. Mungkin di buku Kode Etik Pegawai juga ada aturan maksimal keterlambatan pengajar, mungkin.

Kalau di atas sudah saya singgung mengenai pengajar terlambat adalah hal yang biasa, lalu bagaimana dengan pengajar yang tidak pernah datang sama sekali? Itu baru luar biasa, dan luar biasa bukan berarti tidak ada. Pernah suatu ketika di semester ganjil pertama, saya mendapatkan mata kuliah di mana pengajarnya teramat sangat sibuk, sehingga sama sekali tidak pernah masuk. Kabarnya, beliau ini tengah melakukan disertasi S3-nya di luar kota. Beliau sudah mengajukan cuti namun tetap mendapat jatah mengampu mata kuliah dari Kepala Jurusan. Dua bulan saya dan teman-teman kelas saya sama sekali tidak mendapatkan pelajaran dari mata kuliah pengajar tersebut, sampai pada akhirnya di minggu ke sembilan beliau hadir.

Baca: Sukses Tidak Akan Didapat Bila Tidak Mencoba

Pertemuan ke sembilan seharusnya kami sudah Ujian Tengah Semester, eh kami malah baru basa-basi perkenalan dengan pengajar tersebut. Entah lucu atau tragis, tapi kejadian seperti ini cukup ‘menyenangkan’ dan tidak seharusnya terjadi. Parahnya, bukannya meminta maaf karena telah menelantarkan kami, pengajar tersebut malah dengan ringannya meminta pengertian dan mohon maklum. Di minggu-minggu berikutnya beliau tidak hadir lagi, sampai akhirnya kami lapor ke Kepala Jurusan dan kami mendapat pengajar pengganti. Ganti pengajar ketika kurang lebih Ujian Akhir Semester kurang dari dua minggu. “Nilai kalian saya pukul rata saja, ya…” kata pengajar pengganti. Luar biasa.

Membicarakan aib pengajar sebenarnya tidak baik, sangat tidak baik, pengajar adalah guru, dalam buku Ta’lim Muta’alim disebutkan adab seorang murid kepada gurunya akan mempengaruhi keberkahan ilmu. Saya membentengi diri untuk tidak terlalu kelepasan membicarakan aib mereka, yang saya tulis di sini adalah aib yang paling kecil, jadi semoga tidak mempengaruhi keberkahan ilmu. Tidak apalah, wong cuma sedikit.

Namun, tidak semua pengajar bertabiat kurang baik, Indonesia memiliki banyak pengajar-pengajar yang hebat. Tidak adil rasanya menghakimi profesi pengajar dengan hanya menilai dari segelintir kecil pengajar yang kurang baik. Memangnya sebagai mahasiswa kita sudah berbuat apa? Sebenarnya saya salah mengkritik pengajar, sebab pengajar selalu benar dan yang salah adalah mahasiswa. Betul?

Kedisiplinan waktu, baik pengajar maupun mahasiswa harus mengintrospeksi diri, terutama mahasiswa, sebab budaya ngaret kita sudah di ambang batas keterlaluan. Bisakah mahasiswa Indonesia menjawab tantangan untuk selalu disiplin waktu? Mahasiswa adalah agen dari sebuah perubahan, masa tidak bisa mengubah kebiasaan memalukan ini? Mahasiswa harus mandiri, tidak butuh contoh dari pengajar, biarkan saja pengajar selalu telat. Pengajar kan selalu sibuk, sedangkan mahasiswa banyak santainya.

Editor: Bagus Pribadi
Foto: Khotbahjumat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.