Mengintip Kehidupan ‘Kaum Pelangi’ di Pekanbaru

Mengintip Kehidupan 'Kaum Pelangi' di Pekanbaru

Penulis: Adrial Ridwan

Gagasanonline.com– Sejak tahun 2011 komunitas-komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) mulai berani bermunculan di Indonesia dengan indikator bahwa keberadaan mereka yang masih dianggap minoritas, hingga kini berkembang dan terorganisir dengan baik. Gagasan mencoba menelusuri geliat komunitas LGBT di Bumi Lancang Kuning.

Waktu menunjukkan pukul 01.26 WIB malam itu. Hujan gerimis mewarnai Jalan Cut Nyak Dien tepat di belakang Kantor Gubernur Provinsi Riau. Di jalanan yang sepi itu, tampak beberapa pria tengah duduk santai sambil bermain gawai. “Mereka itu menunggu gadun-gadun, dek,” kata seorang pria yang telah lama menjadi kaum sekong—begitu istilah sesama mereka—di tempat tersebut.

Malam itu, pria penyuka sesama jenis itu mengenakan baju olahraga kuning bermerek terkenal. Ia menceritakan semua pengalamannya di kawasan tersebut. Bella nama aliasnya. Sambil membenarkan posisi duduknya, ia mengatakan kawasan sekitar pelataran Kantor Gubernur Riau sudah lama menjadi tujuan kaum sekong di Kota Pekanbaru. “Kaum sekong itu sebutan untuk laki-laki yang suka dengan laki-laki, ‘batang’ vs ‘batang’ lah,” kata Bella terkekeh.

Malam itu Bella ingin sekali menunjukkan bagaimana pria-pria tersebut mencari ‘mangsanya’. “Cobalah yuk kita jalan, tapi pelan-pelan kita lihat gimana reaksi mereka,” sebut Bella.

Sambil menghidupkan sepeda motor yang digunakan, tampak kedua mata Bella terus mengamati keadaan di sekitar area itu. “Pelan-pelan jalannya, kalau kita laju, mereka gak akan merespon gerak-gerik kita,” kata Bella dengan semangat di malam itu.

Benar kata Bella, pria-pria yang duduk di kawasan itu mulai melirik ke arah motor kami yang melintas. “Dek, lihat mereka, lihat matanya, kalau kita turuti. Kita berhenti, nanti pasti mereka nyamperin kita,” kata Bella menggebu-gebu.

Tetapi Bella menyarankan tidak perlu berhenti. Sebab, menurut Bella, bahaya bagi seorang yang baru mengetahui ‘dunia malam’ ini. “Gak usahlah kita berhenti, bahaya sama kau nanti,” kata Bella dengan logat bataknya yang kental.

Malam kian larut, rintik hujan semakin deras. Jam tangan yang digunakan Bella malam itu menunjukkan pukul 02.00 WIB. Bella menyarankan untuk menghentikan penelusuran malam ini, dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Bella tak henti-hentinya menceritakan dunia kaum sekong. Pernah suatu ketika, dia diajak melayani seorang gadun oleh temannya sesama gay, di salah satu hotel ternama di Pekanbaru. Bella bilang, gadun adalah sebutan kaum sekong kepada pria yang sudah memiliki istri, namun hasrat yang sebenarnya kepada pria.

Bella bercerita, saat ia diajak temannya untuk memuaskan gadun tersebut, dirinya menolak dan memilih untuk pulang. “Malam itu aku pulang, masih ingat aku dosa, kalau melakukan hubungan layaknya suami-istri,” katanya tertawa renyah.

Keesokan harinya ia menjemput temannya yang menemani gadun tersebut di salah satu hotel yang dekat dari tempat ia bekerja. Bella mengungkapkan, temannya itu dibayar sekian ratus ribu rupiah setelah memuaskan berahi gadun tersebut.

Bella mengungkapkan dirinya pernah pacaran dengan seorang petugas keamanan yang bekerja di salah satu pusat perbelanjaan Kota Pekanbaru. Sebut saja pacar Bella itu bernama Udin. Selama berpacaran dengan Udin, Bella mengaku banyak hal yang mereka lakukan bersama, seperti jalan-jalan, hang out bersama, hingga hampir melakukan hal yang tidak senonoh.

“Ada waktu itu dia ngegrepein aku, peluk-peluklah awalnya, tapi aku tepis tangannya. Ingat aku dosa, aku di sini merantau, yang baik-baik ajalah yang aku lakukan, walaupun aku tahu yang aku lakukan ini sebenarnya salah,” kata Bella sambil menghela nafasnya.

Sepanjang perjalanan, Bella bercerita panjang lebar soal kehidupan ‘kaum pelangi’ hingga tak terasa telah tampak rumahnya di perempatan jalan. Bella mengajak besok malam untuk kembali melanjutkan penulusuran ini.

“Besok kita lihat lagi keadaan di sana ya, Dek,” kata Bella sambil melambaikan tangan dengan gaya centilnya.

***

Keesokan harinya, kami kembali mengunjungi kawasan tersebut. Malam itu kembali diwarnai rintikan hujan dengan udara dingin. Jam tangan yang digunakan Bella menunjukkan pukul 01.00 WIB. Di Jalan Cut Nyak Dien malam itu hanya ada sebuah kendaraan roda empat yang menjajakan dagangan minuman dan roti. “Biasanya mereka duduk-duduk di tempat jualan itu,” kata Bella yang menggunakan kaos olahraga berwarna merah.

Tak lama kemudian datang sebuah mobil berwarna putih berhenti di seberang mobil yang berjualan tersebut. Bella melirik mobil itu sesaat dan menerka orang di mobil tersebut sedang mencari pria-pria yang stay di sini. “Pikir ajalah, malam-malam begini untuk apa berhenti gitu kalau bukan nyari ‘mangsa’,” kata Bella tertawa.

Bella berpikir begitu karena dirinya sudah lama dan cukup banyak tahu tentang kawasan ini. “Gak ingat lagilah aku dari kapan main-main di sini,” sebut Bella.

Sambil menunggu gerak-gerik orang di mobil yang berhenti di seberang jalan tersebut, Bella bercerita, di dunia kaum sekong ini ada isitilah ‘bot’ yang merupakan laki-laki yang diposisikan sebagai perempuan. “Jadi, laki-laki ‘bot’ ini dia yang ‘ditusuk’,” kata Bella.

Sedangkan pasangan gay yang diposisikan sebagai laki-laki disebut ‘top’. “Top ini mereka yang ‘menusuk’,” sebut Bella.

Selain itu, Bella menambahkan ada lagi istilah yang namanya tubang. Menurut Bella, ini istilah bagi gay yang sudah bekerja dan biasanya sudah beristri tetapi dia juga membiayai kebutuhan hidup pasangan prianya. Menurut Bella, tubang ini biasanya memberikan apa pun yang diminta oleh pasangan prianya.

“Ada kawanku dia punya tubang di mana-mana. Ada di Medan, Jawa sana, pantasan kemarin dia beli raket harganya 2 jutaan, pas aku sadap Whatsapp-nya, rupanya dikirim dari tubang dia di Medan,” Kata Bella sambil terus bercerita.

Asyik bercerita tentang kehidupan serta istilah di dunia kaum sekong, rupanya mobil yang diawasi Bella tadi pergi begitu saja. Menurut penjelasan Bella, biasanya mobil tersebut bisa jadi sudah dapat yang ia mau atau mencari ‘mangsa’ di sekitar area tersebut.

Sambil membenarkan posisi duduknya, Bella menambahkan, pria-pria yang berkeliaran di sekitar sini biasanya stay dari jam 00.00 hingga 05.00 WIB. Menurut Bella, waktu yang ramai biasanya di malam Minggu.

Menghela nafas panjang, Bella bercerita tentang perasaan kaum sekong. Bella mengungkapkan sebenarnya rasa suka antara pria dengan pria, pria dengan wanita, itu sama saja jika dibawa ke perasaan. Menurut Bella, seperti sakit hati atau cemburu, sama saja dengan pacaran pria normal. “Kelahi-kelahi, cemburu kalau ada yang didekati, ya sama saja,” kata Bella sambil membuka aplikasi Whatsapp-nya.

Bella yang berasal dari Desa di Gunung Tua, Sumatera Utara ini mengungkapkan, jika ingin mengusik keberadaan kaum sekong di sini akan sia-sia. “Pernah terjadi penggrebekan di salah satu tempat kan, Dek. Kaum-kaum seperti ini lebih cepat gerak dan akan lebih cerdas memilih tempat baru untuk melanjutkan aksinya lagi,” papar Bella.

Malam kian larut, daun-daun yang berguguran di sekitar Kantor Gubernur itu mulai berterbangan diterpa angin bersama rintikan hujan yang mulai membasahi Jalan Cut Nyak Dien. Bella mengajak saya pulang karena besok pagi dirinya harus bersiap masuk kerja saat matahari belum menampakkan sinarnya.

Sepanjang jalan pulang hingga sampai ke rumahnya, Bella menyebutkan, ‘kaum pelangi’ juga bekerja untuk mencari nafkah. Menurut Bella, pekerjaan seperti ini biasanya disebabkan karena faktor ekonomi. “Bayangkanlah, satu malam itu bisa meraup uang hingga satu juta, tergantung siapa yang sewa. Germo tahulah, Dek, gimana,” kata Bella.

Menurut Bella, lokasi mangkal kaum pelangi di Pekanbaru tak hanya di pelataran Kantor Gubernur Riau. Masih ada beberapa lokasi yang Bella pun tidak mengetahui di mana letaknya. “Biasanya juga di Blok M, Blok M itu di belakang Makam Pahlawan Kusuma Darma, tapi sekarang sudah enggak ada lagi tampaknya,” ujar Bella dan mengalihkan topik pembicaraan.

Keberadaan kaum LGBT di tengah masyarakat ditanggapi beragam. Atas dasar kemanusiaan, Putri Sari Dewi, mengecam keras setiap bentuk persekusi dan perisakan terhadap kaum LGBT. “Di sisi lain, saya meyakini ada sisi negatif di balik isu ini. Yang sama-sama penganut agama kita yakini,” tuturnya.

Sementara itu, Septio Budi menentang keras keberadaan komunitas LGBT di masyarakat, baik tampil secara terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Menurut Septio, perilaku LGBT menyimpang dan banyak dampak negatifnya. “Kalau aku setuju sama aja aku mengakui keberadaan mereka,” ujarnya.

Reporter: Adrial Ridwan
Editor: Bagus Pribadi
Sumber Foto: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.