Pedagang Ricuh Sebabkan Dilarang Jualan Sesi Kedua Wisuda

Pedagang Ricuh Sebabkan Dilarang Jualan Sesi Kedua Wisuda

Gagasanonline.com – Pagelaran wisuda yang berlangsung 26-27 Februari 2019 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UIN Suska Riau menuai kericuhan. Selasa, (26/2/2019) pukul 10.00 WIB, keributan terjadi antar para pedagang. Hal itu menyebabkan pedagang dan mahasiswa tak diperbolehkan berjualan saat berlangsungnya pagelaran wisuda pada sesi ke dua, Rabu, (27/2/2019).

Keributan ini disebabkan para pedagang tidak mengindahkan peraturan yang sudah ditetapkan oleh Badan Layanan Umum (BLU). Para pedagang berpindah lokasi dari belakang PKM ke depan PKM.

Menurut saksi mata, seorang pedagang mie ayam, kejadian bermula adanya percekcokan pedagang tebu dan pedagang bunga karena rebutan lapak jualan. Akibat percekcokan itu jalan keluar masuk PKM menjadi sempit, bertepatan pula dengan keluarnya mobil rektor sehingga sulit melewati jalan tersebut.

Sekuriti mencoba mengamankan keributan, akan tetapi pedagang tebu merasa tak senang sebab lahan yang telah dibayarnya diambil pedagang bunga. Alih-alih menjadi tenang, petugas keamanan dikejar dengan senjata tajam. “Dikejarnya dengan parang, satpamnya lari sampai ke semak-semak,” terangnya.

Sementara itu dari pihak sekuriti, Dwi Juprianto membenarkan adanya ricuh. Ia mengatakan terdapat pedagang tidak membayar uang lapak dan bisa berdagang di ruas jalan depan PKM. “Karena itu pedagang yang sudah bayar marah, jadi mereka marah ke kami juga,” katanya.

Juprianto menampik adanya kejadian satpam dikejar oleh pedagang dengan senjata tajam. Ia terkejut mendengar  kabar keributan itu. “Pedagang itu banyak taktiknya,” ketus Juprianto.

Ia juga mengatakan, seharusnya mengatur dan menertibkan pedagang adalah pihak BLU. Ia sangat menyayangkan atas tidak tertibnya para pedagang sehingga berimbas pada sekuriti.

“Kan, yang ngutip uangnya mereka, merekalah yang ngatur. Memangnya SOP kami ngatur pedagang? Memangnya kerja sekuriti itu?”tutur Juprianto.

Akibatnya, seluruh pedagang dan sekuriti dikumpulkan oleh rektor dan di hari kedua wisuda pedagang tidak diperbolehkan lagi berjualan di area kampus.

“Kata pak rektor kalau kami sekuriti tidak bisa menertibkan pedagang, kami yang akan dikeluarkan. Pedagang cari makan satu hari  kami cari makan satu bulan, kalau dikeluarkan kemana lagi cari kerja, susah,” pungkasnya.

Sedangkan Pihak BLU, Suryani menolak untuk diwawancarai saat dijumpai untuk meminta keterangan tentang hal tersebut di Rektorat lantai III. “Nanti-nanti saya sibuk,” ketusnya.

Reporter : Wilda** dan Lia**

Editor : Wulan Rahma F

 

1 Komentar


  1. Suryani mah bongak. Tukang palak kontraktor

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.