Sarasah di Balik Hutan Harau

Sarasah di Balik Hutan Harau

gagasanonline.com – Percikan air tersebut mulai terdengar dari pepohonan hijau yang tampak rindang. Sebuah aliran air yang terlihat jernih tidak lupa menemani perjalanan menuju sumber suara percikan air itu. Daerah tersebut juga terasa subur dan hijau ditemani kebun cokelat masyarakat setempat serta tebing-tebing yang curam.

“Lurus aja dek, ikutin aja jalan setapak masuk hutan tersebut, nanti jumpa tu,” kata seorang pria yang hari itu ia tengah duduk di bawah pohon berlindung dari teriknya matahari.

Setelah mengikuti intruksi dari  pria yang tak mau disebutkan namanya tersebut, sampai lah ke tempat yang dituju. Terlihat sebuah air yang terjun bebas dari sela-sela tebing Harau. Masyarakat menyebutnya dengan sebutan Sarasah Murai.

Sarasah ini merupakan sebutan lain dari air terjun oleh Masyarakat Sumatera Barat. Sarasah Murai terletak di Kompleks Wisata Lembah Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Lembah Harau memiliki tujuh air terjun yang bisa diakses. Salah satunya Sarasah Murai yang terletak di pedalaman Harau. Sarasah Murai terletak satu kilometer dari Sarasah Lembah Harau yang merupakan Air Terjun tertinggi keempat di Indonesia.

Awal mula penamaan Sarasah Murai yang dikutip dari media dalam jaringan www.minangtourism.com, saat siang hari warga sekitar sering sekali melihat Burung Murai yang mandi di aliran sungai Sarasah Murai. Jika pengunjung beruntung bisa melihat Burung Murai tersebut memadu kasih dan berkicau di kebun coklat warga tersebut.

Akses menuju Sarasah Murai tidak sulit. Pengunjung cukup mengikuti jalan aspal di kawasan Lembah Harau. Nantinya ada rambu-rambu yang menunjukkan letak Sarasah Murai . Jalan menuju Sarasah Murai dihiasi sawah yang tampak sudah merunduk mendandakan tak lama lagi segera masuk musim panen. Curamnya Tebing Harau juga tidak kalah memanjakan mata pengunjung.

Biaya masuk Serasah Murai cukup terjangkau. Ketika di pos penjagaan, pengunjung membayar retribusi Rp. 5.000 perorangnya. Saat di Sarasah Murai pengunjung membayar biaya kebersihan Rp. 5.000 per kendaraan.

Menurut Syaiful, ia merasa senang mengetahui ada lagi air terjun di Harau ini. Awalnya ia sama sekali tidak tahu juga masih ada air terjun hingga ke pelosok Harau seperti Sarasah Murai.

“Yang saya tahu cuma Sarasah Bunta yang di depan, tu sarasah apalagi namanya tu yang dekat spot foto, itu aja, kalau ini emang baru tahu setelah mengikuti petunjuk jalan,” katanya yang mengaku berasal dari Pekanbaru, Kamis (3/1/2019).

Syaiful merasa tentram berada disini. Ia merasa memiliki ketenangan dengan suasana yang masih tampak alami dan belum terjamah sampah plastik.

“Kalau yang di depan, sudah banyak sampah sarasahnya, di sini masih tampak alami,” ujarnya.

Senada dengan Syaiful, Tio Budi menuturkan ia juga senang berada di tempat ini. Menurutnya sarasah ini seperti milik pribadi, sebab ketika ia berkunjung tidak ada pengunjung yang datang.

“Mungkin karena jauh ke pelosok Harau, jadi banyak yang belum tahu. Tapi bagus deh, serasa milik pribadi,” katanya sambil tertawa.

Syaiful dan Tio sama-sama berharap untuk menjaga keindahan Sarasah Murai. Mereka mengajak untuk melestarikan dan memperkenalkan sarasah tersebut ke sosial media yang dimiliki.

“Supaya makin banyak pengunjung,” harapnya.

Ketika hendak pulang, Syaiful dan Tio berpapasan dengan beberapa orang yang wajahnya tampak seperti bukan orang Indonesia. Orang tersebut ingin mengunjungi Sarasah Murai. Mereka menyapa dan berkata “Hello,” sambil dibalas senyum dari Syaiful dan Tio.

Penulis: Adrial Ridwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.