Sengkarut PBAK di Kepemimpinan Baru

Sengkarut PBAK di Kepemimpinan Baru

Gagasanonline.com- Pagi itu, Jumat (27/07/2018) pukul 06.00 WIB halaman Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa UIN Suska Riau ramai dengan mahasiswa baru yang sedang berbaris hendak memasuki Gedung PKM.

Di depan mahasiswa baru yang mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan atau PBAK gelombang pertama ini, berbaris para panitia dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Resimen Mahasiswa (Menwa). Mahasiswa baru diarahkan untuk masuk ke dalam Gedung PKM dan mengikuti kegiatan PBAK.

Sebelum pelaksanaan PBAK gelombang pertama, panitia dan BEM UIN Suska Riau sudah bertentangan dengan Rektor. Jadwal PBAK yang sudah jauh hari dikonsepkan, diubah total oleh Rektor pada Sabtu (21/07/2018). Keadaan semakin mengeruh ketika Menteri Agama BEM UIN Suska Riau, Hamzah menjadi moderator mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan ala militerisme dari Rektor Prof Akhmad Mujahidin. Rambutnya dijambak dan diperintahkan push-up di hadapan mahasiswa baru dengan alasan tidak disiplin.

Suasana menjadi tegang ketika mahasiswa baru menyaksikan perlakuan sang Rektor terhadap panitia. Tak terima dengan sikap Rektor, BEM UIN Suska atas instruksi Ketua BEM Yudi Utama Tarigan melakukan aksi unjuk rasa di Gedung PKM memprotes sikap Rektor yang dinilai arogan.

Tetapi Rektor tak menanggapi sama sekali. Rektor lantas meminta Menwa mengunci pintu Gedung PKM. Sementara itu, sebagian panitia PBAK berada di luar untuk briefing.

Mahasiswa dan panitia mendobrak pintu PKM dan memaksa untuk masuk. Ketika massa sudah berada di dalam, Rektor berusaha untuk keluar dari gedung PKM. Setelah Rektor berhasil keluar, mahasiswa baru dikumpulkan dan diajak salat Jumat. Selepas salat, massa dan mahasiswa baru beramai-ramai menuju Gedung Rektorat. Mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Andini Maulidya Putri mengira kejadian yang disaksikannya merupakan sandiwara yang sengaja dirancang dalam acara orientasi pengenalan kampus ini. Ia mengatakan beberapa temannya merekam kejadian tersebut dengan gawai masing-masing dan Menwa mencoba menghentikan mereka.

“Saya pikir pura-pura seperti ospek SMA,” katanya.

Sebagian besar yang mengikuti demo adalah mahasiswa baru laki-laki, karena salah seorang mahasiswa laki-laki turut dijambak oleh Rektor. Andini mengungkapkan, ada banyak panitia acara yang menjelaskan kepada mereka kalau Rektor melakukan hal yang salah.

“Mungkin anak-anak cowok kebawa-bawa suasana, jadi ikut-ikutan, tapi menurutku itu semacam cuci otak,” tambahnya.

Suasana semakin gaduh. Agenda PBAK terhenti karena aksi unjuk rasa itu. Namun Rektor enggan menemui mahasiwa yang unjuk rasa. Merasa tak dihiraukan Rektor, Ketua BEM UIN Suska Riau Yudi Utama Tarigan menelepon Wakil Rektor III Promadi untuk meminta pernyataan keputusan atas tuntutan massa. Yudi meminta PBAK gelombang pertama dihentikan karena suasana sudah tak kondusif.

Akhirnya, Promadi menyetujui PBAK gelombang pertama diakhiri. “PBAK selesai, maba (mahasiswa baru) lulus semua,” kata Yudi di hadapan mahasiswa baru.

Yudi membenarkan bahwa pemicu adanya aksi mahasiswa dan BEM karena Rektor menjambak dan menyuruh push up salah satu anggota BEM UIN Suska Riau.

Sebelumnya, pihak BEM UIN Suska Riau sudah menyampaikan bahwa konsep acara tidak boleh menjemur peserta PBAK. Namun nyatanya, ketika Apel Akbar yang dilakukan di depan Gedung Rektorat pada Kamis (26/07/2018) semua mahasiswa dijemur di bawah teriknya matahari.

Yudi menjelaskan bahwa aksi mereka bukan bermaksud mencuci otak mahasiswa baru, melainkan mengajarkan menjadi mahasiswa yang aktif dan kritis untuk memperjuangkan kebenaran. “Sampaikan yang benar itu benar adanya, begitu juga sebaliknya,” tutupnya.

Berembuk Cari Solusi, BEM UIN Suska Minta Maaf

Tak lama pasca-kejadian di hari perama PBAK gelombang pertama, BEM UIN Suska mencoba untuk menjalin komunikasi dengan Rektor guna mencari solusi atas kejadian tempo hari. Namun sayang. Rektor sangat sibuk dengan agenda-agenda lain, sehingga sulit ditemui. Rektor malah sibuk dengan agenda di luar kota.

Kendati gagal berjumpa Rektor, namun BEM UIN Suska dan mahasiswa dari elemen organisasi kampus lainnya bisa duduk bersama dengan Promadi. Di Aula Hotel Ayola Jalan Subrantas Pekanbaru digelar rapat membahas kelanjutan PBAK, Rabu (29/08/2018) pukul 20.00. Tampak hadir Promadi, seluruh Wakil Dekan III, BEM UIN Suska Riau serta BEM fakultas. Pertemuan malam itu digelar dengan posisi meja bundar dengan sajian minuman kopi dan teh serta bolu dan risoles.

Suasana dingin yang terpancar dari pendingin ruangan menambah hasrat mereka untuk meminum minuman yang hangat. Promadi yang hanya menggunakan kaos berkerah abu-abu itu angakat bicara setelah moderator. Promadi menjelaskan PBAK tidak ditiadakan melainkan ditunda terlebih dahulu hingga suasana kondusif. Namun, pihak BEM menanyakan kepada Promadi apa yang dimaksud dengan ‘suasana kondusif’.

Suhu ruangan semakin dingin, minuman di hadapan mereka juga hendak habis dan terjadi perdebatan. Masing-masing perwakilan mahasiswa yang hadir diberi kesempatan bicara oleh moderator Azni, Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).

Foto: Gagasan

Promadi mengatakan, atas peristiwa tempo hari, Rektor telah meminta maaf ke mahasiswa melalui media massa. Promadi meminta permasalahan tidak diperbesar dan acara PBAK kembali direncanakan.

Sebagai jalan keluar, BEM UIN Suska Riau membuat surat pernyataan maaf kepada Rektor. Yudi Utama Tarigan mengatakan kejadian PBAK gelombang pertama sudah diklarifikasi di beberapa media. Ia berharap pertemuan ini sebagai pencair hubungan antara mahasiswa dengan Rektor.“Intinya kita harus jumpa dengan rektor, kalau tak jumpa, tak kan dapat solusinya,” sebutnya.

Promadi menuturkan, akan menyerahkan surat tersebut kepada Rektor dan meminta Akhmad Mujahidin menemui mahasiswa. “Mungkin kita akan duduk bersama dengan Rektor, kalau ada surat ini berarti suasana sudah kondusif,” kata Promadi.

Pada kesempatan itu, Promadi juga mengungkapkan, Rektor sedang sibuk sebagai asesor internasional. Ia mengatakan Rektor menjalankan agenda-agenda yang sudah ada sebelumnya. “Jadi, perjumpaan dengan Rektor ini belum terlaksana karena kesibukan Rektor dengan agenda yang sudah ada,” tandasnya.

Pihak rektorat memastikan PBAK tetap akan dilaksanakan. Secara terpisah, Kabag Kemahasiswaan Eri Zulfahmi saat ditemui Gagasan di ruang kerjanya pada Senin pekan lalu, mengatakan bahwa akan diadakannya PBAK Akbar tahun ajaran 2018/2019 untuk seluruh mahasiswa baru UIN Suska Riau pada 17 sampai 19 Oktober 2018.

Eri Zulfahmi bilang, total mahasiswa baru sebanyak 5.188 orang, sehingga ia membentuk kepanitiaan secara bersama-sama dengan mahasiswa. Di antaranya terdiri dari bagian Rektorat, BEM UIN Suska Riau, BEM fakultas dan unit kegiatan kampus/unit kegiatan mahasiswa. Ia memberikan syarat kepada mahasiswa untuk menjadi panitia. Persyaratannya yaitu mahasiswa aktif semester 3,5 dan 7 dengan IPK paling rendah 3.00. Ketika ditanyai tentang keterlibatan BEM fakultas turut serta menjadi panitia PBAK, ia menginginkan semua pihak terlibat demi kebaikan bersama. “Demi kebersamaan, saya libatkan semua,” katanya.

Mantan Kabag TU Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial itu mengatakan kegiatan PBAK Akbar dilaksanakan selama tiga hari. Hari pertama hanya sampai jam 11.30 di lapangan depan Gedung Rektorat. Hari kedua difokuskan ke materi dengan pemateri di antaranya dari kepolisian, Kementrian Agama, dan Akademik dan Mahasiswa. Sedangkan di hari Rabu difokuskan pada pengenalan organisasi mahasiswa. Baik itu BEM maupun seluruh UKK/UKM.

Tema PBAK Akbar ini yaitu ‘Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air’. Ia menjelaskan latar belakang pemilihan tema yakni karena sekarang masyarakat Indonesia sudah mulai terpolarisasi. “Jadi dengan tema seperti ini, biarlah maba belajar untuk cinta NKRI,” jelasnya.

Saat disinggung terkait anggaran PBAK Akbar, Eri Zulfahmi mengaku tak terlalu tahu soal itu. “Tak ingat saya, banyak perlengkapan macam-macam,” ketusnya. Sementara di lain pihak, mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang telah mengikuti PBAK gelombang pertama yang berakhir ricuh, Riska Anggraini mengatakan dirinya telah membuang-buang waktu juga biaya yang telah ia keluarkan untuk pulang pergi dari kampung ke Pekanbaru. “Letih, apalagi yang kemarin tak dapat apa-apa,” ujarnya.

Mahasiswa baru Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Sandi juga mengatakan, ia dan teman-temannya mengikuti PBAK akbar demi sertifikat. “Ikut ajalah, daripada gak ikut, gak dapat sertifikat,” katanya.

Koordinator liputan: Bagus Pribadi
Tim liputan: Hendrik, Laila, Lidya, Winda, Wulan

1 Komentar


  1. Sertifikat itu yg buat manusia jadi bisa di buat oleh manusia juga kok
    Hahaha

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *