Gondrong, Denim, dan Arah Perjuangan

Gondrong, Denim, dan Arah Perjuangan

Oleh Muhammad Ihsan Yurin

Gagasanonline.com- Sama seperti Seno Gumira yang digadang-gadang menjadi Pram kedua, tapi pasti tidak akan sama karena beda masa, cerita, dan tekanannya, kampus saya pun begitu. Di kampus lain, mungkin celana denim dan menumbuhkan rambut di atas rata-rata kebanyakan pria alias gondrong bukan perkara hebat. Tapi di kampus saya lain cerita. Perlu perjuangan psikis dan ideologis untuk sekadar menyalurkan ekspresi. Dan tentu, perkara ini bukan hal penting untuk dibicarakan di kampus lain mengingat mereka akan dengan mudah melakukannya.

Inferioritas saya muncul kadang, ketika teman-teman di luar sudah sibuk dengan wacana legalisasi ganja, atau ikut membantu masyarakat Kendeng dan Talang, atau hal-hal luar biasa lain, sedangkan saya masih sibuk memperjuangkan masalah remeh temeh seperti ini.

Nama saya Panjul. Mahasiswa semester empat sebuah universitas islami di Riau. Universitas madani penuh corak keadilan tanpa kekurangan. Jangan harap kalian temukan korupsi di sini. Susunan parkirnya saja rapi sekali. Sampah juga tidak terlihat berserakan. Pokoknya, kampus saya jauh dari kata minus. Mahasiswanya juga ramah. Apalagi dosen dan staf-stafnya. Ini semua menunjukkan betapa sifat arif dan bijaksana telah mendarah daging di kampus ini.

***

Ah, jangan terlalu serius. Ini guyon saja. Kalau memang semua yang saya sebutkan di atas benar, tentu saya tak mesti menulis paragraf pertama dan menulis tulisan ini.

Di kampus saya, memakai denim (denim itu bahan sedangkan jeans produk) dan gondrong adalah keharaman mutlak. Sialnya, tak semua dosen mengamini ini. Celah itulah yang kami gunakan selaku “pelanggar peraturan” untuk terus tertawa dalam tekanan absurd yang diciptakan elit-elit kampus. Kalau kalian tanya sama saya, apa alasan ilmiah kampus melarang mahasiswanya memakai celana denim dan gondrong, saya cuma bisa ketawa. Bukan karena pertanyaannya lucu, tapi memang lucu karena dosen dan dewan kode etik fakultas cuma jawab: ini sudah peraturan pusat, sudah dari sananya. Sebuah alasan yang terkesan dipaksakan oleh orang-orang yang pasti berpendidikan baik.

Tidak ada. Paling tidak sampai saya menulis ini, saya tidak tahu alasan ilmiah soal pelarangan dua hal tadi.

Gondrong=Preman, Denim=Kafir

Fokus dulu soal gondrong. Labeling gondrong yang sampai hari ini masih terasa, memuncak pada masa Soeharto, rezim militeristik Orde Baru.

Di zaman Orde Baru, ya tentu saja kita ngomongin militerismenya, ada narasi untuk penyeragaman koridor etik dan estetika tubuh. Semua orang harus rapi dan klimis layaknya militer. Tak peduli ia seniman, tukang sayur, gelandangan, pengangguran, apalagi pejabat. Keseriusan Orde Baru soal gondrong tertuang dalam instruksi Menhankam (Menteri Pertahanan dan Kemananan) Jendral Soemirto yang mengirim radiogram No.SHK/1046/IX/73. Isinya melarang anggota TNI dan karyawan di lingkungan tentara beserta seluruh keluarganya berambut gondrong. Akibatnya, terjadi razia rambut gondrong di jalan-jalan. Media massa juga turut membangun citra negatif dari berbagai berita yang muncul soal gondrong. Fenomena ini pun disambut mesra di daerah lain. Ada banyak gerakan dan razia demi pembasmian rambut gondrong. Misalnya Gubernur Sumatra Utara, Marah Halim, yang membentuk Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong atau yang disingkat Bakorperagon.

Setelah puluhan tahun berlalu, hakul yakin elit-elit kampus sekarang adalah orang-orang yang dulu hidup di masa itu. Masa di mana citra gondrong dan preman tidak ada sekat pemisah. Namun pun begitu, setelah dua puluh tahun reformasi, tidakkah mata dan pemikiran mereka telah berubah? Tidakkah kalian sadar wahai pemangku kebijakan kampus, bahwa ada banyak mahasiswa cerdas berambut gondrong? Atau logikanya kita putar, bahwa tidak ada korelasi antara panjang rambut terhadap kecerdasan, etika dan perilaku? Coba jelaskan soal Marx, Yesus, dan filsuf-filsuf Islam yang gondrong-gondrong itu.

Oh ya, maaf, mungkin dalih tadi terlalu sekuler dan tidak ngislam sama sekali. Baik. Bisakah kalian tentang pendapat saya bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam berambut gondrong? Atau bisakah kalian patahkan argumen saya bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam adalah manusia paling mengerti Islam di antara seluruh manusia? Kemudian mungkin mereka berdalih bahwa pada masa nabi, memang pria biasa memanjangkan rambut, berbeda di zaman sekarang. Na’am! Kalau melakukan hal itu buruk dan berdosa apakah mungkin nabi tidak melarangnya? Sedangkan pada masa itu, perkara ini sudah terjadi. Memang, banyak ulama berpendapat bahwa gondrong itu bukanlah sunah karena nabi tidak pernah memerintahkannya. Namun, perkara ini tetap tidak haram alias mubah. Jadi boleh-boleh saja asal tidak dengan niat yang buruk seperti tasyabbuh (menyerupai orang kafir). Akan tetapi, permasalahan niat, permasalahan hati yang tentu saja abstrak, apakah dapat dihukumi dengan hukum materil? Intinya, dalam Islam, memanjangkan rambut itu mubah kecuali melewati bahu. Karena nabi dalam hadisnya bersabda rambut yang melebihi bahu itu bentuk kesombongan.

Pernah, saya berdialog dengan ketua dewan kode etik fakultas yang melarang saya memanjangkan rambut. Saya bertanya soal manfaat apa yang akan saya terima jika rambut saya klimis (selain kegantengan saya yang akan naik beberapa derajat). Ini jadi diskursus penting sebagai daya tawar agar mahasiswa-mahasiswa materialistis seperti saya dapat menjalankan peraturan dengan tenang. Namun, jawaban yang saya dapatkan hanya guyon-guyon receh seperti, “Enggak usah bahas itu lah. Kalau kalian yang gondrong-gondrong ini tetap ingin gondrong, buat saja komunitas lalu demo”. Ditambah hahahihi basa basi sana sini.

Sebelum kuliah, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan dan diposisikan sebagai operator mesin. Pada masa itu, kami dilarang berambut panjang.Bahkan baju harus rapi dan masuk ke dalam celana. Alasannya sederhana, agar rambut dan baju yang ngelewer tidak digulung mesin. Kalau sampai tergulung, sebenarnya tidak ada juga sanksi serius dari perusahaan selain kematian yang sedia menerkam. Pada titik ini, saya menjadi sangat radikal mendukung pelarangan gondrong yang membawa maslahat besar. Tapi di kampus?

Lalu soal denim, ada dosen yang bilang bahwa alasan pelarangan celana demin karena pada sejarahnya, denim digunakan oleh koboi-koboi kafir. Dan kampus dengan nilai Islam yang begitu tinggi, hal semacam ini terlarang.Tapi herannya, dosen-dosen justru pakai dasi. Entahlah dasi ini produk siapa.

Dalam Islam, tasyabbuh atau menyerupai suatu kaum, menjadi haram apabila sesuatu tersebut adalah keidentikan dan kekhasan. Seperti, maaf, lambang salib dan heksagram. Atau pakaian-pakaian yang merupakan ciri khas kaum-kaum di luar Islam seperti pakaian yang berwarna merah dan kuning (silakan cari referensi sendiri soal pembahasan ini).Tapi masalah denim, justru sepengetahuan saya, denim awalnya digunakan oleh pekerja buruh tambang Amerika Serikat. Memang, produk jeans pertama kali dibuat oleh Levi Strauss. Nama Levi diambil dari marga bangsa Yahudi. Akan tetapi, di luar apakah informasi tersebut valid atau tidak, apakah pelarangan celana berbahan denim menjadi penting di sebuah universitas? Padahal denim tidaklah menjadi kekhususan agama mana pun. Di era ini, semua orang dan kalangan memakai denim. Maka, denim tidak bisa dijadikan materi untuk mengidentifikasi agama atau kaum terentu. Kesimpulannya, penggunaan denim tidak dapat dihukumi tasyabbuh. Lalu kemudian mahasiswa yang memakai denim tidak diizinkan masuk kelas dan tidak mendapat layanan apabila berurusan dengan staf-staf, maka ini adalah ketidakwarasan yang nyata. Padahal yang lebih penting justru soal ukuran ketat tidaknya celana, bukan bahannya. Bayangkan, pria dengan celana katun ketat sampai membentuk pola testis pada bagian depan celananya dibiarkan melenggang sedangkan denim gombrong dilarang. Ini kan sudah rusak prioritas namanya.

Dari semua itu, ketika saya ditanya apa pentingnya mempertahankan gondrong dan memakai denim, padahal akan lebih tampan kalau berambut klimis dan apa susahnya memakai celana katun, ini menjadi sangat ideologis. Bagi saya, perubahan adalah tujuan utama. Islam melarang pemberontakan dan bukan daya juang untuk mengkritisi.Tujuan saya adalah mengubah stigma buruk selama ini soal gondrong dan menyuarakan bahwa demin itu tidak tasyabbuh. Klise memang, tapi yang membuat gagasan ini tidak tersalurkan karena hampir semua teman saya yang gondrong hanya berani bicara dan teriak-teriak saat bersama namun ciut ketika dialog empat mata. Saya pribadi benci demonstrasi, saya benci orang-orang yang menghina dan mendebat orang lain di depan umum. Menurut saya mereka itu pengecut karena beraninya keroyokan dan jahat karena mempermalukan orang, yang walaupun salah, di depan umum. Ingatlah bahwa semua orang punya harga diri yang harus dijaga agar terjadi hubungan yang mutual.

Kalau ada kesempatan, saya siap berdiaog dengan elit dan pemuka kampus serta semua orang yang beda pemikiran. Karena negara kita menganut demokrasi, sistem yang menjamin semua orang untuk bersuara, tidak hanya orang-orang yang bergelimang prestasi, harta, dan jabatan (karena dosen saya pernah bilang, kalau tidak punya prestasi atau sesuatu yang bisa dibanggakan, tidak usah gondrong. Menurut saya, statemen ini cacat logika).

 

Penulis adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau.

Editor : Kiki Mardianti

1 Komentar


  1. Gondrong di kampus2 sudah punah pak,seiring lahir nya generasi loyo tiktok hore2..generasi cengeng warna warni yg kini menghiasi kampus2,bahkan kampus kini banyak di isi mahasiswa gemulai namun berotot, klimis kilat dan semerbak harum parfum mahal yg di beli dari duit bapak nya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *