[Resensi Buku] Siapakah Dirimu Mahasiswa?

[Resensi Buku] Siapakah Dirimu Mahasiswa?

Judul : Bangkitlah Gerakan Mahasiswa
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Intrans Publishing
Cetakan : Mei 2015
Tebal : 220 Halaman

Oleh: Bagus Pribadi

Walau materi kuliah diajarkan dengan buruk, dosen mengajar tanpa militansi dan tata tertib yang kian keji. Tapi kampus tetaplah sebuah pintu menuju petualangan – Eko Prasetyo

Kalimat di atas merupakan refleksi keadaan kampus zaman sekarang. Di mana mahasiswa hanya menerima pelajaran yang diberikan oleh dosen yang mengajar tanpa militansi serta tata tertib yang kian keji. Bukannya menjadikan mahasiswa kreatif dan inovatif, melainkan akan menjadikan mahasiswa layaknya serdadu atau robot-robot yang serba dituntun. Eko Prasetyo, si penulis buku Bangkitlah Gerakan Mahasiswa, secara tak langsung merevolusi para pembaca. Khususnya mahasiswa, untuk tidak apatis dan menjadi mahasiswa yang berguna untuk kehidupan

Bangkitlah Gerakan Mahasiswa adalah buku yang menjelaskan status mahasiswa di zaman sekarang juga tentang problematika peraturan kampus yang tak berguna. Eko Prasetyo selalu menanyakan posisi mahasiswa, status gerakan mahasiswa dan tujuan berkuliah. Buku ini mengajak para pembaca untuk membangkitkan gerakan mahasiswa seperti saat mahasiswa memperjuangkan reformasi.

Lembaran-lembaran awal dijelaskan tentang kegiatan mahasiswa yang semakin aneh saja, misalnya jadi bintang tamu di acara stasiun Televisi. Mahasiswa seakan-akan apatis dengan keadaan yang sedang berguncang seperti kekalahan negoisasi Negara kita atas semua intervensi korporasi kapitalis. Melalui berbagai masalah seperti masalah ekonomi, Eko Prasetyo mengajak mahasiswa untuk bergerak. Mengembalikan fungsi mahasiswa menjadi agen perubahan sebagaimana yang dikoar-koarkan oleh mahasiswa.

Buku ini menjelaskan secara rinci tentang orang-orang yang bekerja di pemerintahan. Tentang pejabat-pejabat yang sama sekali tidak bermutu dan membawa ekor ke mana-mana bernamakan ajudan. Eko Prasetyo menggiring pembaca dengan argumennya seperti, Apakah Menteri Perhubungan pernah minta maaf  jika ada kecelakaan? Sanggupkah Menteri Pertanian mundur jika panen petani gagal? Bahkan, mampukah anggota parlemen mohon ampun karena memboroskan anggaran? Sehingga kita menyadari apa yang dilakukan pemerintahan kepada rakyat.

Penampilan mahasiswa yang begitu elok saat ke kampus. Terus membeli barang apa saja yang terbaru dan tak mau ketinggalan film terbaru di bioskop. Di mana kegiatan mahasiswa yang seperti itu didukung oleh pihak kampus. Misalnya, kampus yang mengharuskan mahasiswanya untuk berpakaian rapi. Pokoknya penampilan mahasiswa disesuaikan dengan bangunan indah kampus. Dosen-dosen melarang mahasiswa yang memakai jeans dan berkaos perlawanan. Dosen bukan lagi menebar pengetahuan rasional melainkan curiga atas posisi moral mahasiswa. Layaknya jika kemudian kampus bukan tempat bertarung gagasan melainkan tempat untuk menundukkan hasrat mahasiswa.

Eko Prasetyo menjelaskan siapa yang sebenarnya merusak moral bangsa ini. Harusnya kampus berteriak lantang jika ada korupsi yang merajalela. Harusnya kampus malu jika jadi dosen puluhan tahun tapi tak ada karya karena sibuk dengan proyek di luar kampus. Pantaskah kampus dikatakan bermoral jika hanya punya berhala bayaran dan janji untuk mendapat pekerjaan? Maka bisa dimaklumi jika kampus lalu memenuhi mahasiswanya dengan segala aturan dan kebohongan.

Buku ini semacam risalah provokasi. Tujuannya adalah agar pembaca terbuka hatinya untuk tidak apatis dan  bergerak menyuarakan kebenaran yang ada di dalam hati nurani setiap insan. Dalam sejarah mahasiswa memperjuangkan reformasi, terbukti mahasiswa mampu merubah keadaan Negara Indonesia menjadi lebih baik. Maka, Eko Prasetyo mengharapkan mahasiswa zaman sekarang bercermin tentang gerakan mahasiswa tahun 1998. Kini saatnya mahasiswa bangkit kembali. Menyuarakan apa yang selama ini hanya jadi keresahan dan keluhan.

Pembaca secara tak langsung  terhasut dan meyakinkan untuk menjadi mahasiswa yang berani. Mahasiswa yang menuntut kedaulatan  dan merebut kekuasaan dari komplotan berpikiran kerdil. Mahasiswa bersatu dan menghancurkan dinasti tirani yang selama ini dibangun oleh mereka yang berkuasa. Kelak sejarah akan menulis: Gerakan mahasiswa kembali merobohkan kekuasaan yang mengkhianati rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *