Cinta Kasih yang Tak Pernah Luntur

Cinta Kasih yang Tak Pernah Luntur

Judul                  : Ayah
Penulis               : Andrea Hirata
Penerbit             : Bentang
Tanggal Terbit  : Mei 2015
Tebal                   : 432 halaman

-Ayah-

Kulalui sungai yang berliku

Jalan panjang sejauh pandang

Debur ombak yang menerjang

Kukejar bayangan sayap elang

Di situlah kutemukan jejak-jejak untuk pulang

Ayahku, kini aku telah datang

Ayahku, lihatlah, aku sudah pulang

Andrea Hirata terkenal dengan karya-karya fenomenal seperti tetralogi Laskar Pelangi dengan penggunaan bahasa yang kaya akan deskripsi dan membuat pembaca merasa seolah-olah berada dalam kisah yang ditulisnya.

Dalam novel Ayah, Andrea mengisahkan tentang kasih sayang seseorang lelaki kepada anak yang bukan anak kandungnya sendiri. Rasa cinta yang besar terhadap sang anak membuatnya merasa bahwa tujuan Tuhan menghadirkan dirinya di dunia hanyalah untuk menjadi seorang ayah.

Novel ini menceritakan tentang seorang laki-laki bernama Sabari yang jatuh cinta dengan perempuan manis yang ia jumpai kala tes masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Sabari yang merupakan Isaac Newton-nya Bahasa Indonesia berhasil menyelamatkan Marlena, perempuan yang dicintai Sabari sehingga bisa diterima di SMA Negeri.

Cinta pada pandangan pertama namun bertepuk sebelah tangan, tak pernah sekalipun Marlena melirik ke arah Sabari meski banyak untaian puisi yang Sabari berikan kepada Marlena. Meskipun demikian Marlena adalah semangat Sabari, bahkan Sabari bisa menjadi apa pun yang Marlena inginkan, baginya Marlena adalah tujuan dia hidup.

Ratusan kali Sabari mengirimkan puisi, sebanyak itulah Marlena menolaknya. Tak menyerah Sabari akan cinta pertamanya meski ia tahu Marlena lebih memilih lelaki lain yang bisa dikatakan lebih enak dilihat daripada Sabari. Marlena dikisahkan sebagai perempuan yang banyak bermain dengan laki-laki, tak terhitung berapa banyak pria yang ditaklukkannya.

Hingga suatu hari Marlena mengandung entah anak dari siapa, dengan berani Sabari mengajukan diri dan siap bertanggung jawab untuk anak yang dikandung Marlena. Akhirnya mereka menikah, meski demikian masih Marlena mengacuhkan Sabari dan mengikuti kata hatinya untuk bebas. Ketika lahir anak Marlena membuat Sabari tak lagi terlalu memikirkan Marlena, anak itu telah mengubah dunia Sabari, jika dulu hanya Marlena maka anak yang bernama Zorro ini berhasil menggantikan posisi Marlena di hati Sabari. Segala kasih sayang Sabari berikan untuk anaknya yang rupawan ini.

Ditinggal Marlena Sabari masih sanggup, dikhianati Marlena Sabari bersabar, ditolak Marlena untuk kesekian kalinya Sabari masih kuat, tapi dipisahkan dengan Zorro membuat Sabari benar-benar gila. Orang tertawa ia menangis, orang menangis ia tertawa, ia telah kehilangan hidupnya ketika Marlena menuntut cerai dan mengambil Zorro secara sepihak kemudian menikah untuk kesekian kalinya.

Kisah ini berlatar belakang di pedalaman Belitong, dengan gaya bahasanya yang khas Andrea membawa pembaca masuk ke dalam lembaran-lembaran cerita. Membuat pembaca mengernyitkan dahi, emosi dan tertawa dengan tingkah polah tokoh-tokoh dalam cerita. Persahabatan yang kuat, cinta yang tak pernah luntur, kisah-kisah mengharukan yang tanpa sadar memotivasi orang lain agar tak pantang menyerah.

Bagaimana kisah Sabari selanjutnya? Akankah ia bertemu dengan anak yang sangat ia cintai? Akankah Sabari akan kembali bersatu dengan cinta pertamanya?

Dalam novel ini begitu banyak puisi-puisi yang berserakan dalam tiap lembarnya. Mewakili Sabari yang memiliki kecintaan akan puisi. Banyak kosa kata baru yang bisa pembaca temukan dalam kisah Ayah ini dan memperkaya perbendaharaan kata untuk pembaca.

Akhir yang tak terduga, Andrea benar-benar lihai dalam menyiratkan setiap kata sehingga membuat pembaca tak pernah menyadari seperti apa ending yang dibuat Andrea Hirata. Ketika membaca novel ini, pembaca seolah-olah merasa ada dua cerita berbeda yang dikisahkan Andrea padahal hanya satu, ibaratkan dua buah anak sungai yang terpisah kemudiah bertemu di ujungnya, seperti itulah novel ini. Tak tertebak dan sedikit membuat pembaca bingung, namun kalimat-kalimat yang dituliskan Andrea berhasil menyihir untuk tidak berhenti membuka lembaran-lembaran selanjutnya.

Oleh: Mujawaroh Annafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *