[Kolom]: Mereka Bilang Tipu-tipu

[Kolom]: Mereka Bilang Tipu-tipu

Beberapa minggu terakhir ini, UIN Suska tengah disibukkan dengan Pemilihan Raya (Pemira) untuk mencari Presiden dan Wakil Presiden Mahasiwa yang nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan menggantikan Insanul Kamil. Tentu saja mahasiswa-mahasiswa UIN Suska Riau berharap dengan adanya pemilihan raya ini akan membawa perubahan untuk UIN Suska kedepannya.

Ditengah bertumpuknya amanah yang akan diberikan mahasiswa-mahasiswa UIN Suska kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden yang terpilih, terjadi polemik. Pasalnya, Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) yang diketuai oleh Imam Zainuddin Daulay mengaklamasikan salah satu pasangan calon. Mengutip press release dari KPRM, pada poin tiga dijelaskan bahwa pengembalian berkas persyaratan dikembalikan pada tanggal 25 November 2017 dari pukul 09.00 s/d 16.59. Hanya tiga berkas yang dikembalikan. Kemudian KPRM mengumpulkan masing-masing tim sukses untuk menjelaskan teknis verifikasi pada pukul 17.00 WIB.

Pada poin empat dijelaskan bahwa tanggal 26 November 2017 merupakan hari untuk verifikasi berkas, tetapi pada saat waktu yang telah ditentukan, hanya satu pasangan calon yang lengkap. Sedangkan ada salah satu pasangan bakal calon yang tidak bisa mengikuti tes baca Al-Qur’an karena calon wakil presidennya sedang berada di Sumatera Barat. Sedangkan salah satu syarat verifikasi yang tertuang pada UU Pemira Bab III Pasal 7 Point N dan TAP KPRM Bab I Pasal 2 Point N yang menjelaskan bahwa pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden harus mengikuti tes membaca Al-Qur’an. Kemudian dilanjut dengan verifikasi berkas. Saat verifikasi, tiga pasangan calon tidak melengkapi berkas verifikasi maka dari KPRM memberikan waktu 1 x 24 jam untuk melengkapi berkas tersebut. Peraturan ini tertuang pada Bab III Pasal 8 Poin 3.

Di poin lima, hari minggu tanggal 27 November 2017 setelah diberikan waktu 1 x 24 jam, hanya satu pasangan bakal calon yang menyerahkan kelengkapan berkas. Setelah diverifikasi, persyaratan satu pasangan bakal calon ini dinyatakan lengkap. Verifikasi berkas tersebut disaksikan oleh masing-masing tim sukses dari pasangan calon, pengawas pemira, dan anggota Badan Legislatif Mahasiswa (BLM). Seluruh tim sukses yang ada di forum tersebut menyatakan bahwa berkas yang telah diverifikasi dianggap sah. Hanya satu pasangan calon yang melengkapi berkas, maka menurut UU Pemira Bab II Pasal 4 yang berbunyi ‘Bila hanya terdapat satu calon ketua dan wakil ketua BEM, maka proses pelaksanaan Pemira langsung masuk pada penetapan calon pemenang pada sidang pleno’. UU Pemira ini disebut aklamasi.

Terkait aklamasi, ada  pihak yang pro, ada juga yang kontra. Mereka bertikai. Saling dorong sana-sini untuk rebutan kekuasaan. Saling menjatuhkan agar golongannya menang. Seolah-olah kekuasaan adalah segalanya. Apakah mereka tidak tahu beratnya amanah sebagai presiden mahasiswa? Atau pura-pura tak tahu demi gengsi berlabel ‘Presiden Mahasiswa’? Mereka seakan tak tahu dengan tanggung jawab besar yang akan dipikul, tanggung jawab kepada seluruh mahasiswa UIN Suska Riau, tanggung jawab dunia akhirat.

Gagasan tak tinggal diam memberitakan terkait Pemira dari proses awal hingga sidang pleno. Tentu saja dari berbagai angle. Ada banyak wartawan Gagasan yang diturunkan untuk terjun langsung meliput Pemira. Gagasan juga beberapa kali menghubungi tim sukses dari pasangan M.Nuh dan Aspandra terkait pemberitaan, tapi dengan berbagai alasan, Farid (timses M.Nuh-red) menghindar. Lucunya, setelah beberapa kali diminta wawancara baik saat ditemui secara langsung dan lewat WhatsAap, ia selalu menghindar. Salah seorang wartawan Gagasan mendapat informasi bahwa Farid kondisinya sedang tidak fit dan kalau mau wawancara ke Ikhwansyah. Lah, kenapa saat ditemui secara langsung dia tidak bilang kalau mau wawancara jangan ke dia. Begitu juga dengan M.Nuh, beberapa kali dimintai wawancara tapi selalu tidak bisa.

Salah satu screeshoot saat menghubungi Farid.

Salah satu screeshoot saat menghubungi M.Nuh

 

Dan setelah berita-berita terkait pemira dipublikasikan, berbagai statement muncul. Mereka bilang Gagasan tipu-tipu. Mereka bilang Gagasan tak independent. Mereka bilang Gagasan memihak. Parahnya, yang berkomentar di sosial media Gagasan adalah akun-akun yang tak jelas siapa pemiliknya. Seolah melempar batu tapi sembunyi tangan, berkomentar tapi takut memakai akun pribadi.

Terkadang banyak narasumber yang menutup diri dari pers karena terlanjur menganggap pemberitaan media sebagai hantu yang menakutkan. Mengutip dari buku 50 tanya jawab tentang pers karya Agus Sudibyo halaman 44 yang menjelaskan bahwa menutup diri dari pers bukan pilihan yang bijak bagi para figure publik. Media massa bisa saja mempublikasikan berita yang belum terverifikasi dengan alasan pihak yang dimintai verifikasi menolak untuk diwawancarai, sementara berita tersebut bersifat mendesak untuk segera dipublikasikan kepada khalayak. Singkat kata, daripada dikerjai oleh sumber-sumber tertentu, lebih baik figure public membuka diri kepasa pers, bersedia diwawancarai. Gunakanlah hak untuk konfirmasi atau klarifikasi, sebelum berita-berita yang berpotensi menyudutkan atau merugikan anda terlanjur dipublikasikan!

Di halaman 46 disebutkan juga bahwa figure publik yang takut menghadapi pers biasanya adalah yang bermasalah dalam hal integritas dan kredibilitas. Jika merasa tidak bersalah, tidak membuat sesuatu yang merugikan publik, mengapa harus takut menghadapi pers? Semoga kedepannya, tidak ada lagi yang menolak diwawancarai Gagasan.

Tolong dipahami juga, banyak berita di Gagasan yang dipublikasikan itu bersifat follow up news. Follow up news ini adalah berita yang dipublikasikan dari satu pihak, kemudian akan ada berita selanjutnya dari pihak lainnya. Jadi kalau baca berita Gagasan, jangan hanya baca satu berita, tetapi baca juga keseluruhan berita yang bersangkutan. Jika berita dari pihak A sudah dipublikasikan, maka akan dipublikasikan dari pihak B.  Tapi jika pihak B menolak untuk diwawancara, lantas berita seperti apa yang bisa dipublikasikan?

Mereka juga menuduh Gagasan menghapus semua komentar yang menyudutkan Gagasan di akun media sosial milik Gagasan. Perlu diketahui, Gagasan punya peraturan bahwa admin yang memegang semua media sosial Gagasan tidak berhak menghapus semua komentar yang masuk. Coba dicek lagi dengan teliti, tidak ada komentar yang dihapus. Atau kalau mau bukti, Gagasan bisa memberikan screenshoot semua komentar yang masuk.

Ada kemungkinan lain jika tidak menemukan komentar itu lagi, bisa saja komentar itu dihapus sama sipemilik akun yang sudah berkomentar itu sendiri, lalu dia akan ‘berteriak-teriak’ seolah komentarnya dihapus oleh admin Gagasan. Lucu sekali! Gagasan juga bukan media yang anti kritik, tetapi berkritiklah dengan cara yang elegan. Berkritiklah dengan cara yang sopan, jangan memakai akun tanpa identitas. Gagasan akan menampung semua kritik yang masuk untuk terus mengembangkan diri menjadi lebih baik, tapi balik lagi, tentu saja Gagasan akan menerima kritik sepedas apapun itu, asal disampaikan atau diutarakan dengan cara yang elegan.

 

Penulis: Muthi Haura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *