What I Learned From Japan (?)

What I Learned From Japan (?)
  1. Education

Pola Jenjang sama dengan Indonesia yaitu 6-3-3 (SD-SMP-SMA).

Pada jenjang SD, kelas 1 sampai kelas 2 SD bobot pelajaran di sekolah cenderung pada kegiatan olahraga, seni, dan pendidikan moral. TIdak ada ujian kenaikan kelas atau ujian akhir karena di Jepang pendidikan SD adalah Compulsory Education, jadi jika siswa telah usai belajar di kelas 1 maka ia langsung bisa masuk ke kelas 2 tanpa ujian naik kelas. selain tidak ada ujian akhir untuk tamat SD sehingga siswa bisa langsung memilih SMP yang diminati. Pendidikan yang diterima siswa sejak kelas 1 hingga kelas 3 bertujuan untuk perkembangan fisik anak sejak dini, memahami pola – pola kehidupan dan nilai – nilai yang berlaku dalam kehidupan yang baik dan mandiri.

Pada jenjang SMP, sama seperti di SD tidak ada ujian kenaikan kelas dan ujian akhir, akan tetapi jika ingin memasuki SMA, siswa wajib ikut tes yang terstandar berdasarkan standar SMA yang diminati tersebut. Pada jenjang SMP siswa lebih dihadapkan pada pelajaran tentang bahasa Jepang, Matematika, IPA dan IPS. Pelajaran bahasa Inggris dan Jerman bisa dipelajari sebagai mata pelajaran pilihan.

Pada jenjang SMA, hampir sama seperti di Indonesia, siswa memilih spesifik jurusan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, akan tetapi berbeda dengan Indonesia yang mana siswa memilih jurusan pada saat siswa berada di kelas 2, di Jepang siswa dapat memilih jurusan pada saat siswa sudah kelas 3 yang mana jurusan tersebut dapat memilih jurusan seperti IPA, budaya/sosial, pertanian, perikanan, masyarakat dan lain – lain.

  1. The People

Discipline

Observasi yang dilakukan selama di Jepang mengenai karakter disiplin pada orang Jepang dapat dilihat dari beberapa kebiasaan yang memang dilakukan oleh orang Jepang yang berkaitan dengan mematuhi aturan, salah satu contoh seperti Pedestrian Traffic Light, jika di Indonesia kita sering melihat orang menyebrang jalan di Perkotaan tidak pada tempatnya (Jembatan atau Zebra Cross). Berbeda dengan orang – orang di Jepang, pada saat menyebrang Jalan orang Jepang akan pergi ke sudut jalan dan menunggu petunjuk instruksi rambu pejalan kaki. Hal yang unik yaitu pada saat malam hari kota distrik Koto di Tokyo sudah lumayan sepi dengan kendaraan. Para pejalan kaki tetap menunggu rambu pejalan kaki untuk hijau terlebih dahulu lalu menyebrang, padahal pada saat itu tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Budaya mengantre dan tepat waktu di Jepang juga sangat sulit ditemukan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa karakter disiplin orang Jepang benar – benar sangat istimewa dan patut untuk dicontoh.

Friendly

Pengalaman yang tidak terlupakan yaitu hangatnya orang – orang Jepang saat berinteraksi, interaksi disini bukan saja saat sedang berbicara dengan orang Jepang, namun juga pada saat momen – momen random seperti berpapasan, berselisih saat di jalan atau saat lewat di depan hadapan walaupun tidak mengenal, orang Jepang tidak segan untuk duluan mengatakan “sumimasen” yang artinya “permisi” atau “mohon maaf”. Selain itu, saat berkunjung ke Utsunomiya University, kami disambut bak teman lama yang baru berjumpa, saat berpisahpun para mahasiswa Jepang melambaikan tangan sambil mengejar bis kami hingga gerbang kampus.

Clean

Konsep “kirei” atau bersih di Jepang benar – benar mengagumkan, contoh yang diamati penulis yaitu seperti kota Tokyo yang hampir sama sekali tidak terpandang adanya sampah yang berserakan, dengan mengelilingi Tokyo malam hari saya melihat sendiri orang Jepang dengan setelan kantor yang rapih berjalan di depan saya lalu tiba – tiba berhenti, dengan penasaran saya memperhatikan bahwa orang tersebut ternyata memungut sampah plastik, lalu sampah tersebut ia masukkan ke dalam saku jasnya (saat itu memang tidak ada tong sampah disekitar). Selain pada lingkungan seperti taman dan jalanan, ternyata pada toilet umumpun orang Jepang tetap menjaga kebersihan, berdasarakan pernyataan dari beberapa sumber saat berada di Jepang, ternyata orang Jepang tidak akan keluar dari ruang toilet yang digunakannya sebelum ruang toilet itu bersih dan rapih, hal yang dilakukan orang jepang setelah memakai toilet umum biasanya seperti mengelap lantai toilet yang basah (kondisional) atau mengharumkan kembali ruang toilet tersebut (jika dirasa perlu).

Preffer to walk

Di jalanan Tokyo sendiri hampir tidak terlihat sama sekali orang mengendarai kendaraan pribadi, orang Jepang banyak memang lebih ramai memilih berjalan kaki di trotoar jalanan yang menggambarkan aktivitas kehidupan di Tokyo, selain dengan berjalan kaki orang Jepang biasanya juga menggunakan sepeda untuk sampai ke tempat tujuan. Selain itu karena kondisi cuaca di Jepang yang tidak ekstrim dapat membuat para pejalan kaki merasa nyaman saat berada di jalanan.

  1. Tech

Public Transportation

Jika dilihat dari majunya transportasi umum di Jepang, bisa dijadikan kewajaran kenapa orang – orang jepang jarang memiliki kendaraan pribadi untuk berpergian. Mewahnya fasilitas kendaraan umum seperti bus dan kereta yang biasa digunakan oleh orang – orang jepang untuk pergi sekolah, bekerja atau berpergian kemanapun.

Advanced AI

Saat saya pergi berbelanja ke sebuah swalayan, pembayaran tidak lagi dilayani oleh petugas sebagai kasir, melainkan otomatis dengan mesin yang bekerja dengan rapih untuk menghitung total perbelanjaan dan kalkulasi pembayaran serta kembalian. Walaupun ini hanya saya lihat di beberapa tempat, tapi ini benar – benar menunjukkan perkembangan Artificial Intelegence di Jepang sudah berada di tahap yang maju.

  1. Others

Farmers Autonomy

Jika di Indonesia hasil panen petani hampir seluruhnya tidak diolah oleh petani tersebut, melainkan dijual kepada suatu perusahaan untuk diolah menjadi produk lalu didistribusikan dengan brand perusahaan tersebut. Namun di Jepang sangat berbeda, dari hasil pernyataan staff JICE yang membimbing, para petani di Jepang memproduksi, mendistribusi, dan memberikan harga pada produknya sendiri. Singkatnya hasil panen petani di Jepang akan diolah menjadi produk dengan label mereka sendiri, lalu didistribusikan ke pasar dengan cara mengantar dan meletakkan sendiri produk mereka di ranjang penjualan di pasar dengan harga yang mereka telah tentukan sendiri.

 

Tulisan kiriman dari Anandhika Agus Saputra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *