Mengasihi Pohon, Mengasihi Kehidupan

Mengasihi Pohon, Mengasihi Kehidupan

Penulis: Irna Deviana dan Ikay Piyasta

Terkenang dalam ingatannya, memori tiga tahun yang lalu. Di negeri Kincir Angin di mana ia melihat burung-burung berterbangan di dekat kanal-kanal tanpa ada satu orang pun yang berniat menangkapnya. Serta anak-anak kecil yang mengerti bagaimana menyayangi makhluk lain baik itu hewan maupun hanya sekedar pohon. Kontras sekali dengan kota tempat tinggalnya, yang masa bodoh terhadap kelestarian lingkungan.

Berbicara tentang cinta alam bagi sebagian orang tak lebih dari berbicara masalah lingkungan yang semakin absurd—tak tahu ujungnya. Mencintai alam sering kali hanya menjadi sloganisasi sebagian orang. Tapi tidak dengan pria kelahiran 60 tahun yang lalu ini. Suhaimi namanya. Baginya, mencintai alam adalah mencintai kehidupan yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa.

Suhaimi rajin mencabuti paku yang tertancap di pohon.

Matahari masih terlihat enggan menampakkan dirinya di ufuk timur, tak berselang lama usai menunaikan kewajiban dua rakaatnya, pria paruh baya ini menghampiri sepeda ontel antik yang bertenggar di bagasi rumahnya. Di kereta angin itu tergantung tas kulit warna coklat berisi linggis dan sebatang kayu yang diletakkan di boncengan belakang. Kedua alat inilah yang menemaninya mencabuti paku-paku yang tertancap di pohon-pohon—saban akhir pekan. Tak lupa ia memakai topi lebar bundar favoritnya untuk menghindari panas atau sekedar bergaya.

Berbekal sebotol air putih dan buah-buahan, ia menelusuri jalan-jalan seraya melirik ke kiri-kanan, memperhatikan pohon-pohon di tepi jalan. Jika melihat paku tertancap di batang pohon, ia segera menghampiri dan mencabutinya.

Pilu sekaligus geram, itulah yang dirasakan Suhaimi ketika melihat pohon yang tertancap paku bekas spanduk. Ia bercerita, kala musim pemilu tiba maka begitu banyak spanduk yang bertebaran di mana-mana. Wajah-wajah para calon legislatif (caleg) terpampang hampir di setiap sudut kota, pemandangan ini merusak estetika kota, bahkan pohon tak bersalah pun terkena imbasnya.

Dia tak habis pikir, begitu banyak orang-orang dengan tanpa rasa bersalah memaku pohon-pohon untuk kepentingan komersil dan sebagainya. Akibatnya, pertumbuhan pohon jadi kurang bagus dan kerdil. Paku-paku yang tertanam dapat merusak batang dan membuat kekuatan pohon berkurang. pernah suatu kali ia mendapati satu pohon tertancap 46 paku di batangnya. Pohon-pohon yang digeroti paku itu biasa dia temukan di persimpangan jalan, tempat ini merupakan lokasi strategis bagi pengiklan untuk memajang spanduk agar dilirik masyarakat yang lalu lalang.

Suhaimi bersama  kru Gagasan saat mencabut paku di Jalan Arifin Achmad

“Pohon itu juga makhluk hidup, dan seharusnya kita menjaga kelestariannya,” ujar dosen Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau ini. Menurutnya pohon juga menjaga kehidupan manusia dari dampak polusi udara dan bencana alam, Pohon menyuplai oksigen bagi manusia dan menjadikan alam tampak asri dan terasa sejuk. Bagi Suhaimi, manusia dan pohon sama-sama memiliki hak hidup—dan juga berhak dikasihi.

Kegiatan cabut paku sudah dijalaninya sejak Maret 2016. Bermula dari kegiatan komunitas Ontel Pekanbaru yang diikutinya. Namun program yang digagas komunitas ini vakum sejak setahun lalu. Tapi Suhaimi tetap tergerak untuk melakukan rutinitas ini walau seorang diri. Ini dilakukan sembari berolaharaga di akhir pekan.

Suhaimi berharap kegiatan semacam ini dapat menginspirasi warga Pekanbaru untuk melakukan kegiatan serupa dengan penuh kesadaran menyayangi pohon sebagai sesama makhluk hidup. Untuk itu, Suhaimi sering mengunggah foto-foto kegiatannya di media sosial Facebook agar dilihat dan menjadi inspirasi untuk orang lain. Usahanya pun berhasil membuat teman-temannya mengikuti rutinitas Suhaimi. “Teman saya di kota-kota lain sudah mulai cabut paku rutin,” ujar Suhaimi.

“Saya ingin di mana-mana ada gerakan seperti ini, untuk menyelamatkan pohon,” tambah kakek satu cucu ini.

Rendahnya kesadaran masyarakat Pekanbaru dalam menjaga lingkungan, menjadikan wajah kota ini semakin semerawut. Ini niscaya menjadi cerminan kepribadian masyarakat Pekanbaru secara umum. Suhaimi bercerita bahwa pentingnya menjaga alam harus diajarkan sejak dini agar menjadi kultur masyarakat. Ia berpendapat, pemerintah dan lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam hal ini. Selain itu, anak-anak harus diajarkan menyayangi pohon sejak dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *