Merintis Gagasan Demi Perubahan

Merintis Gagasan Demi Perubahan

Penulis: Riyan Nofitra

Pukul 19.30 WIB. Awal Juni 2010. Gagasan berkunjung ke kediaman Anshari Kadir, Jalan Sembilang Indah, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. “Abang ada di dalam,” sambut istrinya. Rumah itu cukup besar, tapi masih dalam tahap pembangunan.

Di ruang tamu, Anshari tengah asik di depan laptop. Jarinya sigap mengetik satu persatu huruf. “Lagi nulis buku,” katanya. Tampaknya, ia sudah sedari tadi menunggu walau telat 30 menit, ia tetap menyambut dengan ramah.

Meski bekerja sebagai birokrat, Anshari tidak kehilangan naluri menulis. Sekarang, suami dari Helmi ini, tengah berusaha menulis buku ihwal perjalanan hidup. Judulnya: Membuka Lembaran Pagi, Sebuah Renungan Diri. Buku itu ditulis untuk mengenang masa lalunya.

***

Anshari lahir 1 Januari 1970 di Pasir Pengaraian. Ia tinggal di rumah kayu sederhana, tidak jauh dari bibir Sungai Rokan. “Rumah aku dekat dengan rumah Ahmad. Sekarang ia bupati Rokan Hulu,” katanya. Masa kecil ia lalui dengan kesederhanaan.

Ayahnya bekerja sebagai tukang angkat beras, sementara ibunya berjualan sayur keliling. Bila berangkat sekolah, ia mesti menyebrangi Sungai Rokan. Walau demikian, Anshari tidak patah arang untuk bisa sukses.

Ia berkisah, saat berumur tujuh tahun, ia menangis meminta dimasukkan sekolah kepada ibunya. “Macam mane nak sekolah, kite ni orang susah,” ucap ibunya. Namun karena terus didesak, pada esok harinya, ayahnya membawa Anshari ke SD di Pasir. Kepala sekolah menolak karena saat itu sudah pertengahan tahun. “Saye pun sekolah tahun depan, saat umur delapan tahun,” akunya.

Sejak SD, bakat menulis Anshari sudah tampak. Ia senang berkirim surat. Tidak tanggung-tanggung, ia kerap berbalas surat ke luar negeri. Satu hal yang tidak pernah terbayangkan olehnya saat ini. “Coba kalian bayangkan, berapalah besar anak SD, sudah berbalas surat ke luar negeri. Kalau dipikir-pikir, tidak terbayangkan oleh saye sekarang ni,” ucapnya.

Selain menulis, Anshari juga senang mendengar radio. Tidak hanya radio lokal, radio lintas dunia seperti NHK Jepang, radio Jerman dan ABC (Amsterdam Broadcast Center) Belanda pun didengarnya. Ia menulis surat ke radio tersebut. Sebab itulah, ia bisa berbahasa Jepang dan Belanda.

Saye bisa Bahasa Jepang, Jerman, dan Belanda. Waktu itu saye dikirim buku Bahasa Jepang oleh Radio NHK,” ujarnya sembari menunjukkan surat itu. “Ini dia suratnya.” Di kepala surat tertulis: Kepada Ananda Anshari Kadir.

Biasanya, Anshari kecil selalu singgah ke kantor pos sepulang dari sekolah. Saking seringnya ke kantor pos, petugas pos sudah paham bila Anshari datang kesana. “Ada surat balasan dari Jepang, Jerman, dan Belanda. Semue tu jadi kebanggan bagi saye saat itu,” katanya.

Sekolah sambil Siaran

Usai SD tahun 1984, penyuka beragam bacaan ini melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) Pasir Pangarain. Anshari terus mengembangkan bakat menulisnya: menjadi pengurus majalah dinding (mading). “Senang rasanya tulisan kita dibaca orang,” kata ayah dua orang anak ini.

Lepas MTSN tahun 1987, Anshari berniat merantau ke Pekanbaru. Ia melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN; setingkat SMA). Ia hidup ngekos. Jauh dari orang tua membuat Anshari remaja lebih mandiri. Ketertarikannya dibidang penyiaran, memacu semangatnya bekerja sebagai penyiar. Ia pun diterima bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Pekanbaru.

Alasannya, menjadi seorang penyiar bisa mempengaruhi orang banyak dengan kecakapan berkomunikasi. “Saye sering dengar RRI Pekanbaru. Saye masih ingat waktu itu penyiarnya Rismadiyanto. Saye coba bekerja di RRI. Saye senang menjadi penyiar karena bisa mempengaruhi orang,” katanya.

Ia mulai siaran di RRI. Saat itu ia memegang siaran anak muda; Gelanggang Pramuka, serta Yang Muda Yang Bekarya, setiap hari Minggu, jam 09.00 WIB. Sejak itu, Anshari mulai mandiri dalam urusan financial. Ia tidak lagi jalan kaki ke sekolah, begitu juga ke tempat kerja. Ia sudah mampu beli sepeda sendiri. “Saye beli sepeda balap waktu di PGA, ini dia kwitansinya masih ada, harganya seratus dua puluh ribu,” ujarnya sembari menunjukkan kwitansi lusuh itu kepada Gagasan.

Anshari memiliki hobi yang unik: senang menyimpan dokumen pribadi dari kecil hingga sekarang. Bahkan, buku pertamanya saat SD saja masih utuh. Begitu pula rapor dan perlengkapan pramukanya saat itu.

“Ini dia buku saye waktu SD, sudah tampak lusuh, nilainya sepuluh semua. Ini rapor SD, SMP, dan SMA, dan ini perlengkapan pramuka saat jadi utusan di Cibubur. Apapun dokumen yang dokumen yang sifatnya pertama kali dalam hidup, saye simpan,” kata Anshari sambil menyusun bundle dokumennya.

Meski sibuk kerja, Anshari tidak abai dengan sekolahnya. Ia juga mendulang prestasi cukup lumayan di PGA. Alhasil selama sekolah di sana, ia dapat beasiswa dari Yayasan Supersemar. “Setiap bulan dapat dua belas ribu lima ratus rupiah,” akunya.

Ikut Merintis Gagasan

Lulus PGAN tahun 1990, Anshari melanjutkan pendidikan ke IAIN Susqa Pekanbaru (sekarang UIN Suska Riau). Ia kuliah di Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Saat kuliah, Anshari merasa ada yang kurang dari kampusnya dibanding kampus lain. Rupanya ia tidak sendiri. Bersama Idris Ali dan Dinawati, teman kuliahnya, mereka berembuk guna mewujudkan koran kampus.

Setelah komitmen dan persamaan ide terbentuk, mereka pun mulai melobi berbagai pihak. Tidak ada hal mendasar melatar belakangi berdirinya pers kampus ini. “Saat itu koran kampus tak ada di IAIN. Di Riau ini yang ada Cuma Unri, namanya Bahana. Maka kami sepakat untuk buat koran kampus juga di IAIN,” katanya.

Tahun 1993, saat itu Anshari sudah bekerja di RRI. Idris Ali di Surat Kabar Mingguan Genta. Berbekal ilmu jurnalistik serta dukungan dari Pembantu Rektor III saat itu, Mujtahid Thalib, Gagasan sah berdiri dengan SK MENPEN RI. No 1950/SK/Ditjen PPG/STT/1993.

Menurut Anshari, Gagasan awalnya bernama Cakrawala. Namun karena dirasa kurang menarik, maka pengurus berinisiatif menggantinya jadi Gagasan. Tidak ada hal mendasar pergantian nama ini, nama Gagasan terlintas begitu saja.

Saat itu, Anshari Kadir memegang posisi koordinator liputan dan Idris Ali sebagai pemimpin redaksi. Memasuki tahun kedua, 1994, Anshari diutus mengikuti Temu Karya Pengelola Penerbitan Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia, di Tubu, Bogor, 22-25 Juni 1994. Setelah itu, penerbitan Gagasan terus dikembangkan.

Bersama Idris Ali, mereka berusaha membuat lebih baik. Ia mengakui, saat itu produk Gagasan belum menarik dibanding pers kampus IAIN lainnya. Masa itu, sebagian besar liputan pers kampus lain, terinspirasi dari Koran Detik. Tapi sayang, koran itu dibredel oleh pemerintah Soeharto. “Kritiknya terlalu tajam,” ujar Anshari.

Masa merintis dahulu, Anshari mengaku tidak ada masalah biaya cetak. Masalah saat itu, pers tidak bisa kritis seperti sekarang. “Karena masa itu masih zaman Orde Baru,” kelitnya. Proses penerbitan juga serba sulit, tidak ada komputer dan kantor khusus. Waktu itu, sekretariatan Gagasan digabung dengan senat mahasiswa institut. “Saat itu kami tidak berfikir masalah duit, yang terpenting, setelah terbit ada perubahan,” kata Anshari.

Jadi reporter Gagasan kala itu butuh kesabaran. Anshari mengenang, saat ngetik berita, ia mesti menyimpan kata-kata dalam kepala. “Ngetik  pakai mesin tik, kalau salah, cabut kertasnya, ganti kertas baru, ulang lagi ngetik dari awal. Jadi sebelum ngetik tu kita sudah susun kata-kata dalam kepala,” kenangnya.

Salah satu hal yang mengesankan, saat proses terbit, mereka mengetik dengan mesin ketik pribadi di rumah masing-masing. Setelah berita usai, ketikan diserahkan ke Pemimpin Redaksi, Idris Ali. “Bang Idris mengolah berita itu menggunakan DOS di kantor SKM Genta,” kata Anshari mengenang.

Selama di Gagasan, liputan yang paling berkesan menurutnya, yaitu tentang sikap cuek mahasiswa dan dosen saat adzan berkumandang. Liputannya ringan, tapi membawa perubahan di masyarakat kampus.

“Kritikan itu sifatnya membangun, setelah Gagasan terbit ada perubahan. Musala IAIN Susqa pun penuh saat tiba waktu salat,” ujar pria yang pernah menjadi ketua wartawan POLDA Riau ini.

Menjadi seorang jurnalis, suatu kebanggan bagi dirinya dan kawan-kawan saat itu. Mereka punya motivasi menulis, karena waktu itu, IAIN belum ada jurusan jurnalistik. “Yang ada cuma Syariah, Tarbiyah, da Ushluddin,” terangnya.

Masa itu, Gagasan juga menjalin kerja sama dengan perusahaan. Gagasan menyediakan rubrik pariwara, mengandeng Caltex. Meski demikian, pengurus Gagasan tetap profesional dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Anshari menjelaskan, waktu itu mereka juga meliput aksi unjuk rasa mahasiswa terhadap Caltex, ihwal kurangnya partisipasi Caltex terhadap masyarakat. “Kita berimbang menyajikan berita, yang baik terungkap, yang tidak baik juga terungkap,” jelasnya.

Gagasan saat itu mendapat apresiasi positif dari rektor. Banyak hal tentang kebijakan rektor, sulit disosialisasikan. Peluang ini diambil Gagasan. Sejak itu, ia dan teman-teman menjalin kesepakatan dengan rektor.  Pengumuman kelulusan mahasiswa baru, dan pengumuman penting lainnya, diumumkan lewat Gagasan.

Perlahan tapi pasti, Anshari melihat Gagasan semakin berkembang dengan masuknya generasi kedua. “Waktu itu, ada Ilzam Fauzi, Hendrik, Nazir Fahmi, Saidul Tombang, dan Mahyudin Yusdar,” terangnya. Ia senang melihat Gagasan sekarang, “Saye tak sangke jadi berkembang seperti sekarang, Gagasan hebat,” pujinya.

***

Sekarang ia bekerja di Biro Hukum Pemerintah Provinsi Riau. Ia juga aktif di gerakan pramuka sebagai sekretaris kwartir daerah. Ia sosok ramah dan senang berbagi cerita. Setiap perkataannya, kerap menjadi motivasi bagi lawan bicaranya.

 

*Tulisan ini sudah pernah terbit di Tabloid Gagasan Edisi 73 Juni 2010.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *