Nuansa Kekeluargaan

Oleh: Rico Mardianto

Suatu siang di tahun 2004, beberapa wartawan muda Gagasan sedang rapat penting di sekretariat LPM Gagasan. Mukhtar atau biasa disapa Muthe adalah orang yang merencanakan pertemuan siang itu.

Diskusi serius itu membahas kevakuman Gagasan yang berlangsung cukup lama di bawah kepemimpinan Muhammad Arif sebagai Pimpinan Umum dan Alnof Pimpinan Redaksi kala itu. Arif sapaan akrab Muhammad Arif sudah mulai jarang kelihatan batang hidungnya di sekre, begitu juga Alnof yang sudah mulai bekerja di media luar.

Dampaknya, kaderisasi Gagasan menjadi kurang maksimal. Kemampuan jurnalistik wartawan muda dan anggota magang tidak berkembang dan tabloid jarang terbit. Tak ingin membiarkan kondisi ini larut, Muthe dan kawan-kawan cari solusi untuk mengaktifkan kembali Gagasan.

Beberapa hal krusial dibahas dalam rapat tersebut. Akhirnya kesepakatan rapat yang paling urgen adalah “mengkudeta” Arif dan Alnof sebab sudah jarang berada di sekre Gagasan karena kesibukan lain. Dan mengangkat Muthe sebagai Pimpinan Umum dan Jeprison sebagai Pemimpin Redaksi.

Hasil rapat siang itu disampaikan kepada Arif dan Alnof. Dengan lapang dada, mereka menerima niat baik rekan-rekannya itu karena alasan kudeta yang disampaikan memang tepat. “Walaupun kami mengkudeta Arif, tapi yang membantu pencairan dana dia. Dia punya lobby yang kuat ke rektorat,” beber Jeprison atau biasa dipanggil Ojel kepada Gagasan. Namun Arif tetap di Gagasan, ia membantu me-layout tabloid.

***

Tahun 2000, Jeprison tamat sekolah menengah atas. Ingin lanjut ke bangku kuliah, terkendala dana. Orang tuanya tak mampu untuk membiayai kuliahnya. Namun niatnya untuk kuliah amat tinggi. Tak ada pilihan lain, ia harus menunda dulu keinginannya itu. Jalan satu-satunya, ia harus kerja dulu mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Selama tiga tahun ia bekerja di sebuah warung perlengkapan kantor di Pekanbaru, barulah ia bisa daftar kuliah dari tabungannya selama bekerja.

Ia lulus di jurusan D3 Pers dan Grafika Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Susqa Pekanbaru, sebelum melanjutkan S1 Ilmu Komunikasi di fakultas yang sama. Awalnya ia kuliah sambil tetap bekerja di warung tersebut. Namun karena kesibukan kuliah, terpaksa ia putuskan untuk berhenti kerja lantaran segan dengan majikan pemilik warung tempatnya bekerja.

Ia menganggur sebelum mendapatkan pekerjaan sambilan yang tidak mengganggu jadwal kuliah. Saat itulah ia merasakan masa-masa sulit tak memegang uang sepeser pun.

Mengharap kiriman orangtua hanya mimpi baginya, sedangkan untuk keperluan sehari-hari keluarganya di kampung saja pas-pasan. Betapapun susahnya hidup di rantau, ia tak ingin sapaikan kepada orangtuanya.

Pernah ia merasakan tak makan nasi selama dua hari. Hanya mi instan pengganjal perut. Padahal jarak rumah familinya dari sekretariat Gagasan tak jauh, tapi ia segan menyusahkan keluarga. Hanya di Gagasan-lah ia menumpang makan jika kawannya ada makanan atau alumni yang biasanya datang bawa makanan.

Apalagi waktu itu, dua seniornya di Gagasan, Aidil Haris dan Purwaji, yang sudah bekerja di media umum, cukup sering datang ke sekretariat Gagasan membawa makanan. Ia merasakan rasa kekeluargaan yang begitu kental di Gagasan. Susah dan senang dirasakan bersama. “Nuansa kekeluargaan di Gagasan erat, walaupun kadang ada kelahi-kelahi,” ujarnya.

“Angkatan kami enggak ada orang kaya. Rata-rata orang miskin semua. Tapi alumni enggak lepas tangan. Kalau habis gajian mereka datang, beli nasi, beli gorengan,” kenang Ojel.

Awal magang di Gagasan, Ojel dibina oleh Alnof. Waktu itu seorang senior mengkader dua anggota magang. Purwaji waktu itu bertugas menangani kaderisasi. Ojel juga banyak belajar dari Purwaji yang sudah kenyang pengalaman di dunia kewartawanan. Bahkan waktu itu Purwaji sudah bekerja di media luar, namun ia tetap peduli pada Gagasan, sehingga merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian dalam mengkader anggota magang.

Ojel magang di Gagasan selama setahun. Banyak pengalaman pahit dan manis ia rasakan selama di Gagasan. Pengalaman tak terlupakan sewaktu baru magang, ia bermasalah dengan salah satu kepala lembaga di kampus. Bermula dari sebuah isu miring yang berkembang di kalangan mahasiswa ketika itu.

Beredar isu bahwa di salah satu lembaga di IAIN Susqa bisa jual beli nilai. Ojel yang waktu itu masih baru magang di Gagasan mencoba konfirmasi isu tersebut kepada kepala lembaga terkait ketika ia baru selesai mengajar. Ojel enggan menyebutkan nama kepala lembaga tersebut.

Entah karena sedang lelah atau ada masalah lain, spontan Ojel langsung kena semprot oleh kepala lembaga yang langsung naik pitam ketika diwawancarai Ojel. “Ini mahasiswa sama dosen sama aja tukang fitnah. Kubunuh kau nanti,” ancamnya. Ojel kaget dan langsung lari keluar.

Waktu itu ia wawancara tanpa membawa alat rekam. Hanya membawa kertas HVS yang dilipat. Ketika keluar dari ruang kepala lembaga tersebut, karyawan dan dosen lain yang mendengar suara amarah tersebut terkejut dan bertanya padanya perihal apa yang terjadi, namun ia abaikan dan segera berlalu meninggalkan lokasi.

Sesampainya di sekre Gagasan, Ojel yang saat itu masih mahasiswa baru yang masih lugu dan belum pengalaman jadi wartawan, langsung tulis berita terkait ancaman yang ia terima, isinya seorang kepala lembaga kampus ancam bunuh wartawan Gagasan.

Tak lupa kejadian yang dialaminya, ia adukan ke teman-temannya di Gagasan dan alumni Gagasan. Datang Al Sukri dan Oong, seniornya di Gagasan, menemui kepala lembaga tersebut di ruangannya. “Betul Bapak ancam anggota kami?” tanya Oong, “iya, mau apa kalian?” tantang kepala lembaga tersebut sembari membanting kursi.

Tak terima dengan sikap arogan pejabat kampus itu, akhirnya seluruh anggota Gagasan yang berjumlah sekitar 20 orang demo ke lembaga kampus tersebut dan ke rektorat.

Menanggapi kejadian ini, akhirnya Pembantu Rektor III mendamaikan kedua belah pihak. Namun pejabat kampus tersebut tak mengakui telah mengancam anggota Gagasan. Permasalahan pun selesai sampai di ruang Pembantu Rektor III.

***

Pengalaman jalan-jalan sekaligus liputan ke Goa Mata Dewa di Pasir Pangaraian bersama anggota Gagasan lainnya menjadi kenangan manis bagi Ojel. Dari situlah hubungannya semakin akrab dengan Raja Qomariah Nur, yang sekarang menjadi istrinya. Sewaktu di Gagasan, ia pernah mengikuti pertemuan pers mahasiswa se-Indonesia di Bandung. Pengalaman tak terlupakan bagi Ojel, berbagi cerita dengan kawan-kawan sesama aktifis pers mahasiswa. Selain itu, ia pernah mengikuti pelatihan jurnalitik tingkat lanjut yang diadakan oleh Bahana Mahasiswa. Di sinilah ia mulai belajar jurnalisme sastrawi dan memahami Sembilan Elemen Jurnalisme, yang tidak dipelajari di bangku kuliah. Bagi Ojel, menjadi anggota Gagasan merupakan sebuah kebanggaan.

“Bedanya dengan organisasi lain, kita punya gengsinya. Kita punya nama, Gagasan. Kita mudah untuk akses ke orang lain. Orang lebih menghargai kita karena kita punya power itu,” sebutnya.

Banyak berita yang ditulisnya berpengaruh terhadap kampus. Salah satunya di tahun 2004, Gagasan menyoroti toilet di kampus UIN yang tidak terawat dan airnya mandek. Gagasan mengangkat berita soal dana pengelolaan toilet. Setelah beritanya dibaca warga kampus, besoknya semua WC menjadi bersih dan airnya lancar. Menjadi kepuasan batin bagi Ojel ketika berita yang ditulis mendapat tanggapan dari pihak pimpinan kampus.

Selain di Gagasan, Ojel juga aktif di Sanggar Latah Tuah. “Di Latah Tuah enggak pernah daftar, tapi dianggap anggota. Saya selalu ikut pertunjukan. Latah Tuah itu membantu saya. Secara tidak langsung, saya belajar dari bang Ade Darmawi. Bahasanya, patuahnya,” jelas Ojel yang juga menaruh minat di bidang seni dan budaya melayu.

Setelah cukup lama di posisi pimpinan redaksi hingga lima kali cetak tabloid dwi bulanan, ia mengundurkan diri dari keredaksian Gagasan lantaran sudah bekerja di media umum. Ini terpaksa ia lakukan karena tak ada pemasukan jika tak kerja. Februari 2006, ia bergabung di Rakyat Riau. Posisinya di Gagasan sebagai pemimpin redaksi digantikan oleh rekannya, Nofer. Sedangkan Muthe tetap sebagai pimpinan umum. Walaupun tak aktif lagi di Gagasan, ia tetap tinggal di sekretariat Gagasan. Namun tak mungkin ia akan tinggal di sekretariat selamanya.

Waktu demi waktu, generasi Gagasan silih berganti kepengurusan. Akhirnya ia angkut barang dari sekretariat Gagasan.

“Hampir menangis saya meninggalkan Gagasan. Lama saya termenung. Sudah lama juga saya di sini,” kenangnya. Banyak kenangan selama di Gagasan, bahkan ia mendapatkan jodoh di Gagasan. Perempuan itu adalah Raja Qomariah Nur, Bendahara Gagasan waktu itu.

“Lebih banyak ilmu jurnalistik saya dapatkan di Gagasan. Di kelas cuma belajar teori aja. Paling disuruh bikin berita. Kalau di Gagasan juga ada belajar teori,” ungkap Ojel.

Ojel adalah salah satu alumni Gagasan yang konsisten menekuni bidang jurnalistik. Karir kewartawanannya cepat naik. Dari reporter ke redaktur, tak lama kemudian ditunjuk sebagai koordinator liputan, namun jabatan itu ia tolak. Lalu diangkat jadi redaktur pelaksana hingga posisi terakhirnya di Rakyat Riau sebagai wakil pemimpin redaksi sebelum pindah ke Info Riau. Saat ini, ia diminta menjadi redaktur di Info Riau, koran baru yang dirintis Saidul Tombang, seniornya di Gagasan.

Ojel merasa bahwa ilmu jurnalistik yang sekarang menjadi modalnya sebagai wartawan berasal dari Gagasan. Bahkan dirinya merasa menyandang gelar sarjana dari “kuliah” yang dilaluinya di Gagasan. “Seandainya Gagasan itu mengeluarkan titel, kami pakai Gagasan itu,” tutupnya.

Tulisan ini pernah dinaikkan di majalah LPM Gagasan tahun 2014.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *