Dulu Hutan, Sekarang Desa Binaan

Dulu Hutan, Sekarang Desa Binaan

Penulis : Saan

gagasanonline.com :Masni Umar tidak pernah menyangka kalau hutan yang didiami oleh keluarganya akan terus berkembang. Awalnya hanya ada dua, atau tiga rumah pemukiman sederhana suku banjar. Lelaki kelahiran 1943 adalah generasi kedua dari masyarakat suku banjar yang berdomisili di Desa Harapan Jaya.

Saat itu mata pencarian masyarakat Desa Harapan Jaya berkebun karet dan bertani dengan cara tradisioal. Sistem pembukaan lahan dibuka dengan cara tradisional.

“ Pakai kampak. Habis tu ya dibakar,” ujar Masni Umar.

Beberapa tahun kemudian keluarganya dari suku Banjar mulai berdatangan ke Desa Harapan Jaya. Pemukiman pun mulai bertambah. Tepat pada bulan agustus tahun 1981 masyarakat Desa Harapan Jaya terus bertambah dengan datangnya tansmigrasi dari pulau jawa.

“Setelah itu, saya langsung diangkat jadi Kadus,” ujar Masni Umar.

Saat itu menurut Masni Umar kondisi desa Harapan Jaya tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Belum ada fasilitas yang dibangun oleh pemerintah didesa Harapan Jaya. Desa Harapan Jaya belum dikenal.

“Dulu pemda Inhil saja tak tau Desa Harapan jaya ada di Inhil,” ujar Rasidi, kepala desa Hrapan Jaya.,

Jauhnya lokasi Desa Harpan Jaya ditambah kondisi geografis yang didominasi oleh tanah gambut membuat desa Harapan Jaya tidak dikenal orang luar.

*****
Secara administrasi Desa Harapan Jaya berada di Kecamatan Tempuling Kabupaten Indragiri Hilir,Provinsi Riau Merupakan wilayah desa ex–‐transmigrasi yang dimulai pada 1980–‐an. Hampir 80% kawasan gambut yang rawan kebakaran. Tingginya persentase kebakaran lahan gambut di Riau menjadi pintu masuk Yayasan Mitra Insani (YMI) berada di desa Harapan Jaya.

Bagusnya kepemimpinan kepala desa Harapan Jaya serta adanya komitmen yang kuat dari masyarakat untuk berubah. Tepat pada tahun 2011 Hisam Setiawan dari Yayasan Mitra Insani (YMI) memilih Desa Harapan Jaya untuk dijadikan relasi dalam membangun desa.

Di Provinsi Riau tepatnya di Desa Harapan Jaya. Yayasan Mitra Insani (YMI) menjadi implementornya. Hisam Setiawan dari YMI sebagai Cordinator of SEApeat Project Indonesia Component.

Di Desa Harapan Jaya mereka mengembangkan sebuah konsep pengelolaan kawasan gambut yang berkelanjutan berbasiskan masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta peningkatan ekonomi masyarakat.

Menurut Hisam, pemilihan lokasi di Desa Harapan Jaya berdasarkan dua pertimbangan. Pertama kepemimpinan desa yang baik, kedua adanya komitmen masyarakat yang kuat.

“ Dalam mebangun desa harus semua masyarakat punya komitmen,” ujar Hisam, direktur YMI.

Setelah melakukan kerjasama antara YMI dan Pemerintahan Desa Harapan Jaya pada tahun 2011 silam. Ada banyak program berbasis masyarakat yang dibuat oleh YMI dan Pemerintah Desa Harapan Jaya. Tujuan program berbasis masyarakat agar semua masyarakat bisa ikut terlibat secara aktif dalam pembangunan Desa Harapan Jaya.

Selama periode 2011 hingga 2014 , kerjasama YMI dengan Pemerintah Desa Harapan Jaya telah berhasil membuktikan melalui pendekatan partisipatif dan didorong dengan komitmen masyarakat, upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut berbasiskan masyarakat dapat dilakukan.

Untuk melihat keberhasilan yang dimaksud, gagasan.co bersama beberapa wartawan datang ke desa itu.

****
Pada era pemerintahan soeharto tahun 1989 pembangunan irigasi dan pembuatan kanal di desa Harapan Jaya sudah dimulai. Tujuannya untuk mengatur perairan yang ada didesa harapan jaya, agar berdampak pada hasil panen dan ekonomi masyarakat. Sebab secara keseluruhan desa Harapan Jaya didominasi oleh tanah gambut, dan genangan air. Setelah pembangunan irigasi usai dilaksanakan genangan air dan siklus air didesa Harapan Jaya juga tidak berubah. Sebab kanal yang dibuat saat itu memotong garis kuntur.

Melihat kondisi desa Harapan Jaya yang tidak produktif serta tidak mengalami perubahan dibidang pertanian dan perekonomian. Pemerintah Desa Harapan Jaya bekerja sama dengan Yayasan Mitra Insani (YMI) membuat konsep sebuah desa tujuannya berbasis lingkungan dan melipatkan partisipasi masyarakat.

*****
Malam itu gagasan tiba dikecamatan Tempuling kabupaten Indaragiri Hilir. Untuk mencapai Desa
Harapan Jaya butuh waktu beberapa menit lagi. Sebab harus menyeberangi sungai indragiri terlebih dahulu menggunakan pompongan.Setelah tiba di dermaga Desa Harapan Jaya, Puluhan sepeda motor siap mengangkut awak media menuju balai desa. Setibanya dibalai Desa dilanjutkan dengan perkenalan.

Menurut Rasidi kepala desa Harapan Jaya , dulu desanya memang tidak dikenal. Dari segi infrastruktur Desa Harapan Jaya masih tertinggal. Terutama jalan dan listrik. Untung saja warga punya inisiatif membangun pembangkit listrik tenaga diesel secara swadaya.

Listrik tersebut menyala hanya dari jam enam sore hingga jam dua belas malam. Malam itu rombongan kami menginap di rumah warga dengfan cara dipencar. Saya menginap di rumah Sukar, warga transmigran gelombang pertama tahun 1981.

Malam itu Sukar dan istrinya bercerita banyak tentang Desa Harapan Jaya kepada gagasan. Menurut Sukar walau saat ini desanya belum memiliki fasilitas yang layak, namun Sukar tidak pernah menyangka Desa Harapan Jaya seperti saat sekarang ini.

“ Dipekarangan rumah dulu masih hutan,” cerita Sukar.

Jika dibandingkan dengan tahun 1981, menurut Sungkar Desa Harpan Jaya sudah ada kemajuan yang segnifikan. .Tahun awal mereka mendapat tanah 2 Ha untuk perkebunan ditambah pekarangan rumah. Padi menjadi tanaman utama saat itu. Tak jarang Sukar dengan warga yang lain mengalami gagal panen. Jatah untuk warga transmigran yang harusnya hanya 1,5 tahun diperpanjang hingga 2 tahun. Lantaran belum sanggup memenuhi kebutuhan hidup.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *